Tuesday, March 8, 2022

Bab 72 Novel Twilight (NEW MOON) – PEMBUNUH - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 72 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PEMBUNUH Bab 72

13. PEMBUNUH

KALAU saja itu orang lain dan bukan Jacob, pikirku pada diri sendiri, menggeleng-gelengkan kepala saat melaju melintasi jalan raya yang membelah hutan menuju La Push.

Aku masih belum yakin aku melakukan hal yang benar, tapi aku sudah berkompromi dengan diriku sendiri.

Aku tak bisa memaafkan apa yang Jacob dan teman-temannya, kawanannya, lakukan. Sekarang aku mengerti maksud perkataannya semalam— bahwa aku mungkin tidak ingin menemuinya lagi— dan bahwa aku bisa meneleponnya seperti yang ia usulkan, tapi rasanya itu pengecut. Setidaknya, aku harus bicara empat mata dengannya.

Akan kukatakan dengan tegas padanya bahwa aku tak mungkin mengabaikan apa yang sedang terjadi. Aku tak mungkin berteman dengan pembunuh tanpa mengatakan apa-apa, membiarkan pembunuhan itu terus berlanjut... Itu berarti aku sama jahatnya dengan mereka.

Tapi aku tak bisa tidak mengingatkan dia juga.

Novel Twilight (NEW MOON)

Aku harus berbuat sebisaku untuk melindunginya.

Kuhentikan trukku di depan rumah keluarga Black dengan bibir terkatup rapat. Cukup sudah keterkejutanku menghadapi kenyataan sahabatku werewolf.

Haruskah ia menjadi monster juga? Rumah itu gelap gulita, tak tampak cahaya lampu di jendela-jendelanya, tapi aku tak peduli kalaupun aku membangunkan mereka. Tinjuku menggedor-gedor pintu depan dengan marah; gedorannya mengguncang dinding-dinding.

"Silakan masuk,” kudengar Billy berseru sejurus kemudian, dan sebuah lampu menyala. Kuputar kenop pintu; ternyata tidak terkunci. Billy bersandar di pintu dekat dapur yang kecil, di

bahunya tersampir mantel mandi, ia belum duduk di kursi rodanya. Begitu melihat siapa yang datang matanya melebar sedikit, kemudian wajahnya berubah kaku.

"Well, selamat pagi, Bella. Mengapa kau datang pagi-pagi buta begini?"

"Hai, Billy. Aku perlu bicara dengan Jake—di mana dia?"

"Ehm... kurang tahu ya," dusta Billy, wajahnya tetap datar.

"Tahukah kau apa yang dilakukan Charlie pagi ini?" tuntutku, muak melihatnya mengulur-ulur waktu. "Haruskah aku tahu?"

"Dia dan setengah isi kota turun ke hutan membawa senapan, memburu serigala-serigala raksasa."

Ekspresi Billy berubah, tapi kemudian datar lagi.

"Jadi aku ingin bicara dengan Jake mengenai hal itu. kalau kau tidak keberatan," lanjutku.

Billy mengerucutkan bibirnya yang tebal.

"Aku berani bertaruh Jake pasti masih tidur," kata Billy akhirnya, mengangguk ke lorong kecil di sebelah kamar depan.

"Belakangan dia sering pulang larut malam. Anak itu buruh istirahat—mungkin sebaiknya kau tidak membangunkan dia.”

"Sekarang giliranku," gumamku pelan sambil berjalan menuju lorong. Billy mendesah.

Kamar Jacob yang kecil, yang sebenarnya lebih mirip ruang penyimpanan baju, adalah satusatunya pintu di lorong yang panjangnya tak sampai satu meter. Aku tidak repot-repot mengetuk.

Aku langsung membuka pintunya; pintu itu membentur dinding dengan suara keras. Jacob—masih mengenakan celana olahraga hitam yang dipotong pendek seperti semalam— berbaring diagonal di ranjang dobel yang mengisi seluruh ruangan dan hanya menyisakan beberapa sentimeter saja di sisi-sisinya. Bahkan dalam posisi miring tempat tidur itu masih kurang panjang; kaki Jacob tergantung di satu sisi dan kepalanya di sisi lain.

Ia tidur nyenyak, mendengkur pelan dengan mulut terbuka. Bahkan suara pintu membentur dinding tidak membuatnya tersentak. Wajahnya damai dalam tidur yang nyenyak, semua garis-garis amarah lenyap.

Ada lingkaran di bawah mata yang tidak kusadari sebelumnya. Meski ukuran tubuhnya sangat besar, ia kini tampak sangat muda, dan sangat letih. Perasaan iba mengguncang hatiku.

Aku keluar lagi dan menutup pintu dengan suara pelan.

Billy memandangiku dengan sorot ingin tahu dan waspada saat aku berjalan lambat-lambat kembali ke ruang depan.

"Sebaiknya kubiarkan saja dia tidur sebentar." Billy mengangguk, kemudian kami berpandangan beberapa saat. Aku ingin sekali menanyakan apa pendapat Billy tentang hal ini.

Apa pendapatnya tentang perubahan yang dialami putranya? Tapi aku tahu ia mendukung Sam sejak awal, jadi Kupikir pembunuhan-pembunuhan itu pasti tidak berarti apa-apa baginya. Bagaimana ia membenarkan hal ku pada dirinya sendiri, aku tak bisa membayangkan.

Aku juga melihat banyak pertanyaan berkecamuk di matanya yang gelap, tapi ia juga tidak menyuarakannya.

"Begini saja," kataku, memecah keheningan yang sangat terasa. “Aku akan pergi ke pantai sebentar. Kalau dia bangun, tolong katakan padanya aku menunggunya, oke?"

"Tentu, tentu," Billy menyanggupi. Aku ragu apakah Billy benar-benar akan menyampaikan pesanku. Well, kalaupun tidak, aku sudah berusaha, kan?

Aku mengendarai trukku ke First Beach dan memarkirnya di lapangan tanah yang kosong. Hari masih gelap—subuh muram menjelang pagi yang berawan—dan waktu mematikan lampu truk aku nyaris tak bisa melihat apa-apa.

Aku harus membiasakan mataku dulu sebelum bisa menemukan jalan setapak yang membelah ilalang tinggi. Udara di sini lebih dingin, angin bertiup menerpa air yang hitam, dan kujejalkan kedua tanganku dalam-dalam ke saku jaket musim dinginku. Setidaknya hujan sudah berhenti. Aku berjalan menyusuri tepi pantai ke arah tembok laut sebelah utara.

Tidak tampak Pulau St. James maupun pulau-pulau lain, hanya bentukTiraikasih bentuk samar nun jauh di sana. Aku berjalan hatihati meniti karang, mewaspadai driftwood yang mungkin bisa membuatku tersandung.

Aku menemukan apa yang kucari sebelum menyadari aku mencarinya. Benda itu muncul dari kegelapan setelah jaraknya hanya tinggal beberapa meter: sebatang driftwood panjang seputih tulang yang terdampar jauh ke karang.

Akar-akarnya terpilin ke atas dan mengarah ke lautan, bagaikan ratusan tentakel rapuh. Aku tak yakin apakah itu pohon yang sama tempat Jacob dan aku mengobrol untuk pertama kalinya—obrolan yang mengawali begitu banyak benang kusut dalam hidupku—tapi sepertinya lokasinya sama. Aku duduk di tempatku duduk dulu, dan memandang lautan yang tak kelihatan.

Melihat Jacob seperti itu—lugu dan rapuh dalam tidurnya—telah mengenyahkan semua perasaan jijikku, melenyapkan semua amarahku. Aku masih tetap tak bisa menutup mata pada apa yang terjadi, seperti yang tampaknya dilakukan Billy tapi aku juga tak bisa menghakimi Jacob atas perbuatannya itu. Itulah yang namanya sayang.

Saat kau menyayangi seseorang mustahil bersikap logis mengenai mereka. Jacob tetap temanku, terlepas dari apakah ia membunuh orang atau tidak. Dan aku tak tahu harus bagaimana menghadapi hal itu.

Saat membayangkan Jacob tidur begitu damai, aku merasakan dorongan yang sangat kuat untuk melindunginya. Sungguh tidak logis.

Penutup Novel Twilight (New Moon)PEMBUNUH Bab 72

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port PEMBUNUH Bab 72 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya