Monday, March 14, 2022

Bab 97 Novel Twilight (NEW MOON) – TAMU - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 97 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – TAMU Bab 97

Alice tetap tenang. "Silakan."

"Dia tidak bermaksud kembali ke sini untuk berkunjung, bukan?" Aku bisa mendengar amarah tertahan dalam suara Charlie. Alice menjawab dengan nada lembut dan menenangkan.

"Dia bahkan tidak tahu aku kemari.Terakhir kali aku bicara dengannya, dia sedang di Amerika Selatan”.

Tubuhku langsung tegang mendengar informasi baru ini, dan membuka telingaku lebar-lebar.

"Baguslah kalau begitu," dengus Charlie.

"Well, kuharap dia senang di sana."

Untuk pertama kali terdengar secercah nada kaku dalam suara Alice.

"Aku tidak akan berasumsi apa-apa, Charlie." Aku tahu bagaimana matanya berkilat bila ia menggunakan nada itu. Terdengar suara kursi didorong menjauhi meja, menggesek lantai dengan suara keras. Aku membayangkan Charlie berdiri; tak mungkin Alice menghasilkan suara seberisik itu. Keran diputar, airnya menciprat membasahi piring.

Sepertinya mereka tidak akan membicarakan Edward lagi, maka kuputuskan sekaranglah waktunya bangun.

Aku berbalik, sengaja membuat pegas sofa berderit. Lalu aku menguap dengan suara keras.

Suara-suara di dapur langsung terdiam. Aku menggeliat dan mengerang.

Novel Twilight (NEW MOON)


"Alice?" panggilku pura-pura lugu; suaraku yang parau karena tenggorokanku sakit membuat sandiwaraku semakin meyakinkan.

“Aku di dapur, Bella,” seru Alice, tak ada tandatanda dalam suaranya bahwa ia curiga aku menguping pembicaraan mereka tadi. Tapi ia memang pandai menyembunyikan hal-hal semacam itu.

Charlie harus berangkat saat itu—ia akan membantu Sue Clearwater mengurus segala sesuatu berkaitan dengan pemakaman Harry. Ini pasti akan jadi hari yang sangat panjang dan membosankan seandainya tidak ada Alice. Ia belum mengatakan kapan akan pergi, dan aku juga tidak bertanya. Aku tahu itu takkan bisa dihindari, tapi aku sengaja tidak mau memikirkannya. Kami malah mengobrol tentang keluarganya— semua kecuali satu.

Carlisle bekerja shift malam di Ithaca dan mengajar paruh waktu di Cornell. Esme merestorasi sebuah rumah yang didirikan pada abad ketujuh belas, sebuah monumen bersejarah, di hutan di utara kota. Emmett dan Rosalie sempat pergi berbulan madu lagi ke Eropa selama beberapa bulan, tapi sekarang sudah kembali.

Jasper juga berada di Cornell, kali ini belajar filosofi. Sementara Alice melakukan beberapa riset pribadi, berkaitan dengan informasi yang tanpa sengaja kutemukan untuknya musim semi lalu. Ia berhasil melacak keberadaan rumah sakit jiwa tempatnya menghabiskan tahun-tahun terakhirnya sebagai manusia. Kehidupan yang tidak diingatnya sama sekali.

"Namaku dulu Mary Alice Brandon," Alice bercerita padaku dengan suara pelan.

“Aku punya adik perempuan bernama Cynthia. Anak perempuannya—keponakanku—masih hidup dan tinggal di Biloxi.”

“Kau berhasil mengetahui alasan mereka memasukkanmu ke... tempat itu?” Apa yang membuat orangtua sanggup melakukan hal seekstrem itu? Walaupun putri mereka bisa melihat hal-hal yang akan terjadi di masa depan... Alice menggeleng, mata topaz-nya berpikir.

"Tak banyak yang bisa kutemukan mengenai mereka. Aku meneliti semua koran lama yang disimpan di mikrofilm. Keluargaku tidak sering disebut-sebut; mereka bukan bagian dari lingkaran sosial yang diberitakan di koran-koran. Yang ada hanya berita pertunangan kedua orangtuaku, juga pertunangan Cynthia," Nama itu diucapkan dengan sikap canggung.

"Kelahiranku juga diumumkan... begitu juga kematianku. Aku menemukan hiburanku. Aku juga mencuri formulir pendaftaranku ke rumah sakit jiwa dari arsip lama rumah sakit. Tanggal aku masuk ke sana dan tanggal di nisanku sama."

Aku tidak tahu harus mengatakan apa, dan, setelah terdiam sejenak, Alice beralih ke topik-topik lain yang lebih ringan.

Keluarga Cullen telah berkumpul lagi sekarang, kecuali satu orang, menghabiskan liburan musim semi di Denali bersama Tanya dan keluarganya.

Aku mendengarkan dengan penuh semangat, bahkan kabar-kabar yang paling remeh sekalipun. Alice tak pernah menyinggung orang yang paling menarik hatiku, dan aku mensyukurinya. Cukuplah mendengar cerita-cerita tentang keluarga yang dulu aku pernah bermimpi ingin menjadi bagian darinya.

Charlie baru kembali setelah hari gelap, dan ia tampak lebih lelah daripada malam sebelumnya. Ia akan kembali ke reservasi besok pagi-pagi sekali untuk menghadiri pemakaman Harry, jadi ia tidur lebih cepat. Aku tidur di sofa lagi bersama Alice.

Charlie nyaris terlihat seperti orang asing saat berjalan menuruni tangga sebelum matahari terbit, mengenakan setelan jas tua yang tak pernah kulihat sebelumnya. Jasnya dibiarkan tak dikancing; kurasa pasti karena terlalu sesak sehingga tidak bisa dikancing Dasinya agak terlalu lebar untuk mode saat ini Ia berjingkat-jingkat ke pintu, berusaha tidak membangunkan kami.

Kubiarkan ia pergi. Pura-Pura tidur, seperti yang dilakukan Alice di kursi malas. Begitu Charlie keluar, Alice langsung duduk tegak. Di bawah selimut, ia berpakaian lengkap.

"Apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanyanya.

"Entahlah—kau melihat hal menarik yang bakal terjadi?"

Alice tersenyum dan menggeleng.

"Tapi sekarang kan masih pagi sekali."

Sekian lama menghabiskan waktu di La Push berarti mengabaikan setumpuk pekerjaan di rumah, jadi aku memutuskan untuk membereskannya sekarang.

Aku ingin melakukan sesuatu, apa saja, agar hidup Charlie lebih mudah—mungkin membuatnya senang bila pulang dan menemukan rumah bersih dan rapi. Aku memulainya dari kamar mandi—ruangan itulah yang paling menunjukkan tanda-tanda tidak terurus.

Sementara aku bekerja, Alice bersandar di ambang pintu dan mengajukan pertanyaan remeh tentang, Well, teman-teman SMA kami seru apa saja yang mereka kerjakan semenjak ia pergi.

Wajahnya tetap tenang dan tanpa emosi, tapi aku bisa merasakan ketidaksukaannya waktu ia sadar betapa sedikitnya yang bisa kuceritakan padanya. Atau mungkin itu hanya perasaan bersalahku setelah menguping pembicaraannya dengan Charlie kemarin pagi.

Aku sedang sibuk berkutat dengan cairan pembersih, menggosok dasar bak mandi, waktu bel pintu berbunyi.

Aku langsung menoleh pada Alice, dan ekspresinya terperangah, nyaris waswas, hal yang aneh; Alice tidak pernah terkejut.

"Sebentar!" seruku ke pintu depan, berdiri, lalu bergegas ke wastafel untuk membasuh kedua lenganku.

"Bella," kata Alice dengan secercah nada frustrasi dalam suaranya,

"kurasa aku bisa menebak siapa yang datang itu, jadi kupikir ada baiknya kalau aku pergi."

"Menebak?" aku menirukan. Sejak kapan Alice harus menebak sesuatu?

"Bila ini pengulangan dari ketidakmampuanku melihat masa depan seperti yang terjadi kemarin, maka besar kemungkinan yang datang itu Jacob Black atau salah seorang... temannya." Aku menatap Alice, mulai paham.

"Jadi kau tidak bisa melihat werewolf?" Alice meringis.

"Sepertinya begitu." Jelas ia jengkel oleh fakta ini—sangat jengkel. Bel pintu berdering lagi—berbunyi untuk kedua kalinya, cepat dan tidak sabar.

"Kau tidak perlu pergi ke mana-mana, Alice. Kau yang lebih dulu berada di sini."

Alice mengumandangkan tawa kecilnya yang merdu itu— ada nada sinis di sana.

"Percayalah padaku—bukan ide bagus membiarkan aku berada dalam ruangan yang sama dengan Jacob Black."

Alice mengecup pipiku sekilas sebelum lenyap di balik pintu kamar Charlie—dan keluar dari jendela kamar bagian belakang, tak diragukan lagi. Bel pintu kembali berdering.

Penutup Novel Twilight (New Moon)TAMU Bab 97

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port TAMU Bab 97 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya