Monday, March 14, 2022

Bab 93 Novel Twilight (NEW MOON) – TAMU - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 93 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – TAMU Bab 93

17. TAMU

DIAM tak bergerak dan putih, dengan mata hitam besar terpaku di wajahku, tamuku menunggu, bergeming di tengah ruang depan, cantik luar biasa.

Sesaat lututku gemetar, dan aku nyaris rubuh. Detik berikutnya aku menghambur menghampirinya.

"Alice, oh, Alice!" pekikku, menubruknya. Aku lupa betapa kerasnya tubuh Alice; rasanya seperti menabrak dinding semen.

"Bella?" Suara Alice lega bercampur bingung.

Aku memeluknya erat-erat, terengah-engah karena berusaha menghirup sebanyak mungkin aroma kulitnya. Baunya lain dari yang lain—bukan beraroma bunga ataupun rempah-rempah, juga bukan wangi jeruk ataupun musk.

Tak satu parfum pun di dunia ini yang bisa menandinginya. Ingatanku tidak bisa mengingatnya dengan tepat. Aku tidak sadar saat napasku yang terengahengah berubah menjadi sesuatu yang lain – aku baru sadar bahwa aku menangis tersedu-sedu ketika Alice menyeretku ke sofa ruang tamu dan menarikku ke pangkuannya.

Novel Twilight (NEW MOON)


Rasanya seperti meringkuk dalam pelukan patung baru, tapi lekukan tubuh patung batu itu pas benar dengan bentuk tubuhku. Alice mengusap-usap punggungku dengan lembut, menungguku menguasai diri kembali.

"Aku... maafkan aku," isakku.

"Aku hanya... sangat bahagia... bertemu denganmu!"

"Sudahlah, Bella. Semua baik-baik saja."

"Ya," isakku. Dan, kali ini, sepertinya memang begitu.

Alice mendesah.

"Aku sudah lupa betapa emosionalnya kau," katanya, nadanya terdengar tidak suka.

Aku mendongak dan memandangnya dari selasela air mataku. Leher Alice tegang, menjauhiku, bibirnya terkatup rapat. Matanya hitam kelam.

"Oh" aku mengembuskan napas, menyadari masalahnya. Alice haus. Dan aromaku menggoda. Sudah lama sekali aku tak pernah lagi memikirkan hal semacam itu.

"Maaf."

"Ini salahku sendiri. Sudah lama sekali aku tidak berburu. Seharusnya aku tidak membiarkan diriku sehaus itu. Tapi aku terburu-buru hari ini." Tatapannya yang diarahkan padaku sangat garang.

"Omong-omong, maukah kau menjelaskan padaku bagaimana caranya sampai kau masih hidup?" Pertanyaan ini membuatku kaget dan langsung menghentikan sedu-sedanku.

Aku langsung menyadari apa yang terjadi, dan mengapa Alice datang ke sini.

Aku menelan ludah dengan suara keras.

"Kau melihatku jatuh."

"Tidak," sergah Alice, matanya menyipit.

"Aku melihatmu melompat.”

Aku mengerucutkan bibir sambil berusaha memikirkan penjelasan yang tidak terdengar sinting.

Alice menggelengkan kepala.

"Sudah kubilang padanya ini bakal terjadi, tapi dia tidak percaya padaku. 'Bella sudah berjanji,” Alice menirukan suara Edward dengan sangat sempurna hingga membuatku membeku shock saat kepedihan merobek tubuhku.

"Jangan mencoba melihat masa depannya juga," sambung Alice, masih mengutip kata-kata Edward.

"Kita sudah cukup membuatnya menderita.”

"Tapi meski tidak mencari, bukan berarti aku tidak melihat," lanjut Alice.

"Aku bukannya mengawasimu, sumpah, Bella. Hanya saja sudah terjalin hubungan batin denganmu, jadi... waktu aku melihatmu melompat, tanpa pikir panjang aku langsung naik pesawat. Aku tahu pasti sudah terlambat, tapi aku tidak bisa tidak melakukan apa-apa. Kemudian aku sampai di sini, berpikir mungkin aku bisa membantu Charlie, dan tahutahu kau datang." Alice menggeleng-gelengkan kepala, kali ini karena bingung.

Suaranya tegang. "Aku melihatmu tercebur ke air dan aku menunggu dan menunggumu muncul kembali, tapi kau tidak keluar-keluar juga. Apa yang terjadi? Dan tega benar kau berbuat begitu kepada Charlie? Pernahkah kau berhenti sejenak untuk memikirkan dampaknya bagi dia? Dan bagi kakakku? Apa kau pernah berpikir apa yang Edward—"

Aku langsung memotongnya saat itu juga, begitu mendengarnya menyebut nama Edward. Tadi kubiarkan saja dia nyerocos, bahkan setelah aku sadar dia salah paham, hanya untuk mendengar suaranya yang bagaikan denting lonceng merdu itu. Tapi sekarang sudah saatnya menyela.

"Alice, aku bukan mau bunuh diri.” Alice menatapku ragu.

"Jadi maksudmu, kau tidak terjun dari tebing?"

"Bukan, tapi..." aku meringis.

"Itu kulakukan hanya untuk bersenang-senang." Ekspresinya mengeras.

"Aku pernah melihat teman-teman Jacob terjun dari tebing," sergahku.

 

"Kelihatannya... asyik, dan aku sedang bosan..." Ia menunggu.

 

"Aku tidak mengira badai akan memengaruhi arus air. Sebenarnya, aku bahkan tidak memikirkan air sama sekali."

Alice tidak percaya begitu saja. Kentara sekali ia masih mengira aku mencoba bunuh diri. Kuputuskan untuk mengalihkan pikirannya.

“Jadi kalau kau melihatku terjun, mengapa kau tidak melihat Jacob?”

Alice menelengkan kepalanya ke satu sisi, perhatiannya terusik.

Aku melanjutkan.

"Memang benar aku mungkin sudah tenggelam seandainya Jacob tidak melompat menyusulku. Well, oke, bukan mungkin lagi. Tapi untunglah dia menyusulku, dan dia menarikku ke permukaan, dan kurasa dia menyeretku ke pantai, walaupun saat itu aku pingsan jadi tidak tahu apaapa. Aku tidak mungkin tenggelam lebih dari satu menit sebelum dia menyambarku. Bagaimana kau bisa tidak melihatnya?"

Kening Alice berkerut bingung.

"Ada orang yang menarikmu keluar?"

"Ya. Jacob menyelamatkan aku."

Kutatap Alice dengan sikap ingin tahu sementara berbagai emosi berkecamuk di wajahnya. Ia merasa terganggu oleh sesuatu—visinya yang tidak sempurna? Tapi aku tak yakin. Kemudian ia mencondongkan tubuh dan mengendus bahuku.

Aku langsung mengejang.

"Jangan konyol," kecamnya, mengendusiku lagi.

"Kau sedang apa?"

Alice mengabaikan pertanyaanku.

"Siapa yang bersamamu barusan? Kedengarannya kalian tadi bertengkar."

"Jacob Black. Dia... sahabatku, begitulah. Setidaknya, dulu..." Ingatanku melayang pada wajah Jacob yang marah dan merasa dikhianati, bertanya-tanya dalam hati apa statusnya bagiku sekarang.

Alice mengangguk, sepertinya sibuk memikirkan hal lain.

"Apa?"

"Entahlah," tukasnya.

"Aku tak yakin itu berarti apa."

"Well, aku tidak tewas, setidaknya."

Alice memutar bola matanya.

“Sungguh tolol Edward, mengira kau bisa bertahan hidup sendirian. Belum pernah kulihat orang yang begitu mudah tersangkut pada hal-hal tolol yang mengancam nyawa."

"Aku bertahan kok," tegasku.

Alice memikirkan hal lain.

"Jadi, kalau arus air terlalu kuat bagimu, bagaimana Jacob ini bisa menolongmu?"

"Jacob itu... kuat"

Alice mendengar keengganan dalam suaraku, dan alisnya terangkat.

Penutup Novel Twilight (New Moon)TAMU Bab 93

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port TAMU Bab 93 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya