Tuesday, March 1, 2022

Bab 47 Novel Twilight (NEW MOON) – ADRENALIN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 47 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – ADRENALIN Bab 47

Aku takut pada kehampaan, seperti yang selalu terjadi, tapi anehnya, aku juga tidak sabar menunggu saat-saat yang akan membuatku menjerit dan kemudian tersadar. Aku tahu mimpi buruk itu pasti berakhir.

Hari Rabu berikutnya, sebelum aku sampai di rumah dan UGD, dr. Gerandy menelepon ayahku untuk mengingatkan kemungkinan aku mengalami gegar otak dan menyarankannya untuk membangunkan aku setiap dua jam sekali sepanjang malam untuk memastikan itu tidak serius. Mata Charlie menyipit curiga mendengar penjelasan lemahku yang lagi-lagi mengatakan aku tersandung.

"Mungkin sebaiknya kau jangan lagi nongkrong di garasi, Bella,” Charlie menyarankan saat makan malam.

Aku panik, khawatir Charlie bakal mengeluarkan semacam dekrit yang melarangku pergi ke La Push, dan akibatnya aku tidak akan bisa mengendarai motorku lagi. Tapi aku tak mau menyerah—hari ini aku mengalami halusinasi paling menakjubkan.

Delusiku yang bersuara sehalus beledu itu berteriak-teriak padaku selama hampir lima menit sebelum akhirnya aku menginjak rem kelewat mendadak dan tubuhku terlempar membentur pohon. Untuk itu aku rela merasakan sakit yang akan kualami malam ini tanpa mengeluh.

Novel Twilight (NEW MOON)


“Aku bukannya tersandung di garasi," aku buruburu memprotes.

"Kami sedang hiking, dan aku tersandung batu."

"Sejak kapan kau suka hiking?" Charlie bertanya skeptis.

"Kerja di Newton's membuatku ketularan demam berpetualang," dalihku.

"Setiap hari menjual berbagai perlengkapan hiking, lama-lama penasaran juga."

Charlie menatapku tajam, tidak percaya.

“Aku akan lebih berhati-hati," janjiku, diamdiam menyilangkan jari-jariku di bawah meja.

"Aku tidak keberatan kau hiking di sekitar La Push, tapi jangan jauh-jauh dari kota, oke?"

"Kenapa?'

Well, belakangan ini aku sering mendapat laporan tentang kemunculan hewan-hewan liar. Petugas dari departemen kehutanan akan mengecek laporan-laporan itu, tapi untuk sementara waktu..."

“Oh, soal beruang besar itu," kataku, mendadak paham.

“Yeah, beberapa hiker yang datang ke Newton's juga mengaku melihatnya. Dad yakin ada beruang grizzly raksasa yang bermutasi di luar sana?" Kening ayahku berkerut.

"Pokoknya ada sesuatu. Jangan jauh-jauh dari kota. oke?"

"Tentu, tentu," aku buru-buru menyahut. Kelihatannya Charlie tidak begitu puas.

"Charlie mulai curiga," keluhku pada Jacob waktu aku menjemputnya sepulang sekolah pada hari Jumat.

"Mungkin untuk sementara kita jangan naik motor dulu." Jacob melihat ekspresi penolakan di wajahku dan menambahkan,

"Setidaknya untuk satu-dua minggu ini. Kau bisa kan menjauhi rumah sakit selama satu minggu?"

"Lantas, kita ngapain dong?" omelku.

Jacob tersenyum riang.

"Terserah kau." Aku memikirkannya sebentar—tentang apa yang kuinginkan.

Aku tidak suka membayangkan bakal kehilangan kedekatanku dengan kenangan tak menyakitkan itu, meski hanya beberapa detik— kenangan yang datang sendiri, tanpa aku perlu memikirkannya secara sadar.

Kalau aku tidak bisa naik motor, berarti aku harus mencari jalan lain untuk melakukan hal yang berbahaya dan memicu adrenalin, dan untuk itu diperlukan pemikiran yang serius serta kreativitas. Tidak melakukan apa-apa untuk sementara sepertinya tidak menarik.

Bagaimana kalau aku depresi lagi, bahkan walaupun sudah bersama Jake? Aku harus tetap menyibukkan diri.

Mungkin ada jalan lain, resep lain... tempat lain. Keliru besar mendatangi rumahnya, jelas. Tapi kehadiranmu pasti terpatri di suatu tempat, di tempat lain selain dalam diriku. Pasti ada tempat di mana kehadirannya terasa lebih nyata di antara lokasi-lokasi penting yang sarat kenangan manusia-manusia lain.

Ada satu tempat yang terlintas dalam benakku. Satu tempat yang akan selalu menjadi miliknya,

bukan milik orang lain. Tempat yang magis penuh cahaya. Padang rumput indah yang hanya pernah kulihat sekali dalam hidupku, benderang oleh sinar matahari dan kulitnya yang berpendar-pendar gemerlap.

Ide itu berpotensi besar menjadi senjata makan tuan—bisa jadi itu malah akan sangat menyakitkan. Bahkan memikirkannya saja sudah membuat dadaku nyeri oleh kehampaan.

Sulit rasanya menahan perasaan tetap tenang, agar tidak ketahuan. Tapi jelas, di sanalah tempatku pasti bisa mendengar suaranya. Lagi pula. aku sudah telanjur mengatakan pada Charlie bahwa aku pernah hiking...

"Apa yang kaupikirkan sampai serius begitu?" tanya Jacob.

"Well..." Aku mulai lambat-lambat.

"Dulu aku pernah menemukan tempat di dalam hutan—aku menemukannya waktu aku sedang, eh, hiking. Padang rumput kecil, pokoknya indah sekali. Entah apakah aku bisa menemukannya lagi sendiri. Mungkin bisa kalau mencoba beberapa kali..."

“Kita bisa memakai kompas dan peta," kata Jacob penuh percaya diri.

"Kau tahu dari mana memulainya?"

“Ya, tepat dari ujung jalan setapak di ujung jalan satu sepuluh berakhir. Arah selatan, kalau tidak salah."

"Bagus, Ayo kita cari." Seperti biasa, Jacob selalu bersemangat menerima ajakanku.

Tidak peduli betapa pun anehnya ajakanku itu. Maka, Sabtu siang aku mengikat sepatu bot hiking baruku—dibeli paginya dengan memanfaatkan diskon dua puluh persen khusus karyawan yang kupakai untuk pertama kali— menyambar peta topografi Semenanjung Olympic, lalu melaju ke La Push.

Kami tidak langsung mulai; pertama-tama, Jacob tengkurap di lantai ruang tamu—panjang badannya mengisi seluruh ruangan—dan, selama dua puluh menit penuh, menggambar jaring-jaring rumit di bagian-bagian tertentu pada peta sementara aku bertengger di kursi dapur mengobrol dengan Billy.

Sepertinya Billy sama sekali tidak khawatir mendengar rencana kami pergi hiking. Aku terkejut juga karena Jacob menceritakan padanya tentang rencana kami, padahal orang-orang banyak meributkan soal beruang itu. Aku ingin meminta Billy untuk tidak bercerita pada Charlie, tapi takut permintaan itu justru mendorongnya berbuat sebaliknya.

"Mungkin kita akan bertemu beruang super itu," canda Jacob, matanya tertuju pada desainnya. Aku cepat-cepat melirik Billy, takut ia bakal bereaksi seperti Charlie.

Tapi Billy hanya tertawa mendengar perkataan anaknya. "Mungkin sebaiknya kaubawa saja satu stoples madu, untuk jaga-jaga." Jacob terkekeh.

"Mudah-mudahan sepatu bot barumu bisa berlari cepat, Bella. Satu stoples madu tidak cukup untuk menahan beruang yang kelaparan."

"Aku hanya perlu berlari lebih cepat darimu."

"Selamat deh kalau begitu!" seru Jacob, memutar bola matanya sambil melipat peta.

"Ayo kita pergi.”

Penutup Novel Twilight (New Moon)ADRENALIN Bab 47

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port ADRENALIN Bab 47 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya