Thursday, March 3, 2022

Bab 51 Novel Twilight (NEW MOON) – KAMBING CONGEK - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 51 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – KAMBING CONGEK Bab 51

Sesudah itu aku benar-benar menonton filmnya, tertawa bersamanya saat adegannya makin lama makin konyol. Bagaimana aku bisa melawan garis batas dalam hubungan kami yang makin lama makin kabur ini kalau aku sangat menikmati kebersamaanku dengannya? Baik Jacob maupun Mike sama-sama menumpangkan lengannya di lengan kursiku, satu di kiri, satu di kanan.

Tangan mereka sama-sama ditumpangkan dengan sikap santai, telapak tangan menghadap ke atas, dalam posisi yang kelihatannya tidak natural. Seperti jebakan beruang dari baja, terbuka dan siap menjerat mangsa.

Jacob punya kebiasaan meraih tanganku setiap kali ada kesempatan, tapi di sini, di dalam bioskop yang gelap, dengan Mike melihat, hal itu bisa diartikan berbeda—dan aku yakin ia tahu itu. Aku tidak percaya Mike memikirkan hal yang sama, tapi tangannya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Jacob.

Novel Twilight (NEW MOON)


Kulipat kedua tanganku erat-erat di dada dan berharap tangan mereka akan berhenti beraksi. Mike-lah yang pertama menyerah. Ketika film sudah berjalan kira-kira setengahnya, ia menarik lengannya dan nun condongkan tubuh ke depan, memegang kepalanya dengan tangan.

Mulanya kukira ia bereaksi pada sesuatu yang ada di layat, tapi kemudian ia mengerang.

"Mike, kau tidak apa apa?" bisikku.

Pasangan di depan kami menoleh dan memandangi Mike waktu ia mengerang lagi.

“Tidak,” jawabnya terengah.

“Sepertinya aku sakit."

Aku bisa melihat kilauan keringat di wajahnya dengan bantuan cahaya dari layar. Mike mengerang lagi, lalu bangkit dan menghambur ke pintu. Aku berdiri untuk mengikutinya, dan Jacob langsung meniruku.

“Kau tidak perlu ikut. Jangan biarkan delapan dolarmu terbuang sia-sia," desakku saat berjalan menyusuri gang di tengah deretan kursi bioskop.

"Tidak apa-apa. Kau benar-benar jago memilih film, Bella. Filmnya konvol banget,” Suara Jacob berubah dari berbisik menjadi normal, begitu kami keluar dari teater.

Tidak tampak tanda-tanda Mike di ruang tunggu, dan aku senang Jacob tadi memutuskan keluar bersamaku—ia bisa menyelinap ke toilet cowok untuk mengecek keberadaan Mike di sana.

Beberapa detik kemudian, Jacob kembali.

“Oh, memang benar dia ada di sana," katanya, memutar bola matanya.

"Dasar lembek. Seharusnya kau mengajak orang yang perutnya lebih kuat. Orang yang tertawa kalau melihat darah membuat cowok lembek muntah."

"Akan kubuka mataku lebar-lebar, kalau-kalau ada orang seperti itu."

Kami hanya berdua di ruang tunggu. Kedua teater sedang memutar film, jadi ruang tunggu kosong melompong—cukup sunyi sehingga kami bisa mendengar bunyi berondong jagung meletupletup di kios makanan di lobi.

Jacob duduk di bangku berlapis beledu yang menempel di dinding, menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.

"Kedengarannya dia bakal lama di dalam sana," katanya, menjulurkan kakinya yang panjang, bersiap-siap menunggu.

Sambil mendesah aku ikut duduk bersamanya. Tampaknya Jacob berpikir untuk mengaburkan garis batas di antara kami lagi. Benar saja, begitu aku duduk, ia membuat gerakan untuk merangkul pundakku.

"Jake," protesku, berkelit. Jacob menurunkan tangannya, tidak tampak tersinggung oleh penolakanku tadi. Ia mengulurkan tangan dan dengan mantap meraih tanganku, menarik pinggangku waktu aku berusaha berkelit lagi. Dari mana ia memperoleh kepercayaan dirinya itu?

"Tunggu sebentar, Bella," katanya, suaranya tenang.

"Jawab dulu pertanyaanku." Aku meringis. Aku tidak ingin melakukan ini. Tidak sekarang, tidak nanti. Tidak ada hal lain yang tersisa dalam hidupku saat ini yang lebih penting daripada Jacob Black. Tapi sepertinya ia bertekad ingin mengacaukan semuanya.

"Apa?" gerutuku masam.

"Kau suka padaku, kan?"

"Kau tahu aku suka padamu."

"Lebih daripada badut yang sedang muntahmuntah di dalam sana itu, kan?" Jacob menuding pintu toilet.

"Ya," aku mendesah.

"Lebih daripada cowok-cowok yang kaukcnal?" Sikapnya kalem, tenang—seolah-olah jawabanku tidak penting, atau ia sudah tahu jawabannya.

"Lebih daripada cewek-cewek juga," jawabku.

"Tapi hanya itu," katanya, dan itu bukan pertanyaan.

Sulit sekali menjawabnya, sulit mengucapkan kata itu. Apakah ia bakal sakit hati dan menghindariku? Bagaimana aku bisa kuat menghadapinya?

"Ya," bisikku.

Jacob nyengir. "Itu tidak apa-apa, tahu. Asalkan kau paling suka padaku. Dan kau menganggapku ganteng—kayaknya Aku siap menjadi orang yang gigih dan menjengkelkan."

"Perasaanku tidak akan berubah,” kataku, dan meski berusaha agar suaraku tetap normal, aku bisa mendengar nada sedih di dalamnya. Ekspresinya seperti berpikir, tak lagi menggoda.

"Pasti masih karena yang satu itu, kan?" Aku meringis.

Lucu juga bagaimana ia seolah tahu untuk tidak mengucapkan namanya—seperti sebelumnya di mobil mengenai musik. Jacob menangkap banyak hal tentang aku tanpa aku perlu menjelaskannya.

"Kau tidak perlu membicarakannya," kata Jacob.

Aku mengangguk, bersyukur.

"Tapi jangan marah padaku kalau aku mendekatimu terus, oke?" Jacob menepuk-nepuk punggung tanganku.

"Karena aku tidak mau menyerah. Aku masih punya banyak waktu."

Aku mendesah.                              

"Seharusnya kau tidak menyianyiakannya untukku," kataku, meski aku menginginkannya.

Apalagi karena ia mau menerimaku dalam keadaanku yang seperti ini— barang rusak, apa adanya.

"Aku memang ingin melakukannya, selama kau masih suka bersamaku."

"Aku tidak bisa membayangkan aku tidak suka bersamamu,” ungkapku jujur.

Jacob berseri-seri. "Itu sudah cukup buatku."

"Hanya saja jangan berharap lebih," aku mengingatkan, mencoba menarik tanganku.

Jacob terus memeganginya dengan gigih.

"Ini tidak membuatmu rikuh, kan?" tanyanya, meremas jari-jariku.

"Tidak," desahku. Sejujurnya, rasanya menyenangkan. Tangannya jauh lebih hangat daripada tanganku; aku selalu merasa kedinginan belakangan ini.

"Dan kau tidak peduli pada apa yang dia pikirkan." Jacob menyentakkan ibu jarinya ke arah toilet.

"Kurasa tidak."

"Kalau begitu apa masalahnya?"

"Masalahnya," ujarku,

"karena ini artinya berbeda bagiku dan bagimu."

"Well," Jacob mempererat genggamannya.

"Itu masalahku, kan?"

"Terserahlah," gerutuku.

"Jangan lupa, tapi."

"Aku tidak akan lupa. Pin-nya sudah dilepaskan dari granatnya, sekarang, he?" Ia menohokkan jarinya ke rusukku.

Aku memutar bola mata. Kurasa kalau ia ingin menjadikan masalah ini sebagai lelucon, itu haknya.

Jacob berdecak pelan sebentar waktu jari manisnya menelusuri bekas luka di sisi tanganku.

"Lucu juga bekas lukamu di sini ini," katanya tiba-tiba, memuntir tanganku untuk mengamatinya.

"Bagaimana kejadiannya?” Telunjuk tangannya yang satu lagi menyusuri tepian bekas luka panjang berbentuk bulan sabit keperakan yang nyaris tak terlihat di kulitku yang pucat.

Aku merengut.

"Masa aku harus mengingat dari mana saja semua bekas lukaku berasal?" Aku menunggu kenangan itu menghantamku— membuka lubang yang menganga.

Tapi seperti yang sudah sering kali terjadi, kehadiran Jacob menjagaku tetap utuh.

Penutup Novel Twilight (New Moon)KAMBING CONGEK Bab 51

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port KAMBING CONGEK Bab 51 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya