Tuesday, March 8, 2022

Bab 69 Novel Twilight (NEW MOON) – PENYUSUP - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 69 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PENYUSUP Bab 69

"Benarkah waktu itu kau memang tidak tahu?" tanyanya, suaranya berubah parau. "Benarkah aku yang pertama kali memberi tahumu siapa dia sesungguhnya?"

Bagaimana ia bisa mengetahuinya? Mengapa ia memutuskan untuk percaya, mengapa baru sekarang? Gigiku mengatup rapat. Kubalas tatapannya, tak berniat menjawab. Jacob menyadarinya.

"Kau mengerti kan, apa yang kumaksud dengan loyalitas?" gumamnya, suaranya semakin parau.

"Hal yang sama juga terjadi padaku, tapi lebih parah. Kau tak bisa membayangkan betapa kuatnya aku terikat..."

Aku tidak suka itu—tidak suka melihatnya memejamkan mata seolah-olah kesakitan saat mengatakan dirinya terikat tadi. Lebih dari sekadar tidak suka—aku sadar bahwa aku benci, membenci apa pun yang menyakitinya. Sangat benci.

Wajah Sam memenuhi pikiranku. Bagiku, ini semua intinya adalah sesuatu yang secara sukarela dilakukan. Aku menjaga rahasia keluarga Cullen karena cinta: tidak berbalas, tapi sejati. Bagi Jacob, tidak harus menjadi seperti itu.

Novel Twilight (NEW MOON)


"Apakah kau tak bisa membebaskan diri?" bisikku, menyentuh pinggiran kasar di bagian belakang rambutnya yang pendek Tangan Jacob mulai gemetar, tapi ia tidak membuka mata.

"Tidak. Aku terikat di dalamnya seumur hidup. Seperti hukuman penjara seumur hidup." Tawa sinis.

"Lebih lama daripada itu, mungkin."

"Tidak, Jake," erangku.

"Bagaimana kalau kita kabur? Hanya kau dan aku. Bagaimana kalau kita lari dari rumah, dan meninggalkan Sam?"

"Ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan kabur dari rumah, Bella," bisik Jacob.

"Aku mau saja kabur bersamamu, tapi... seandainya bisa." Bahunya kini ikut gemetar. Ia menghela napas dalam-dalam.

"Sudahlah, aku harus pergi."

"Kenapa?"

"Pertama, sepertinya kau nyaris ambruk setiap saat. Kau butuh tidur—aku ingin kau sehat dan bugar sehingga bisa berpikir jernih. Kau harus bisa menyimpulkannya, kau harus bisa"

"Lalu kenapa lagi?" Kening Jacob berkerut.

"Aku harus menyelinap pergi diam-diam—seharusnya aku tak boleh menemuimu. Mereka pasti bertanya-tanya di mana aku sekarang." Mulutnya berkerut.

"Kurasa aku harus tetap menceritakannya pada mereka."

"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa pada mereka" desisku.

"Bagaimanapun, aku akan tetap mengatakannya."

Amarah berkobar dalam dadaku. "Aku benci mereka!"

Jacob menatapku dengan mata membelalak lebar, terkejut.

"Tidak, Bella. Jangan benci mereka. Ini bukan salah Sam ataupun salah satu dari mereka. Seperti sudah kukatakan padamu sebelumnya—ini salahku. Sesungguhnya Sam itu... Well, luar biasa baik. Jared dan Paul juga baik, walaupun Paul agak sedikit... Dan Embry temanku sejak dulu. Tidak ada yang berubah dalam hal itu—satu-satunya yang belum berubah. Aku benarbenar merasa tak enak hati kalau ingar bagaimana dulu aku punya pandangan jelek terhadap Sam...” Sam luar biasa baik? Kupandangi Jacob dengan sikap tidak percaya, tapi tak kutanggapi.

"Kalau begitu, mengapa kau tidak boleh menemuiku?" tuntutku.

"Karena tidak aman," gumam Jacob, menunduk.

Kata-katanya membuatku bergidik ngeri. Jadi ia juga tahu itu? Tak ada orang lain yang tahu kecuali aku. Tapi ia benar—sekarang ini tengah malam, waktu yang tepat untuk berburu.

Jacob tak seharusnya berada di kamarku. Kalau ada yang datang mencariku, aku harus sendirian.

"Kalau aku menganggapnya terlalu... terlalu berisiko," bisiknya,

"aku tidak mungkin datang. Tapi, Bella," ia menatapku lagi, "aku pernah berjanji padamu. Aku tidak menyangka janji itu akan begitu sulit ditepati, tapi bukan berarti aku tidak akan berusaha."

Jacob melihat ekspresi tak mengerti di wajahku. "Setelah nonton film konyol waktu itu," ia mengingatkan aku.

"Aku berjanji padamu, aku tidak akan pernah menyakitimu... Aku benar-benar melanggar janjiku sendiri sore tadi, ya?"

"Aku tahu kau tidak bermaksud melakukannya, Jake. Tidak apa-apa."

“Trims, Bella." Jacob meraih tanganku.

"Aku akan melakukan apa pun yang bisa kulakukan agar bisa berada di sisimu, sesuai janjiku." Tibatiba ia nyengir.

Bukan cengiranku, bukan cengiran Sam, tapi kombinasi aneh keduanya. "Akan sangat membantu bila kau bisa menyimpulkannya sendiri, Bella. Cobalah untuk benar-benar berusaha."

Aku meringis lemah. "Akan kucoba."

“Dan aku akan berusaha menemuimu lagi nanti," Jacob mendesah.

"Dan mereka pasti akan berusaha mencegahku melakukannya."

"Jangan dengarkan mereka."

"Akan kucoba," Jacob menggeleng, seolah meragukan dirinya sendiri.

"Begitu kau bisa menebaknya, segeralah datang dan beritahu aku." Mendadak ia teringat sesuatu, sesuatu yang membuat kedua tangannya gemetar.

"Kalau kau... kalau kau masih mau menemuiku."

"Mengapa aku tidak mau menemuimu?"

Wajah Jacob berubah keras dan pahit, wajah yang seratus persen milik Sam.

"Oh, ada saja alasannya, pasti" tukasnya kasar.

"Dengar, aku benar-benar harus pergi. Bisakah kau melakukan sesuatu untukku?"

Aku hanya mengangguk, takut melihat perubahan dalam dirinya.

"Paling tidak telepon aku—kalau kau tidak mau menemuiku lagi. Beritahu aku kalau memang begitu."

"Itu tidak akan terjadi—"

Jacob mengangkat sebelah tangan, menghentikan kata-kataku.

"Pokoknya beritahu aku." Ia berdiri dan berjalan ke jendela.

"Jangan tolol, Jake," tukasku.

"Bisa-bisa kakimu patah nanti. Lewat pintu saja. Charlie tidak akan memergokimu."

"Aku tidak akan kenapa-kenapa," tukasnya, tapi berbalik menuju pintu juga.

Ia ragu-ragu waktu melewatiku, menatapku dengan ekspresi seolaholah sesuatu menusuknya. Ia mengulurkan sebelah tangan, memohon.

Aku menerima uluran tangannya, dan tiba-tiba ia menyentakku—kasar sekali—hingga aku tertarik turun dari tempat tidur dan menabrak dadanya.

"Siapa tahu aku tak bisa bertemu lagi denganmu," bisiknya di rambutku, memelukku sangat erat hingga tulang-tulangku terasa seperti mau remuk.

"Tidak bisa—bernapas!" aku megap-megap. Jacob langsung melepas pelukannya, sebelah tangannya memegang pinggangku agar aku tidak terjatuh. Ia mendorongku, kali ini lebih lembut, kembali ke tempat tidur.

Penutup Novel Twilight (New Moon)PENYUSUP Bab 69

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port PENYUSUP Bab 69 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya