Tuesday, March 8, 2022

Bab 71 Novel Twilight (NEW MOON) – PENYUSUP - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 71 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PENYUSUP Bab 71

Sesuatu menyumbat kerongkonganku, mencekikku. Aku berusaha menelannya, tapi benda itu tersangkut di sana. tak bergerak. Aku berusaha meludahkannya.

"Werewolf,” aku terkesiap. Ya, kata itulah yang tadi menyumbat tenggorokanku.

Dunia seolah jungkir balik, miring pada porosnya.

Tempat macam apakah ini? Benarkah ada dunia di mana legenda-legenda kuno berkeliaran di

sepanjang perbatasan kota-kota kecil, berhadapan dengan monster-monster mistis? Apakah itu berarti setiap kisah dongeng didasarkan pada sesuatu yang benar-benar nyata? Adakah hal yang waras atau normal sama sekak, atau semuanya hanya magis dan kisah-kisah hantu?

Kucengkeram kepalaku kuat-kuat, menjaganya agar tidak meledak.

Sebuah suara kecil garing dalam benakku bertanya mengapa aku begitu kalut. Bukankah aku sudah menerima keberadaan vampir sejak dulu— dan tanpa histeris sama sekali?

Benar sekali, aku ingin balas meneriaki suara itu. Tidakkah saru mitos sudah cukup untuk siapa pun, cukup untuk seumur hidup? Lagi pula, sebelumnya tidak ada satu momen pun di mana aku tak sepenuhnya menyadari bahwa Edward Cullen bukan manusia biasa. Jadi bukan hal mengagetkan waktu aku tahu siapa ia sebenarnya—karena jelas sekali ia itu berbeda. Tapi Jacob? Jacob, yang hanyalah Jacob, dan tidak lebih daripada itu? Jacob, temanku? Jacob, satu-satunya manusia yang bisa memahamiku...

Dan ia bahkan bukan manusia.

Kulawan dorongan untuk menjerit lagi.

Novel Twilight (NEW MOON)


Jadi, apa arti semua itu bagiku? Aku tahu jawaban pertanyaan itu. Berarti ada yang benar-benar tidak beres denganku. Bagaimana bisa hidupku dipenuhi karakterkarakter dari film horor? Bagaimana mungkin aku

bisa begitu peduli pada mereka sehingga hatiku terasa seperti direnggutkan dan dadaku setiap kali mereka pergi mengikuti jalan hidup mistis mereka? Di kepalaku segalanya berputar dan bergerak, berubah posisi sehingga hal-hal yang tadinya berarti sesuatu, sekarang memiliki arti berbeda. Berarti tidak ada sekte.

Tidak pernah ada sekte, tidak pernah ada geng. Tidak, ternyata bahkan lebih buruk daripada itu. Yang ada ternyata adalah kawanan.

Kawanan yang terdiri atas lima werewolf raksasa aneka warna yang waktu itu berjalan melewatiku di padang rumput Edward...

Mendadak, aku merasa harus bergegas. Mataku melirik jam—masih terlalu pagi, tapi aku tak peduli. Aku harus pergi ke La Push sekarang. Aku harus menemui Jacob supaya ia bisa memberi tahuku bahwa aku tidak hilang ingatan.

Kusambar baju bersih pertama yang bisa kutemukan, tak peduli apakah serasi atau tidak, lalu berlari menuruni tangga, melompati dua anak tangga sekaligus. Nyaris saja aku bertabrakan dengan Charlie saat menghambur di lorong, menuju ke pintu.

"Mau ke mana kau?" tanyanya, terkejut

melihatku, sama seperti aku terkejut melihatnya.

"Kau tahu sekarang jam berapa?"

"Yeah. Aku harus menemui Jacob."

"Kusangka urusan dengan Sam—"

"Itu tidak penting, aku harus bicara dengannya sekarang juga."

"Sekarang masih terlalu pagi." Kening Charlie berkerut ketika ekspresiku tidak berubah.

"Tidak mau sarapan dulu?"

"Tidak lapar." Kata-kata meluncur cepat dari bibirku.

Charlie menghalangi jalanku. Aku menimbang-nimbang untuk merunduk mengitarinya dan kabur secepat-cepatnya, tapi aku tahu aku harus memberi penjelasan nanti.

"Sebentar lagi aku kembali, oke?" Charlie mengerutkan kening.

"Langsung ke rumah Jacob, kan? Tidak mampir-mampir dulu?" Tentu saja tidak.

mau mampir ke mana? Katakataku berkejaran, karena aku begitu terburuburu.

"Entahlah," Charlie mengakui.

“Hanya saja... Well, terjadi penyerangan lagi – serigala-serigala itu lagi. Dekat sekali dengan pemukiman penduduk di sumber air panas sana—kali ini ada saksi mata yang menyaksikan. Korban hanya beberapa meter dari jalan saat menghilang. Istrinya melihat serigala abu-abu besar beberapa menit kemudian, waktu dia sedang mencari suaminya, lalu lari mencari bantuan."

Perutku langsung mulas mendengarnya. "Orang itu diterkam serigala?"

"Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang itu— yang ada hanya bercak darah" Wajah Charlie tampak galau.

"Para polisi hutan menyisir hutan dengan bersenjata lengkap, membawa sukarelawan yang juga bersenjata. Banyak pemburu yang ingin terlibat—tersedia hadiah bagi yang bisa menembak mati serigala. Itu berarti akan banyak tembakmenembak di hutan, dan itu membuatku khawatir."

Charlie menggeleng. "Kalau orang-orang terlalu bersemangat, bisa terjadi banyak kecelakaan..."

“Mereka akan menembaki serigala-serigala itu?" Suaraku naik tiga oktaf.

"Apa lagi yang bisa kita lakukan? Ada apa?" tanya Charlie, matanya yang tegang menelisik wajahku. “
Rasanya aku seperti mau pingsan; wajahku pasti lebih pucat daripada biasanya, toh bukan aktivis lingkungan hidup, kan?" ku tak mampu menjawab.

Seandainya Charlie tidak sedang memandangiku, aku pasti sudah menyurukkan kepalaku antara lutut. Aku lupa pada para hiker yang hilang itu, juga jejak-jejak berdarah... aku tidak menghubungkan fakta-fakta itu dengan kesadaran pertamaku.

"Dengar, Sayang, ini tidak perlu membuatmu ketakutan. Asalkan kau tetap di kota atau dijalan raya—tidak berhenti-berhenti—oke?"

"Oke," sahutku lemah.

"Pergi dulu ya."

Kutatap Charlie lekat-lekat untuk pertama kali, dan kulihat ia melilitkan sarung pistolnya ke pinggang dan memakai sepatu hiking.

"Kau tidak akan ikut terjun mencari serigalaserigala itu kan, Dad?"

"Aku harus membantu, Bells. Banyak orang menghilang."

Suaraku naik lagi, nyaris histeris sekarang.

"Jangan! Jangan, jangan pergi. Terlalu berbahaya!"

"Aku harus melakukan tugasku, Nak. Jangan pesimis begitu—aku akan baik-baik saja" Charlie

berbalik ke pintu, membukanya dan memeganginya.

"Kau mau pergi?" Aku ragu-ragu, perutku masih seperti diadukaduk. Apa yang bisa kukatakan untuk menghentikannya? Kepalaku pusing sekali, tak mampu berpikir apa-apa.

"Bells?"

"Mungkin sekarang memang masih terlalu pagi untuk pergi ke La Push," bisikku.

"Aku setuju," kata Charlie, lalu melangkah keluar ke tengah hujan, menutup pintu di belakangnya.

Begitu Charlie lenyap dari pandangan, aku merosot lemas ke lantai dan menyurukkan kepalaku di antara lutut.

Haruskah aku menyusul Charlie? Apa yang bisa kukatakan?

Dan bagaimana dengan Jacob? Jacob sahabatku; aku harus memperingatkan dia. Kalau dia benar-benar – aku meringis dan memaksa diriku memikirkan istilah itu – werewolf (dan aku

tahu itu benar, aku bisa merasakannya), itu berarti orang-orang akan menembaki dia! Aku harus memberitahu Jacob dan teman-temannya bahwa orang-orang akan berusaha membunuh mereka bila mereka berkeliaran sebagai serigala raksasa.

Aku harus membentahu mereka supaya berhenti. Mereka harus berhenti! Charlie ada di hutan.

Pedulikah mereka pada hal itu? Aku penasaran... Hingga saat ini, hanya orang-orang asing yang hilang. Apakah itu berarti sesuatu, atau hanya kebetulan?

Aku harus percaya bahwa Jacob, paling tidak, peduli pada hal itu.

Bagaimanapun, aku harus mengingatkan dia.

Atau... perlukah aku?

Jacob sahabatku, tapi benarkah ia juga monster? Monster sungguhan? Monster jahat? Haruskah aku mengingatkan dia, padahal dia dan teman-temannya... pembunuh? Padahal mereka begitu tega membantai para hiker yang tidak berdosa? Seandainya mereka benar-benar makhluk jahat seperti yang ada di film-film horor, salahkah bila aku melindungi mereka?

Mau tak mau aku jadi membandingkan Jacob dan teman-temannya dengan keluarga Cullen. Kudekap tubuhku erat-erat. melawan lubang itu, saat aku memikirkan mereka.

Aku tidak tahu apa-apa tentang werewolf, itu sudah jelas. Paling-paling aku membayangkan mereka mendekati sosok seperti yang sering digambarkan di film-film – makhluk setengah

manusia berbadan besar dan berbulu lebat atau semacam itu – itu pun kalau aku membayangkan mereka. Jadi aku tak tahu apa yang membuat mereka berburu, apakah karena kelaparan atau kehausan atau hanya dorongan untuk membunuh. Sulit menilainya, karena aku tidak tahu apa-apa.

Tapi pasti tidak lebih sulit daripada yang dialami keluarga Cullen dalam upaya mereka menjadi makhluk yang baik. Ingatanku melayang kepada Esme—air mataku merebak saat membayangkan wajahnya yang teduh dan baik—serta bagaimana, meski sikapnya begitu keibuan dan penuh kasih sayang, ia terpaksa menahan napas, merasa malu sekali, dan lari menjauhiku waktu aku berdarah. Tak mungkin lebih sulit daripada itu.

Aku juga teringat pada Carlisle, yang selama berabad-abad berjuang mengajari dirinya sendiri untuk mengabaikan darah, sehingga ia bisa menyelamatkan nyawa manusia sebagai dokter.

Tidak ada yang lebih sulit daripada itu.

Para werewolf memilih jalan berbeda.

Sekarang, apa yang seharusnya aku pilih?

Penutup Novel Twilight (New Moon)PENYUSUP Bab 71

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port PENYUSUP Bab 71 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya