Sunday, March 6, 2022

Bab 56 Novel Twilight (NEW MOON) – PADANG RUMPUT - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 56 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PADANG RUMPUT Bab 56

Hutan penuh kehidupan hari ini, semua makhluk kecil menikmati kekeringan yang hanya sementara. Namun entah bagaimana, bahkan dengan kicauan burung-burung dan dengung serangga yang mengitari kepalaku dengan berisik, juga bunyi langkah kaki tikus yang berkelebat menerobos semak belukar, hutan terkesan lebih menyeramkan hari ini; membuatku teringat pada mimpi burukku yang terbaru.

Aku tahu itu hanya karena aku sendirian, kehilangan siulan riang Jacob serta suara sepasang kaki lain menginjak tanah yang lembab.

Perasaan gelisah itu semakin kuat saat aku semakin dalam memasuki pepohonan. Aku mulai

susah bernapas—bukan karena berkeringat, tapi karena aku mengalami kesulitan dengan lubang tolol di dadaku lagi. Kudekap tubuhku dengan kedua tangan dan berusaha mengenyahkan kepedihan itu dari pikiranku.

Novel Twilight (NEW MOON)


Nyaris saja aku berbalik, tapi aku tak ingin menyia-nyiakan upaya yang telah kulakukan.

Ritme langkah-langkahku mulai menumpulkan pikiran dan kepedihanku, sementara aku terus merangsek maju. Napasku akhirnya mulai teratur, dan aku senang tak jadi pulang. Aku semakin piawai menjelajah alam; aku tahu aku sekarang bisa berjalan lebih cepat.

Aku tidak tahu apakah aku jauh lebih efisien sekarang. Kalau tidak salah, mungkin aku sudah berjalan enam kilometer lebih, dan bahkan belum mulai mencari.

Kemudian, dengan ketiba-tibaan yang membuatku kehilangan orientasi, aku melangkah melewati lengkingan pendek yang terbentuk dari dua pohon maple merambat— menerobos semak pakis setinggi dada—dan memasuki padang rumput.

Ini tempat yang sama, itu aku yakin benar. Belum pernah aku melihat tempat terbuka lain yang begitu simetris. Bentuknya bulat sempurna, seolah-olah ada orang yang dengan sengaja membuat lingkaran sempurna, mencabuti pohonpohon tanpa meninggalkan jejak sedikit pun di rerumputan yang melambai-lambai. Ke arah timur sayup-sayup aku mendengar suara mata air menggelegak.

Tempat ini tidak terlalu memesona tanpa cahaya matahari, namun tetap sangat indah dan tenang. Sekarang bukan musimnya bunga-bunga liar; permukaannya tertutup rumput tebal yang mengayun tertiup angin sepoi-sepoi, bagaikan riak air di permukaan danau.

Ini tempat yang sama... tapi aku tidak menemukan yang kucari-cari di sini.

Kekecewaan datang nyaris seketika seperti saat

kesadaran itu datang. Aku terhenyak ke tanah,

berlutut di pinggir padang terbuka, mulai

terengahengah.

Apa gunanya pergi lebih jauh lagi? Tak ada yang tertinggal di sini. Tidak lebih dari kenangan yang bisa kupanggil kembali setiap kali aku menginginkannya, asal aku rela menanggung kepedihan yang menyertainya—kepedihan yang kurasakan sekarang, yang membuatku menggigil.

Tidak ada yang istimewa dengan tempat ini bila dia tak ada. Aku tak yakin benar apa yang kuharap akan kurasakan di sini, tapi padang rumput ini hampa oleh atmosfer, hampa oleh segalanya, sama seperti tempat-tempat lain. Sama seperti mimpi burukku. Kepalaku berputar-putar, pusing sekal. Setidaknya aku datang sendirian.

Aku merasakan serbuan perasaan syukur saat menyadari hal itu. Kalau aku menemukan padang rumput ini bersama Jacob... Well, aku tak mungkin bisa menyamarkan lubang tak berdasar tempatku jatuh sekarang. Bagaimana aku bisa menjelaskan keadaanku yang hancur berkepingkeping, kondisiku yang meringkuk seperti bola untuk menjaga agar lubang kosong itu tidak mencabik-cabik tubuhku? jauh lebih baik bila tidak ada yang melihatku.

Dan aku juga tak perlu menjelaskan pada siapa pun mengapa aku begitu tergesa-gesa meninggalkan tempat ini. Jacob pasti akan berasumsi, setelah begitu bersusah-payah melacak keberadaan tempat ini, bahwa aku ingin menghabiskan waktu lebih dari hanya beberapa detik di sini.

Tapi sekarang pun aku sudah berusaha mendapatkan kekuatan untuk bisa berdiri lagi. memaksa diriku bangkit supaya bisa pergi dari sini. Terlalu banyak kepedihan yang harus ditanggung di tempat kosong ini—kalau perlu aku bahkan tidak keberatan merangkak.

Untung saja aku sendirian!

Sendirian. Aku mengulangi kata itu dengan kepuasan muram sambil memaksa diriku bangkit meski hatiku sakit sekali. Tepat saat itu sesosok tubuh melangkah keluar dari sela-sela pepohonan di sebelah utara, kira-kira tiga puluh langkah jauhnya.

Berbagai macam emosi berkecamuk dalam diriku detik juga. Pertama adalah terkejut; aku berada jauh dari jalan setapak mana pun, dan tidak mengira akan ada orang lain di sini.

Kemudian saat mataku terfokus pada sosok tak bergerak itu, melihat tubuhnya yang bergeming dan kulitnya yang pucat, serbuan harapan yang menyakitkan mengguncangku. Aku menekannya habis-habisan, berjuang melawan sayatan pedih penderitaan saat mataku menjalar ke wajah di

bawah rambut yang hitam, bukan wajah yang ingin kulihat. Berikutnya muncul rasa takut; ini bukan wajah yang kutangisi, namun jaraknya cukup dekat hingga aku tahu cowok yang menghadap ke arahku itu bukan hiker yang tersesat.

Kemudian, akhirnya, aku mengenalinya.

"Laurent!" pekikku, kaget bercampur senang. Respons yang tak masuk akal. Mungkin seharusnya aku berhenti pada perasaan takut. Laurent adalah salah satu anggota kelompok James saat kami pertama kali bertemu.

Ia tidak ikut dalam perburuan yang terjadi kemudian— perburuan di mana akulah mangsanya—tapi itu hanya karena ia takut; aku dilindungi kelompok lain yang lebih besar daripada kelompoknya. Akan lain ceritanya kalau tidak begitu—saat itu ia tidak menyesal tidak menjadikanku makanannya.

Tentu saja ia pasti sudah berubah, karena ia pergi ke Alaska untuk tinggal bersama kelompok beradab lain, keluarga lain yang juga menolak minum darah manusia demi alasan etis. Keluarga lain seperti... tapi aku tidak membiarkan diriku memikirkan nama itu.

Ya, takut pasti lebih masuk akal, tapi yang kurasakan hanya kepuasan berlebihan. Padang rumput ini kembali menjadi tempat magis. Magis yang lebih gelap daripada yang kuharapkan, jelas, namun tetap magis. Inilah koneksi yang kucari.

Bukti, walau bagaimanapun kecilnya, bahwa—di suatu tempat di dunia yang sama dengan tempatku tinggal—dia ada.

Penutup Novel Twilight (New Moon)PADANG RUMPUT Bab 56

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port PADANG RUMPUT Bab 56 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya