Monday, March 14, 2022

Bab 99 Novel Twilight (NEW MOON) – PEMAKAMAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 99 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PEMAKAMAN Bab 99

"Bella...?" tanya Jacob, suaranya gelisah. Aku mengeluarkan wajahku dari balik tangan dan melihat Jacob ragu-ragu di ambang pintu dapur; ternyata ia belum pergi seperti yang kukira. Setelah melihat tetes-tetes bening berkilauan di tanganku, barulah aku sadar bahwa aku menangis. Ekspresi tenang Jacob kini lenyap; wajahnya cemas dan tak yakin. Ia bergegas kembali dan berdiri di depanku, menunduk sehingga matanya dekat sekali dengan mataku.

"Aku melakukannya lagi, ya?"

"Melakukan apa?" tanyaku, suaraku pecah,

"Melanggar janjiku. Maaf."

"Tidak apa-apa," gumamku.

"Kali ini penyebabnya aku sendiri." Wajah Jake berkerut-kerut.

"Aku tahu bagaimana perasaanmu terhadap mereka. Seharusnya aku tidak kaget lagi." Aku bisa melihat perubahan di matanya. Ingin rasanya aku menjelaskan bagaimana Alice sesungguhnya, untuk melindunginya dari penghakiman Jacob, tapi seolah-olah ada yang mengingatkanku bahwa sekarang belum waktunya menjelaskan hal itu.

Maka aku hanya bisa berkata, "Maaf," sekali lagi.

"Bagaimana kalau kita tidak usah mempermasalahkannya lagi, oke? Dia hanya berkunjung, kan? Dia akan pergi, dan keadaan akan kembali normal."

"Tidak bisakah aku berteman dengan kalian berdua sekaligus?" tanyaku, suaraku tak mampu menyembunyikan kepedihan yang kurasakan. Jacob menggeleng lambat-lambat.

"Tidak, kurasa tidak bisa."

Aku mengisap ingus dan memandangi kakinya yang besar.

"Tapi kau mau menungguku, kan? Kau akan tetap menjadi temanku, walaupun aku juga menyayangi Alice?"

Aku tidak mendongak, takut melihat pikiran

Jacob berkaitan dengan kalimat terakhirku tadi. Jacob tidak langsung menjawab, jadi mungkin ada benarnya aku tidak melihat tadi.

Novel Twilight (NEW MOON)


"Yeah, aku akan selalu menjadi temanmu," katanya parau.

"Tak peduli siapa pun yang kausayangi."

“Janji?”

“Janji.” Aku bisa merasakan lengan Jacob meliukku, dan aku bersandar di dadanya, masih terisak-isak.

“Menyebalkan.”

"Yeah.” Kemudian Jacob mengendusi rambutku dan berseru,

“Hueek.”

“Apa!” sergahku. Aku mendongak dan melihat hidung Jacob mengernyit lagi.

"Mengapa semua orang bersikap begitu padaku? Aku kan tidak bau!” Jacob tersenyum sedikit.

"Ya. kau bau—baumu seperti mereka. Hah. Terlalu manis—manis memuakkan. Dan... dingin. Membakar hidungku."

"Sungguh?" Aneh.

Bau Alice wangi sekali. Bagi manusia, setidaknya.

"Tapi kalau begitu, mengapa Alice juga menganggapku bau sekali?" Senyum Jacob langsung lenyap.

"Hah. Mungkin baginya bauku juga tidak terlalu enak. Hah."

"Well, bau kalian baik-baik saja menurutku." Aku meletakkan kepalaku di dadanya lagi.

Aku akan sangat kehilangan Jacob kalau dia pergi meninggalkanku nanti. Seperti makan buah simalakama saja—di satu sisi aku ingin Alice tetap di sini selamanya. Aku bisa mati—secara metaforis—bila dia meninggalkanku. Tapi bagaimana aku bisa tahan hidup tanpa bertemu Jacob? Benar-benar kacau, pikirku lagi.

“Aku pasti akan merindukanmu," bisik Jacob, menyuarakan pikiranku.

"Setiap menit. Mudahmudahan sebentar lagi dia pergi."

"Tidak harus seperti itu, Jake." Jacob mendesah.

"Tidak, memang harus begitu, Bella. Kau... sayang padanya. Jadi lebih baik bila aku tidak dekat-dekat dengannya. Aku tidak yakin akan cukup bisa mengendalikan diri untuk menghadapinya. Sam pasti marah kalau aku melanggar kesepakatan, dan–"

nadanya berubah sarkastis—"mungkin kau juga tidak suka kalau aku membunuh temanmu.”

Aku terkejut mendengar perkataannya, tapi Jacob justru semakin mempererat lengannya, menolak melepaskanku.

"Tidak ada gunanya menghindari kebenaran. Memang begitulah keadaannya, Bells."

“Aku tidak suka keadaannya seperti itu." Jacob membebaskan satu tangan sehingga bisa mengangkat daguku dengan tangan cokelatnya yang besar dan memaksaku menatapnya.

"Yeah. Lebih mudah dulu, ketika kita masih sama-sama manusia, ya?"

Aku mendesah.

Kami saling memandang lama sekali. Tangannya panas membara di kulitku. Di wajahku, aku tahu tidak tergambar emosi apa pun kecuali kesedihan sendu—aku tidak ingin mengucapkan selamat berpisah sekarang, meski hanya sebentar. Mulanya wajah Jacob merefleksikan wajahku, namun ketika kami sama-sama tak mengalihkan pandangan, ekspresinya berubah.

Ia melepaskanku, mengangkat tangannya yang lain untuk membelai pipiku dengan ujung-ujung jari, terus hingga ke dagu. Aku bisa merasakan jari-jarinya bergetar—kali ini bukan karena marah. Ia menaruh telapak tangannya ke pipiku, sehingga wajahku terperangkap oleh kedua tangannya yang panas membara.

"Bella," bisiknya.

Aku membeku.

Tidak! Aku belum mengambil keputusan tentang ini. Entah apakah aku mampu melakukannya, dan sekarang aku sedang tak bisa berpikir. Tapi sungguh tolol jika aku mengira menolaknya sekarang takkan menghasilkan konsekuensi apaapa.

Aku membalas tatapannya. Ia bukan Jacob-ku. tapi ia bisa menjadi milikku. Wajahnya sangat kukenal dan kusayang. Dalam begitu banyak hal, aku memang mencintainya. Ia penghiburku, pelabuhanku yang aman.

Sekarang mi, aku bisa memilih untuk menjadikannya milikku. Alice memang sekarang kembali, tapi itu tidak mengubah apa-apa. Cinta sejari telah hilang selama-lamanya. Sang pangeran takkan pernah kembali untuk mengecupku dan membangunkanku dari tidur yang panjang.

Lagi pula, aku juga bukan seorang putri. Jadi apa protokol cerita dongeng untuk ciuman-ciuman lain?

Ciuman sepele yang tidak memusnahkan mantra? Mungkin akan mudah—seperti menggenggam tangannya atau dirangkul olehnya. Mungkin akan terasa menyenangkan. Mungkin tidak akan terasa seperti pengkhianatan.

Lagi pula, memangnya aku mengkhianati siapa? Hanya diriku. Sambil tetap menatap mataku, Jacob mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tapi aku masih belum bisa memutuskan.

Dering telepon membuat kami sama-sama melompat kaget, namun tidak membuyarkan konsentrasi Jacob. Ia menarik tangannya dari bawah daguku dan menyambar gagang telepon, tapi sambil tetap memegang pipiku dengan tangannya yang lain.

Matanya yang gelap tak beralih sedikit pun dari mataku. Pikiranku terlalu kacau untuk bisa bereaksi, bahkan mengambil kesempatan dari gangguan yang mendadak itu.

"Kediaman keluarga Swan," jawab Jacob, suara seraknya rendah dan dalam Seseorang menyahut, dan sikap Jacob sertamerta berubah. Ia menegakkan badan, dan tangannya terjatuh dari wajahku.

Matanya langsung berubah datar, wajahnya kosong, dan aku berani mempertaruhkan sisa dana kuliahku yang tidak seberapa bahwa yang menelepon itu pasti Alice.

Kesadaranku pulih dan tanganku terulur, meminta telepon. Jacob tak menggubrisku.

"Dia tidak ada di sini," jawab Jacob, dan katakatanya bernada garang.

Orang yang menelepon itu mengatakan sesuatu, sepertinya meminta tambahan informasi, karena Jacob menambahkan dengan sikap enggan,

"Dia sedang menghadiri pemakaman." Lalu Jacob menutup telepon.

"Dasar pengisap darah kurang ajar," gerutunya pelan. Ia kembali menunjukkan wajah yang seperti topeng getir itu.

Penutup Novel Twilight (New Moon)PEMAKAMAN Bab 99

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port PEMAKAMAN Bab 99 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya