Sunday, March 6, 2022

Bab 60 Novel Twilight (NEW MOON) – PADANG RUMPUT - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 60 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PADANG RUMPUT Bab 60

"Aku sedang malas belajar Kalkulus hari ini." Charlie bersedekap.

"Kan sudah kubilang untuk menjauhi hutan."

"Yeah, aku tahu. Jangan khawatir, aku tidak akan melakukannya lagi," Aku bergidik.

Sepertinya baru saat itulah Charlie benar-benar memerhatikan keadaanku. Aku ingat tadi aku sempat meringkuk di tanah hutan; jadi pastilah keadaanku benar-benar berantakan.

"Apa yang terjadi?" desak Charlie.

Lagi, aku memutuskan mengatakan hal yang sebenarnya, setidaknya sebagian, adalah pilihan terbaik. Aku terlalu terguncang untuk berpurapura aku tadi menikmati hari yang tenang dengan flora dan fauna hutan.

"Aku melihat beruang itu." Aku berusaha mengatakannya dengan tenang, tapi suaraku tinggi dan gemetar.

Novel Twilight (NEW MOON)


"Ternyata bukan beruang— tapi sejenis serigala. Dan jumlahnya ada lima. Ada yang berbulu hitam besar, abu-abu, cokelat kemerahan..."

Mata Charlie membelalak ngeri. Ia bergegas menghampiriku dan menyambar bagian atas lenganku.

“Kau tidak apa-apa?"

Kepalaku mengangguk-angguk lemah.

"Ceritakan padaku apa yang terjadi."

"Mereka tidak menggubrisku. Tapi setelah mereka pergi, aku lari dan terjatuh-jatuh." Charlie melepaskan bahuku dan memelukku erat-erat. Selama beberapa saat ia tidak mengatakan apa-apa.

“Serigala," gumamnya.

"Apa?"

"Menurut polisi hutan, jejak-jejaknya bukan jejak beruang— tapi serigala tidak sebesar itu..."

"Mereka ini raksasa"

"Berapa banyak katamu tadi?"

“Lima.”

Charlie menggeleng, keningnya berkerut cemas. Akhirnya ia bicara dengan nada yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

"Tidak boleh hiking lagi."

"Pasti," aku berjanji dengan patuh.

Charlie menelepon ke kantor untuk melaporkan apa yang kulihat. Aku berbohong sedikit saat mengatakan di mana persisnya aku melihat serigala-serigala itu—kubilang saja aku sedang menyusuri jalan setapak yang mengarah ke utara.

Aku tak ingin ayahku tahu seberapa jauh aku telah masuk ke dalam hutan, melanggar larangannya, dan, yang lebih penting lagi, aku tidak mau orang lain berkeliaran di dekat tempat Laurent mungkin mencariku. Pikiran itu membuatku mual. "Kau lapar?" tanya Charlie setelah menutup telepon.

Aku menggeleng, meskipun seharusnya perutku keroncongan. Aku belum makan seharian.

"Capek saja," jawabku. Aku berbalik menuju tangga.

"Hei," seru Charlie, suaranya mendadak berubah curiga lagi.

"Bukankah kau tadi bilang Jacob pergi seharian?"

"Kata Billy begitu," jawabku, bingung mendengar pertanyaannya.

Charlie mengamati ekspresiku sebentar, dan tampaknya puas dengan apa yang dilihatnya di sana.

"Hah."

"Kenapa?" tuntutku.

Kedengarannya Charlie seolah menuduhku telah berbohong padanya tadi pagi. Mengenai hal lain selain belajar dengan Jessica.

"Well, hanya saja waktu aku menjemput Harry tadi, aku melihat Jacob di depan toko yang ada di sana bersama teman-temannya.

Aku melambai menyapanya, tapi dia... Well aku tak yakin dia melihatku. Sepertinya dia sedang berdebat dengan teman-temannya. Dia tampak aneh, seperti kesal mengenai sesuatu. Dan... berbeda. Seolah-olah kau bisa melihat anak itu bertumbuh! Setiap kali melihatnya, sepertinya dia semakin bertambah besar."

"Kata Billy, Jake dan teman-temannya pergi ke Port Angeles untuk nonton film. Mungkin mereka sedang menunggu teman di sana."

"Oh." Charlie mengangguk dan berjalan ke dapur.

Aku berdiri di ruang depan, berpikir tentang Jacob yang berdebat dengan teman-temannya. Aku penasaran apakah ia mengonfrontir Embry rentang kedekatannya dengan Sam. Mungkin itulah sebabnya ia meninggalkanku hari ini—kalau itu berarti ia bisa menuntaskan masalahnya dengan Embry aku ikut senang.

Aku berhenti sebentar untuk memastikan pintu masih terkunci rapat sebelum masuk ke kamar. Tindakan konyol sebenarnya. Apa gunanya kunci bagi monster-monster yang kulihat siang tadi? Asumsiku, gagang pintu saja sudah cukup untuk menghalangi masuknya serigala, karena mereka tidak memiliki ibu jari untuk memegang. Dan kalau Laurent datang ke sini... Atau... Victoria.

Aku berbaring di tempat tidurku, tapi tubuhku bergetar begini hebat hingga aku susah tidur. Aku meringkuk rapat-rapat di bawah selimut, dan menghadapi fakta-fakta mengerikan. Tidak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada pencegahan yang bisa kuambil. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Tidak ada orang yang bisa menolongku.

Aku sadar, dengan perut melilit mual, bahwa situasinya sekarang lebih buruk daripada itu. Karena semua fakta itu juga mengacu pada Charlie. Ayahku, tidur di kamar yang bersebelahan dengan kamarku, hanya terpisah sedikit saja dari inti sasaran yang terpusat padaku. Bau tubuhku akan menggiring mereka ke sini, tak peduli aku ada di sini atau tidak.

Tremor itu mengguncang-guncang tubuhku sampai gigi-gigiku gemeletukan. Untuk menenangkan diri aku membayangkan hal yang tidak mungkin: aku membayangkan serigala-serigala besar itu berhasil menangkap Laurent di hutan dan membantai makhluk yang tidak bisa mati dan tidak bisa dihancurkan itu, seperti mereka memangsa habis manusia normal lainnya.

Meski absurd, bayangan itu membuatku tenang. Kalau serigala-serigala itu berhasil menangkapnya, ia tidak bisa mengatakan pada Victoria bahwa aku sendirian di sini. Bila ia tidak kembali, mungkin Victoria mengira keluarga Cullen masih melindungiku. Seandainya kawanan serigala itu bisa memenangkan pertarungan...

Vampir-vampir baikku takkan pernah kembali; betapa melegakan membayangkan vampir jenis lain juga bisa menghilang.

Kupejamkan mataku rapat-rapat dan menunggu datangnya ketidaksadaran—hampir tidak sabar lagi menunggu mimpi burukku dimulai. Lebih baik bermimpi buruk daripada melihat seraut wajah tampan yang pucat tersenyum padaku sekarang dari balik kelopak mataku.

Dalam imajinasiku, mata Victoria hitam oleh dahaga, cemerlang oleh antisipasi, dan bibirnya menekuk, menampilkan gigi-giginya yang berkilau dalam kegembiraan. Rambut merahnya terang laksana api; berkibar-kibar kusut mengitari wajahnya yang liar.

Kata-kata Laurent tadi terngiang-ngiang dalam benakku. Kalau kau tahu apa yang dia rencanakan untukmu...

Aku menempelkan tinjuku kuat-kuat ke mulut agar tidak menjerit.

Penutup Novel Twilight (New Moon)PADANG RUMPUT Bab 60

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port PADANG RUMPUT Bab 60 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya