Sunday, March 6, 2022

Bab 63 Novel Twilight (NEW MOON) – SEKTE - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 63 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – SEKTE Bab 63

Aku meminggirkan trukku ke sisi jalan yang berlawanan arah dan berhenti di sebelahnya. Quil mendongak saat mendengar raungan mesin trukku mendekat.

Ekspresi Quil lebih membuatku takut daripada terkejut. Wajahnya muram, suntuk, dan dahinya berlipat-lipat khawatir.

"Oh, hai, Bella," ia menyapaku muram.

"Hai, Quil... kau baik-baik saja?" Quil menatapku sedih.

"Baik. "Mungkin aku bisa mengantarmu ke suatu tempat?" aku menawarkan.

“Tentu kurasa," gumamnya.

Ia berjalan tersaruksaruk mengitari bagian depan truk dan membuka pintu penumpang lalu naik.

“Ke mana."

"Rumahku di sisi utara, di belakang toko," katanya.

“Kau sudah bertemu Jacob hari ini?" Pertanyaan itu terlontar dari mulutku bahkan sebelum Quil selesai bicara.

Novel Twilight (NEW MOON)


Kutatap Quil penuh semangat, menunggu jawabannya. Tapi Quil hanya memandang ke luar kaca depan beberapa saat sebelum menjawab.

"Dari jauh," jawab Quil akhirnya.

"Dari jauh?" ulangku.

“Aku berusaha mengikuti mereka—dia bersama Embry." Suara Quil rendah, sulit didengar di selasela suara mesin. Aku mencondongkan tubuh lebih dekat.

"Aku tahu mereka melihatku. Tapi mereka malah berbelok dan menghilang di balik pepohonan. Kurasa mereka tidak sendirian— kurasa Sam dan anggota gengnya ada bersama mereka.

“Aku sudah satu jam berkeliaran di hutan, memanggil-manggil mereka. Aku baru saja keluar ke jalan lagi waktu kau datang.”

"Jadi Sam berhasil mendapatkannya." Kata-kata itu tidak begitu jelas terdengar—gigiku terkatup rapat.

Quil memandangiku. "Jadi kau tahu soal itu?” Aku mengangguk.

"Jake pernah bercerita padaku... sebelum ini.”

"Sebelum ini," ulang Quil, dan mendesah.

"Jadi Jacob sekarang sama parahnya dengan yang lain-lain?"

"Tidak pernah meninggalkan Sam sedetik pun." Quil membuang muka dan meludah dari jendela yang terbuka.

"Dan sebelum itu—apakah dia menghindari semua orang? Tingkahnya aneh?" Suara Quil rendah dan kasar.

"Tidak selama yang lain-lain. Mungkin hanya satu hari. Lalu Sam menemuinya."

"Menurutmu, apa penyebabnya? Narkoba atau sebangsanya?”

"Aku tak bisa membayangkan Jacob atau Embry terlibat hal-hal kayak begitu... tapi aku tahu apa? Apa lagi kalau bukan itu? Dan mengapa orangorang tua tidak khawatir?" Quil menggelenggelengkan kepala, dan rasa takut kini terpancar dari matanya.

"Jacob tak ingin menjadi bagian... sekte ini. Aku tidak mengerti apa yang bisa mengubahnya."

Quil memandangiku, wajahnya ketakutan. "Aku tidak ingin menjadi yang berikutnya."

Mataku membayangkan ketakutan yang sama. Ini kedua kalinya aku mendengarnya digambarkan sebagai sekte. Tubuhku bergidik.

"Orangtuamu menanggapi ketakutanmu?" Quil meringis.

"Yang benar saja. Kakekku duduk di dewan suku, sama seperti ayah Jacob. Sam Uley itu pemuda terbaik yang pernah ada di sini, begitu menurut kakekku."

Kami berpandangan beberapa saat. Kami sudah sampai di La Push sekarang, dan trukku nyaris merangkak di jalan yang lengang. Tampak olehku satu-satunya toko di desa itu, tak jauh di depan.

“Aku turun saja sekarang." kata Quil.

"Rumahku di sana.” Ia menuding rumah petak kayu di belakang toko. Kutepikan trukku, dan ia melompat turun.

“Aku akan menunggu Jacob," kataku kaku. Semoga beruntung." Quil membanting pintu dan tersaruk-saruk menyusuri jalanan, kepala tertunduk, bahu terkulai.

Wajah Quil menghantuiku saat aku memutar truk, kembali ke rumah keluarga Black. Ia takut menjadi yang berikutnya. Apa sebenarnya yang terjadi di sini?

Aku berhenti di depan rumah Jacob, mematikan mesin, dan menurunkan kaca jendela. Hari panas terik, angin tidak bertiup. Kurumpangkan kedua kakiku di dasbor, siap menunggu.

Sebuah gerakan berkelebat di sudut mataku— aku menoleh dan melihat Billy memandangiku dari balik jendela depan dengan mimik bingung. Aku melambai dan menyunggingkan senyum kaku. tapi tetap di tempatku.

Mata Billy menyipit; ia membiarkan tirai terjatuh menutupi kaca jendela.

Aku siap menunggu selama mungkin, tapi aku berharap ada yang bisa kulakukan. Kukeluarkan bolpoin dari dasar ransel, serta selembar kertas ulangan lama. Aku mulai mencoret-coret bagian belakang kertas itu.

Aku baru sempat menggambar sebaris bentuk belah ketupat waktu mendadak ada yang menggedor pintu trukku.

Aku terlonjak, mendongak, mengira akan melihat Billy.

"Sedang apa kau di sini, Bella?" geram Jacob.

Kupandangi dia, terperangah takjub. Jacob berubah drastis selama beberapa minggu aku tidak melihatnya. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah rambutnya—rambutnya yang indah sudah lenyap, dipangkas pendek, menutupi kepalanya bagaikan satin hitam mengilap.

GarisTiraikasih garis wajahnya tampak mengeras, lebih kaku... menua. Leher dan bahunya juga berbeda, tampak lebih padat.

Tangannya, yang mencengkeram bingkai jendela, tampak besar sekali, dengan otototot tendon dan pembuluh darah menonjol di balik kulitnya yang cokelat kemerahan. Tapi perubahan fisik itu tidak penting.

Ekspresinyalah yang membuatnya nyaris tak bisa dikenali lagi. Senyum terbuka dan ramah itu kini lenyap, sama seperti rambutnya, sorot hangat di matanya yang gelap berganti dengan sorot tidak suka yang langsung terasa mengganggu. Ada kegelapan dalam diri Jacob sekarang. Seolah-olah matahariku telah meledak.

"Jacob?" bisikku. Jacob hanya menatapku, matanya tegang dan marah.

Sadarlah aku kami tidak sendirian. Di belakangnya berdiri empat cowok lain; semuanya jangkung dan berkulit cokelat kemerahan, rambut hitam dipangkas pendek seperti rambut Jacob.

Mereka bisa disangka kakak-beradik—aku bahkan tak bisa menentukan yang mana Embry di antara kelompok itu. Kemiripan mereka semakin dipertegas dengan sorot tidak suka yang samasama terpancar dari setiap pasang mata.

Setiap pasang kecuali satu. Paling tua dengan jarak beberapa tahun, Sam berdiri paling belakang, wajahnya tenang dan yakin. Aku harus menelan kembali kebencian yang merayap naik di kerongkonganku. Ingin benar kuhajar dia. Tidak, aku ingin melakukan lebih daripada itu. Lebih dari

segalanya, aku ingin tampak garang dan mematikan, menjadi seseorang yang membuat orang lain tak berani macam-macam. Seseorang yang bakal membuat Sam Uley ketakutan setengah mati.

Penutup Novel Twilight (New Moon)SEKTE Bab 63

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port SEKTE Bab 63 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya