Tuesday, March 8, 2022

Bab 73 Novel Twilight (NEW MOON) – PEMBUNUH - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 73 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PEMBUNUH Bab 73

Logis atau tidak aku terus saja membayangkan wajahnya yang damai, berusaha menemukan jawaban, mencari cara untuk melindunginya, sementara langit perlahan-lahan berubah warna menjadi kelabu.

"Hai, Bella."

Suara Jacob datang dari kegelapan dan membuatku kaget. Suaranya lirih, nyaris malumalu, tapi karena aku mengira bakal mendengar kedatangannya dari suara batu-batu yang terinjak, tetap saja suara itu membuatku kaget. Tampak olehku siluetnya membelakangi matahari terbit— kelihatannya besar sekali.

"Jake?"

Jacob berdiri beberapa langkah jauhnya, bergerak-gerak gelisah.

“Kata Billy kau datang mencariku—tidak butuh waktu lama, kan? Sudah kukira kau pasti bisa menebaknya."

"Yeah, aku ingat ceritanya sekarang," bisikku. Lama tidak terdengar apa-apa dan, walaupun masih terlalu gelap untuk bisa melihat jelas, kulitku bagai tergelitik seolah-olah mata Jacob mengamati wajahku lekat-lekat.

Pastilah sudah cukup terang bagi Jacob untuk melihat ekspresiku, karena waktu ia bicara lagi, suaranya mendadak berubah sinis.

"Kau toh bisa menelepon saja," sergahnya kasar. Aku mengangguk.

Novel Twilight (NEW MOON)


"Memang." Jacob mulai mondar-mandir di atas bebatuan. Kalau kubuka telingaku lebar-lebar, aku bisa mendengar suara langkah kakinya menginjak bebatuan di balik debur ombak. Batu-batu berderak seperti kastanyet di telingaku.

"Mengapa kau datang?" tuntutnya, tak menghentikan langkah-langkahnya yang marah.

"Kupikir lebih baik kita bertemu langsung."

Jacob mendengus. "Oh, jauh lebih baik."

"Jacob, aku harus memperingatkanmu—"

"Tentang para polisi hutan dan pemburu?

Jangan khawatir. Kami sudah tahu."

"Jangan khawatir?" tuntutku tak percaya.

"Jake, mereka membawa senapan! Mereka juga memasang perangkap dan menawarkan hadiah uang dan—"

"Kami bisa menjaga diri," geramnya, masih terus mondar-mandir.

"Mereka takkan bisa menangkap apa-apa. Mereka hanya membuat keadaan lebih sulit—sebentar lagi mereka juga akan menghilang."

"Jake!" desisku.

“Apa? Memang kenyataannya begitu kok." Wajahku pucat saking jijiknya.

"Bisa-bisanya kau... merasa seperti itu? Kau kenal orang-orang ini. Charlie juga ikut!” Pikiran itu membuat perutku mulas.

Langkah Jacob langsung berhenti.

"Apa lagi yang bisa kami lakukan?” semburnya.

Matahari mengubah awan-awan menjadi merah muda keperakan di atas kami. Aku bisa melihat ekspresinya sekarang; wajahnya marah, frustrasi, merasa dikhianati.

“Bisakah kau..., Well berusaha untuk tidak menjadi... werewolf?” aku menyarankan sambil berbisik.

Jacob melontarkan kedua tangannya ke udara.

"Kayak aku punya pilihan saja!" teriaknya.

"Dan apa gunanya itu, kalau kau justru khawatir orangorang akan menghilang?" “Aku tidak mengerti."

Jacob menatapku garang, matanya menyipit dan mulutnya terpilin membentuk seringai.

"Tahukah kau apa yang membuatku sangat marah?” Aku terkejut melihat ekspresinya yang garang. Jacob sepertinya menunggu jawaban, maka aku pun menggeleng.

"Kau ini benar-benar munafik, Bella—lihat saja, kau duduk di sana, takut padaku! Apakah itu adil?" Kedua tangannya gemetar oleh amarah.

"Munafik? Mengapa takut pada monster berarti aku munafik?"

“Ugh!” erang Jacob, menekankan tinjunya yang gemetar ke pelipis dan memejamkan mata rapatrapat.

"Coba dengar omonganmu sendiri!"

"Apa?"

Jacob berjalan dua langkah mendekatiku, mencondongkan tubuh di atasku dan menatapku

berapi-api. "Well, aku menyesal aku tidak bisa menjadi monster yang tepat untukmu, Bella. Kurasa aku tidak sehebat si pengisap darah itu, bukan?''

Aku melompat berdiri dan balas memandangnya dengan sorot berapi-api juga.

"Tidak, memang tidak!" teriakku.

"Masalahnya bukan siapa kau, tolol, tapi apa yang kaulakukan!"

"Apa artinya itu?" raung Jacob, sekujur tubuhnya gemetar menahan marah. Aku kaget bukan kepalang waktu mendadak terdengar suara Edward mewanti-wantiku.

"Berhati-hatilah, Bella," suaranya yang selembut beledu mengingatkan.

"Jangan paksa dia. Kau harus menenangkannya."

Bahkan suara di kepalaku bersikap tidak masuk akal hari ini.

Tapi aku tetap menurutinya. Aku rela melakukan apa saja demi suara itu. "Jacob," aku memohon, mengubah nada suaraku jadi lembut dan datar.

"Apakah benarbenar perlu membunuh orang, Jacob? Apakah tidak ada cara lain? Maksudku, kalau vampir bisa mencari jalan lain untuk bertahan tanpa membunuh orang, masa kalian tidak bisa mencobanya juga?"

Jacob tertegak kaget, seolah-olah kata-kataku tadi menyetrum sekujur tubuhnya. Alisnya terangkat dan matanya membelalak lebar. "Membunuh orang?" tuntutnya.

"Memangnya kaupikir kita sedang membicarakan apa?"

Tubuh Jacob sudah tidak gemetar lagi. Kini ia menatapku dengan sikap tak percaya bercampur harap-harap cemas. "Kusangka kita sedang berbicara tentang perasaan jijikmu terhadap werewolf!”

"Tidak, Jake, bukan. Masalahnya bukan karena kau... werewolf. Itu bukan masalah,” aku berjanji padanya, dan aku tahu saat mengucapkan katakata itu bahwa aku bersungguh-sungguh.

Aku benar-benar tak peduli bila ia berubah menjadi werewolf—dia tetap Jacob.

"Kalau kau bisa mencari jalan untuk tidak melukai orang-orang... hanya itu yang aku tidak suka Mereka tidak berdosa Jake, orang-orang seperti Charlie, dan aku tak mungkin menutup mata sementara kau—" "Hanya itu? Sungguh?” Jacob menyela katakataku, senyumnya merekah.

“Kau takut karena aku ini pembunuh? Hanya itu alasanmu?"

"Apakah itu belum cukup?" Tawa Jacob meledak.

"Jacob Black, ini sangat tidak lucu!"

"Memang, memang," Jacob sependapat, masih terus terbahak bahak.

Ia melangkah lebar-lebar dan meraup tubuhku, memelukku erat-erat.

"Kau benar-benar sungguh-sungguh, tidak keberatan kalau aku bermetamorfosis menjadi anjing raksasa?" tanyanya, suaranya terdengar bahagia di telingaku.

"Tidak," aku terkesiap. "Tidak—bisa—napas— Jake!"

Jacob melepaskan pelukannya, tapi meraih kedua tanganku.

"Aku bukan pembunuh, Bella." Kutatap wajahnya dengan saksama, dan tampak jelas itu benar. Perasaan lega meliputiku.

"Sungguh?" tanyaku.

"Sungguh," janji Jacob dengan sikap khidmat.

Kuangkat kedua lenganku dan kupeluk dia. Mengingatkanku pada hari pertama kami menjajal motor—tapi tubuhnya lebih besar sekarang, dan aku merasa lebih seperti kanak-kanak. Seperti waktu itu juga, ia membelai rambutku.

“Maaf aku mengataimu munafik," Jacob meminta maaf.

"Maaf aku mengataimu pembunuh." Jacob tertawa.

Sesuatu melintas dalam pikiranku saat itu, dan aku melepas pelukanku supaya bisa menatap wajahnya. Alisku bertaut cemas.

"Bagaimana dengan Sam? Dan yang lain-lain?" Jacob menggeleng, tersenyum seakan-akan beban berat terangkat dari bahunya.

"Tentu saja tidak. Tidak ingatkah kau bagaimana kami menyebut diri kami?"

Penutup Novel Twilight (New Moon)PEMBUNUH Bab 73

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port PEMBUNUH Bab 73 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya