Tuesday, March 1, 2022

Bab 48 Novel Twilight (NEW MOON) – ADRENALIN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 48 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – ADRENALIN Bab 48

"Selamat bersenang-senang," kata Billy sambil menggelinding menuju lemari es.

Charlie bukan tipe orang yang sulit, tapi sepertinya Billy jauh lebih longgar ketimbang dia. Aku mengemudikan trukku sampai ke ujung jalan tanah, berhenti dekat papan petunjuk yang menandai awal jalan setapak. Sudah lama sekah aku tak pernah lagi ke sini, dan perutku bereaksi dengan gugup. Bisa jadi ini sangat gawat. Tapi akan setimpal dengan hasilnya kalau aku bisa mendengarnya.

“Aku turun dan memandangi belukar hijau yang rapat.”

“Aku pergi ke arah ini," gumamku, menuding lurus ke depan.

"Hmmm,” gumam Jake.

"Apa?”

Ia melihat ke arah yang kutunjuk, lalu ke jalan setapak yang sudah ditandai dengan jelas, dan kembali lagi.

"Aku pasti mengira kau cewek penjelajah sejati."

“Enak saja." Aku tersenyum lemah.

"Aku ini pemberontak." Jacob tertawa, kemudian mengeluarkan peta kami.

"Tunggu sebentar." Ia memegang kompas dengan sikap ahli, memutar peta hingga mengarah ke tempat yang ia inginkan.

"Oke—garis pertama pada peta. Ayo cabut." Kentara sekali Jacob harus memperlambat langkah demi aku, tapi ia tidak mengeluh.

Novel Twilight (NEW MOON)


Aku berusaha untuk tidak memikirkan perjalanan terakhirku ke bagian hutan ini, ditemani seseorang yang sama sekali berbeda. Kenangan-kenangan normal masih tetap berbahaya. Kalau kubiarkan diriku tergelincir, aku akan mendapati diriku mencengkeram dada untuk menahannya tetap utuh, megap-megap kehabisan udara, dan bagaimana aku menjelaskan itu pada Jacob? Ternyata tetap memfokuskan diri pada masa sekarang tidak sesulit yang kuduga. Hutan ini sangat mirip dengan bagian lain semenanjung, dan kehadiran Jacob membuat suasana hatiku sangat jauh berbeda.

Jacob bersiul-siul riang, lagunya tidak kukenal, sambil mengayun-ayunkan kedua lengan dan berjalan ringan menembus semak belukar yang kasar. Bayang-bayang tak tampak segelap biasa.

Tidak dengan ditemani matahari pribadiku. Sesekali Jacob mengecek kompas, memastikan kami tetap di jalur yang benar. Kelihatannya ia benar-benar paham apa yang dilakukannya. Aku

ingin memujinya, tapi lalu mengurungkan niat. Tak diragukan lagi ia bakal menambahkan beberapa tahun ke usianya yang sudah menggelembung. Pikiranku berkelana sementara aku berjalan, dan rasa ingin tahuku muncul. Aku masih belum melupakan pembicaraan kami waktu itu di tebingtebing laut—selama ini aku menunggu Jacob mengungkitnya lagi, tapi kelihatannya itu tidak bakal terjadi.

"Hei... Jake?" tanyaku ragu-ragu.

"Yeah?"

"Bagaimana kabar... Embry? Dia sudah kembali normal?" Jacob terdiam sejenak, masih terus berjalan

dengan langkah-langkah panjang. Ketika berada kira-kira tiga meter di depan, ia berhenti untuk menungguku.

"Tidak. Dia belum kembali normal," kata Jacob begitu aku sampai di dekatnya, sudut-sudut mulutnya tertarik ke bawah. Ia belum mulai berjalan lagi. Seketika itu juga aku langsung menyesal sudah mengungkitnya.

"Masih bersama Sam?"

"Yep."

Jacob merangkul bahuku, dan ekspresinya tampak sangat galau sehingga aku tak berani menghalaunya dengan guyonan, seperti yang sebenarnya ingin kulakukan.

"Mereka masih memandangimu dengan sikap aneh?” aku separo berbisik.

Pandangan Jacob menerawang menembus pepohonan. "Kadang-kadang.”

“Dan Billy?”

“Sangat membantu, seperti yang sudah-sudah,” tukas Jacob dengan nada masam bercampur marah yang membuatku merasa tidak enak.

“Sofa kami selalu siap menampungmu," aku menawarkan.

Jacob tertawa, sikap masamnya yang tidak biasa mendadak lenyap.

“Tapi coba bayangkan betapa membingungkannya posisi Charlie—waktu Billy menelepon polisi bahwa aku diculik." Aku tertawa, senang melihat Jacob normal lagi.

Kami berhenti waktu Jacob berkata kami sudah berjalan hampir sepuluh kilometer, memotong ke barat sebentar, lalu kembali menyusuri jalur lurus sesuai gambar dalam petanya. Semua tampak sama persis seperti jalan masuk tadi, dan aku punya firasat pencarian tololku bisa dibilang gagal total.

Aku terpaksa mengakuinya waktu akhirnya hari mulai gelap, hari yang tak bermatahari meredup berganti malam tak berbintang, tapi Jacob justru lebih percaya diri. “Asal kau yakin kita memulainya dari tempat yang tepat..." Ia menunduk menatapku. "Ya, aku yakin."

“Maka kita pasti akan menemukannya," ia berjanji, menyambar tanganku dan menarikku menerobos semak pakis. Begitu keluar dari dalam semak, kulihat trukku bertengger di pinggir jalan.

Jacob melambaikan tangannya dengan bangga.

"Percayalah padaku."

"Kau hebat," aku mengakui.

"Tapi lain kali, jangan lupa bawa senter."

"Mulai sekarang, hiking menjadi kegiatan tetap kita setiap hari Minggu. Aku baru tahu ternyata jalanmu selamban itu."

Aku menyentakkan tanganku dari gandengannya dan berjalan sambil mengentak-entakkan kaki ke mobil, sementara Jacob terkekeh melihat reaksiku.

"Bagaimana, mau mencoba lagi besok?" tanyanya, menyusup masuk ke jok penumpang.

"Tentu. Kecuali kau mau pergi tanpa aku supaya aku tidak menahanmu dengan langkah-langkahku yang selamban siput.”

"Aku tahan kok," Jacob meyakinkan aku.

"Tapi kalau kita hiking lagi nanti, lebih baik kau memakai moleskinsemacam sepatu (mokasin yang terbuat dari kulit hewan berbulu. Berani bertaruh, kakimu pasti lecet-lecet dengan sepatu bot barumu itu.”

"Sedikit," aku mengakui. Rasanya kakiku memang lecet semua.

"Mudah-mudahan besok kita bisa melihat beruang. Aku agak kecewa juga soal itu."

"Ya, aku juga," sergahku sinis.

"Mungkin besok kita beruntung dan akan menjadi mangsa

binatang!"

"Beruang tidak suka makan manusia. Kita toh tidak enak-enak amat." Jacob nyengir padaku di dalam truk yang gelap. "Tentu saja, bisa jadi kau merupakan pengecualian. Berani bertaruh, kau pasti enak sekali."

"Terima kasih banyak," sahutku, membuang muka. Ia bukan orang pertama yang mengatakan hal itu.

Penutup Novel Twilight (New Moon)ADRENALIN Bab 48

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port ADRENALIN Bab 48 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya