Tuesday, March 1, 2022

Bab 45 Novel Twilight (NEW MOON) – ADRENALIN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 45 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – ADRENALIN Bab 45

Kali ini aku mencoba mengengkol sendiri. Sulit sekali; aku harus meloncat sedikit agar bisa menginjak pedal sekuat tenaga, dan setiap kali melakukannya, sepeda motor itu seperti mencoba menjatuhkanku. Tangan Jacob menggelayut di atas setang, siap menangkapku kalau aku membutuhkannya.

Setelah beberapa kali mencoba dengan benar, bahkan ditambah dengan beberapa kali percobaan yang kurang tepat, baru mesinnya menyala dan meraung hidup di bawahku. Ingat bahwa ibaratnya aku sedang memegang granat, aku bereksperimen dengan memutar-mutar handel gas. Mesin langsung menggeram begitu handel gas diputar sedikit saja. Senyumku kini sama lebarnya dengan senyum Jacob.

"Hati-hati melepas koplingnya," Jacob mengingatkanku.

"Kau ingin bunuh diri, kalau begini? Jadi itu ya tujuannya?" suara itu berbicara lagi, nadanya galak.

Aku tersenyum kaku—masih berfungsi ternyata—dan mengabaikan pertanyaan itu. Jacob tidak akan membiarkan hal buruk menimpaku.

"Pulanglah ke Charlie," suara itu memerintahkan. Keindahannya membuatku terpesona.

Aku tak sanggup membiarkan ingatanku kehilangan suara itu, tak peduli berapa pun harga yang harus kubayar.

"Lepaskan pelan-pelan," Jacob menyemangatiku.

"Baiklah," jawabku. Aku agak resah waktu menyadari perkataanku itu menjawab pertanyaan mereka berdua.

Novel Twilight (NEW MOON)


Suara di kepalaku lagi-lagi menggeram mengatasi raungan mesin motor.

Berusaha fokus kali ini, tidak membiarkan suara itu mengagetkanku lagi, aku melepaskan cengkeramanku sedikit demi sedikit. Tahu-tahu giginya masuk dan motor menyentak maju. Dan aku pun terbang.

Terpaan angin kencang yang tadi tidak ada meniup kulitku hingga melekat erat di tengkorak dan menerbangkan rambutku ke belakang dengan kekuatan sangat besar, seolah-olah ada yang menjambaknya.

Perasaan mulas yang kurasakan tadi sebelum melaju lenyap sudah; adrenalin menderas di sekujur tubuh, menggelitik urat-urat nadiku. Pohon-pohon lewat cepat di sebelahku, kabur menjadi dinding hijau.

Tapi ini baru gigi satu. Kakiku beringsut-ingsut maju mendekati gigi sementara tanganku memutar setang untuk menambah gas.

"Tidak, Bella!" suara semanis madu itu memerintahkan dengan nada marah, tepat di telingaku.

"Hati-hati!"

Pikiranku sempat teralih sejenak dari kecepatan untuk menyadari bahwa jalanan ternyata mulai menikung pelan ke kiri, tapi aku masih tetap melaju lurus. Jacob belum mengajariku caranya membelok.

"Rem, rem," aku bergumam sendiri, dan secara naluri menginjak rem keras-keras dengan kaki kanan, seperti yang biasa kulakukan saat menyetir mobil.

Motor mendadak goyah di bawahku, pertama bergetar ke satu sisi dan baru kemudian ke sisi lain. Motor itu menyeretku ke arah dinding hijau, padahal kecepatanku kelewat tinggi. Aku berusaha membelokkan setang ke arah berlawanan, dan mendadak bobotku mendorong motor ke tanah, masih terus tergelincir ke arah pepohonan.

Sepeda motor itu kembali mendarat di atas tubuhku, meraung nyaring, menarikku melintasi pasir basah hingga membentur sesuatu yang tidak bergerak. Aku tak bisa melihat. Wajahku tersungkur ke dalam lumut.

Aku mencoba mengangkat kepala, tapi sesuatu menghalangiku. Aku pusing dan bingung. Kedengarannya ada tiga hal yang menggeram—motor di atasku, suara di kepalaku, dan sesuatu yang lain... "Bella!" Jacob berteriak, dan aku mendengar geraman motor lain berhenti

Motor itu tak lagi mengimpitku ke tanah, dan aku berguling untuk bernapas. Semua geraman itu diam.

"Wow," gumamku. Aku merasa sangat bergairah. Beginilah pasti resep jitu untuk halusinasiadrenalin ditambah bahaya ditambah perbuatan tolol. Sesuatu yang mendekati itu, paling tidak.

"Bella!" Jacob membungkuk cemas di atasku.

“Bella, kau masih hidup?"

"Aku baik-baik saja!” seruku antusias. Aku meregangkan otot-otot lengan dan kakiku. Kelihatannya semua masih berfungsi dengan baik.

Ayo kita lakukan lagi."

"Kurasa jangan." Jacob masih terdengar waswas. "Kurasa sebaiknya kuantar kau ke rumah sakit dulu.”

"Aku baik-baik saja."

“Ehm, Bella? Di dahimu ada luka robek yang besar sekali, dan darahmu mengucur deras." Jacob memberitahuku.

Aku meletakkan tangan di kepala. Benar saja, tanganku jadi basah dan lengket. Aku tidak mencium bau apa-apa kecuali lumut lembab di wajahku, dan itu mencegah datangnya mual.

"Oh, maafkan aku, Jacob." Kutekan luka itu kuat-kuat, seolah-olah dengan begitu aku bisa memaksa darah masuk kembali ke kepalaku. "Untuk apa kau meminta maaf karena berdarah?" tanya Jacob sambil memeluk pinggangku dan membantuku berdiri.

"Ayo kita pergi. Aku yang menyetir." Ia mengulurkan tangan, meminta kunci.

"Sepeda-sepeda motornya bagaimana?" tanyaku sambil menyerahkan kunci.

Jacob berpikir sebentar.

"Tunggu di sini. Dan ambil ini." Jacob membuka kausnya yang sudah ternoda darah, lalu melemparnya ke arahku. Kubuat kaus itu menjadi buntalan dan kutempelkan ke dahiku.

Aku mulai mencium baru darah; aku menarik napas dalam-dalam lewat mulut dan mencoba berkonsentrasi pada hal lain. Jacob melompat kembali menaiki sepeda motor hitam, menyalakan mesinnya dengan hanya sekali mengengkol, lalu langsung ngebut, menghamburkan pasir dan kerikil-kerikil kecil di belakangnya.

Ia tampak atletis dan profesional saat membungkuk ke depan di atas setang, kepala merunduk, wajah maju, rambut mengilat berkibarkibar menerpa kulit punggungnya yang cokelat kemerahan. Mataku menyipit iri. Aku yakin tidak terlihat seperti itu saat mengendarai motor.

Kaget juga aku menyadari betapa jauhnya aku mengendarai motorku. Aku nyaris tak bisa melihat Jacob di kejauhan waktu ia akhirnya sampai ke trukku. Ia melemparkan sepeda motor ke bak truk dan berlari ke sisi kemudi.

Aku benar-benar tidak keberatan waktu Jacob memacu trukku hingga suara mesinnya meraung memekakkan telinga. Kepalaku sedikit pusing, perutku mual, tapi lukaku tidak serius. Darah yang keluar dari luka kepala memang cenderung lebih banyak. Jacob sebenarnya tak perlu sepanik itu.

Penutup Novel Twilight (New Moon)ADRENALIN Bab 45

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port ADRENALIN Bab 45 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya