Monday, March 14, 2022

Bab 98 Novel Twilight (NEW MOON) – PEMAKAMAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 98 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PEMAKAMAN Bab 98

18. PEMAKAMAN

AKU berlari cepat menuruni tangga dan menyentakkan pintu, membukanya.

Yang datang Jacob, tentu saja. Walaupun "buta", Alice tidak bodoh.

Ia berdiri nyaris dua meter dari pintu, hidungnya mengernyit tidak suka, tapi wajahnya tenang— seperti topeng. Meski begitu aku tidak termakan oleh sikapnya yang sok tenang; aku bisa melihat kedua tangannya gemetar pelan.

Amarah menjalari tubuhnya. Hal itu membuatku teringat pada siang tak menyenangkan ketika ia lebih memilih Sam ketimbang aku, dan aku merasakan daguku terangkat dengan sikap defensif sebagai respons.

Rabbit milik Jacob menunggu dengan mesin menyala di pinggir jalan, bersama Jared di balik kemudi dan Embry di kursi penumpang. Aku paham maksudnya: mereka takut membiarkan Jacob datang ke sini sendirian. Itu membuatku sedih, sekaligus agak jengkel. Keluarga Cullen tidak seperti itu.

“Hai,” sapaku akhirnya ketika Jarob tak juga bicara.

Jake mengerucutkan bibir, masih berdiri agak jauh dari pintu. Matanya menyapu bagian depan rumah. Aku menggertakkan gigi.

Novel Twilight (NEW MOON)


"Dia tidak di sini. Kau membutuhkan sesuatu?" Jacob ragu-ragu.

"Kau sendirian?"

"Ya." Aku mendesah.

"Boleh aku bicara sebentar denganmu?"

"Tentu saja boleh, Jacob. Silakan masuk."

Jacob menoleh memandangi teman-temannya di mobil. Kulihat Embry menggeleng sedikit. Entah mengapa, itu membuatku jengkel bukan main. Rahangku kembali terkatup rapat.

"Pengecut,” gumamku pelan.

Mata Jacob beralih lagi padaku, alisnya yang hitam tebal berkerut marah di atas matanya yang menjorok masuk. Rahangnya mengeras, dan ia berjalan mengentak-entakkan kaki—tidak ada istilah lain untuk melukiskan caranya berjalan— menghampiriku dan merangsek melewatiku masuk ke rumah.

Aku menatap Jared dan kemudian Embry dulu— aku tidak suka cara mereka menatapku tajam seperti itu; apakah mereka benar-benar mengira aku akan membiarkan Jacob dilukai?—sebelum menutup pintu di depan hidung mereka. Jacob berdiri di ruang depan di belakangku, memandangi onggokan selimut di ruang tamu.

"Pesta menginap nih?" tanyanya, nadanya sinis.

"Yeah," jawabku, sama ketusnya.

“Aku tidak suka melihat Jacob bertingkah seperti ini. "Memangnya kenapa?”

Jacob mengernyitkan hidungnya lagi, seperti mencium suatu yang tidak menyenangkan.

"Mana ‘teman’-mu?” Aku bisa mendengar tanda kutip dalam suaranya.

“Ada beberapa hal yang harus dia kerjakan. Dengar, Jacob, apa maumu?”

Ada sesuatu di ruangan ini yang kelihatannya membuat Jacob gelisah—kedua lengannya yang panjang bergetar. Ia tidak menjawab pertanyaanku. Ia malah beranjak ke dapur, matanya jelalatan. Aku mengikutinya. Ia mondar-mandir di depan konter dapur yang pendek.

"Hei." seruku, menghalanginya. Jacob berhenti mondar-mandir dan menunduk memandangiku.

"Apa masalahmu?"

"Aku tidak suka harus datang ke sini"

Ucapannya menyinggung perasaanku. Aku meringis, dan mata Jacob terpejam.

"Kalau begitu sayang sekali kau harus datang," gerutuku.

"Mengapa tidak langsung saja kausampaikan apa yang perlu kausampaikan supaya kau bisa pergi?"

“Aku hanya perlu mengajukan beberapa pertanyaan padamu. Tidak butuh waktu lama. Kami harus segera kembali untuk menghadiri pemakaman."

"Oke. Tanyakan saja" Aku mungkin terlalu berlebihan dalam menunjukkan sikap bermusuhan, tapi aku tidak mau Jacob melihat betapa menyakitkannya ini bagiku. Aku tahu aku tidak bersikap adil. Bagaimanapun, aku lebih memilih si pengisap darah ketimbang dia semalam.

Aku menyakitinya lebih dulu.

Jacob menghela napas dalam-dalam, dan jarijarinya yang gemetar mendadak diam. Wajahnya mulai tenang seperti topeng.

“Salah satu anggota keluarga Cullen menginap di sini bersamamu," ujarnya.

“Benar. Alice Cullen." Jacob mengangguk khidmat.

"Berapa lama dia akan berada di sini?"

"Selama yang dia inginkan." Nadaku masih menantang.

"Rumah ini terbuka baginya."

"Menurutmu bisakah kau... tolong...menjelaskan padanya tentang yang lain itu— Victoria?"

Wajahku memucat.

"Aku sudah bercerita padanya." Jacob mengangguk.

"Kau perlu tahu bahwa kami hanya bisa mengawasi wilayah kami sendiri dengan adanya seorang anggota keluarga Cullen di sini. Kau baru akan aman bila berada di La Push. Aku tidak bisa lagi melindungimu di sini."

"Oke," sahutku, suara nyaris tak terdengar. Jacob memalingkan wajah, memandang ke luar jendela. Ia tidak melanjutkan kata-katanya.

"Itu saja?"

Dengan mata tetap tertuju ke jendela, Jacob menjawab,

"Satu pertanyaan lagi." Aku menunggu, tapi ia tidak bicara juga.

"Ya?" desakku akhirnya.

"Apakah yang lain-lain juga akan kembali ke sini sekarang?" tanyanya, suaranya pelan dan tenang.

Mengingatkanku pada pembawaan Sam yang selalu tenang. Semakin hari Jacob semakin mirip Sam... aku heran sendiri mengapa itu membuatku merasa sangat terganggu.

Sekarang akulah yang diam saja. Jacob menoleh dan memandangi wajahku dengan mata menyelidik.

"Well?" tanyanya.

Susah payah ia berusaha menutupi ketegangan di balik ekspresinya yang tenang.

"Tidak," jawabku akhirnya. Dengan enggan.

"Mereka tidak akan kembali." Ekspresinya tidak berubah.

"Oke. Itu saja”. Kutatap dia dengan garang, kejengkelanku kembali membara.”Well, sekarang kau bisa pergi. Katakan pada Sam monster-monster mengerikan itu tidak kembali untuk menyerang kalian.”

“Oke,” ulang Jacob, tetap tenang. Sepertinya perkataanku itu menyinggung perasaannya. Jacob cepat keluar dari dapur. Aku menunggu mendengar bunyi pintu depan dibuka, tapi tidak terdengar apa-apa. aku bisa mendengar detak jarum jam di atas kompor, dan dalam hati aku mengagumi kemampuan Jacob bergerak tanpa suara.

Benar-benar kacau. Bagaimana mungkin aku bisa membuatnya menjauh dariku dalam waktu begitu singkat?

Apakah ia akan memaafkanku bila Alice sudah pergi nanti? Bagaimana kalau ia tidak memaafkanku?

Aku bersandar lemas ke konter dan mengubur wajahku dengan kedua tangan. Bagaimana aku bisa mengacaukan semuanya? Tapi apa lagi yang bisa kulakukan yang mungkin membuahkan hasil berbeda? Bahkan saat menoleh ke belakang, aku tak bisa memikirkan cara lain yang lebih baik, tindakan lain yang sempurna.

Penutup Novel Twilight (New Moon)PEMAKAMAN Bab 98

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port PEMAKAMAN Bab 98 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya