Saturday, March 12, 2022

Bab 87 Novel Twilight (NEW MOON) – TEKANAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 87 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – TEKANAN Bab 87

Aku berusaha keras menahan napas, mengunci bibir rapat-rapat untuk mempertahankan persediaan oksigen terakhir yang masih tersisa.

Tak mengherankan bila delusiku menghadirkan Edward di sana. Sudah sepantasnya, mengingat sebentar lagi aku bakal mati. Aku justru heran menyadari betapa pastinya pengetahuan itu. Aku akan tenggelam. Aku sedang tenggelam.

"Berenanglah terus!" Edward memohon dengan panik dalam pikiranku.

Ke mana? Tidak ada apa-apa kecuali kegelapan.

Tidak ada tempat ke mana aku bisa berenang.

“Hentikan itu!” perintahnya.

“Jangan beraniberani menyerah!”

Air yang dingin membuat lengan dan kakiku mati rasa. Aku tak lagi merasakan pukulan bertubi-tubi seperti tadi. Yang kurasakan sekarang hanya pusing, berpusar-pusar tak berdaya di dalam air.

Tapi aku mendengarkan kata-katanya. Kupaksa kedua lenganku untuk terus menggapai-gapai, kakiku untuk menendang lebih kuat, meski setiap detik aku dihadapkan pada arah yang baru. Gawat.

Novel Twilight (NEW MOON)


Apa gunanya?

"Berjuang!" teriaknya.

"Sialan, Bella, berjuanglah terus."

Kenapa?

Aku tidak ingin berjuang lagi. Dan bukan karena kepalaku terasa ringan, atau karena kedinginan, atau karena otot-otot lenganku gagal berfungsi karena kelelahan, yang membuatku merasa cukup senang berada di tempatku sekarang. Aku nyaris bahagia karena semua akan berakhir.

Ini kematian yang lebih mudah daripada kematian-kematian lain yang pernah kuhadapi. Kedamaian yang ganjil. Aku sempat berpikir tentang hal-hal klise, tentang bagaimana kau seharusnya melihat kembali sekilas perjalanan hidupmu.

Ternyata aku jauh lebih beruntung. Siapa pula yang ingin melihat pemutaran ulang?

Aku melihat dia, dan aku tidak ingin lagi berjuang. Begitu jelas, jauh lebih nyata daripada kenangan mana pun. Alam bawah sadarku menyimpan kenangan akan Edward dalam detail sempurna, menyimpannya untuk momen terakhir ini.

 Aku bisa melihat wajahnya yang sempurna seolah-olah ia benar-benar di sana; kulitnya yang sedingin es dalam nuansa warna yang tepat, bentuk bibirnya, garis dagunya, kilatan emas di matanya yang berapi-api. Wajar saja ia marah, karena aku menyerah.

Rahangnya terkatup rapat dan cuping hidungnya kembang-kempis oleh amarah.

"Tidak! Bella, tidak!"

Telingaku dibanjiri air yang membekukan, tapi suaranya terdengar lebih jelas daripada biasa. Aku mengabaikan kata-katanya dan berkonsentrasi mendengarkan suaranya.

Untuk apa berjuang jika aku sudah merasa sangat bahagia dalam keadaanku sekarang ini? Bahkan saat paruparuku seperti dibakar karena membutuhkan asupan udara dan kakiku kejang karena air yang sedingin es, aku justru merasa bahagia. Aku sudah lupa bagaimana rasanya kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kebahagiaan. Itu membuat kematian jadi bisa dihadapi dengan lapang dada.

Arus menang saat itu, mendorongku dengan kasar membentur sesuatu yang keras, batu yang tak kelihatan dalam gelap. Benda itu menghantamku dengan keras di bagian dada, membenturku seperti batang besi, dan udara melesat keluar dari paru-paruku, meledak dalam bentuk gumpalan gelembung perak tebal.

Batang besi itu seperti menyeretku, menarikku menjauhi Edward, semakin dalam ke dasar samudra yang gelap.

Selamat tinggal, aku cinta padamu, adalah hal terakhir yang kupikirkan.

Penutup Novel Twilight (New Moon)TEKANAN Bab 87

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port TEKANAN Bab 87 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.


Selanjutnya
Sebelumnya