Tuesday, March 22, 2022

Bab 136 Novel Twilight (NEW MOON) – EPILOG—KESEPAKATAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 136 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – EPILOG—KESEPAKATAN Bab 136

"Aku akan berusaha... sekuat tenaga... untuk tidak melakukannya," kata Edward akhirnya.

 Kutatap ia dengan mulut ternganga lebar, tapi Edward tetap memandang lurus ke depan. Kami berhenti sebentar di depan tanda stop di pojok jalan.

Mendadak, aku ingat apa yang terjadi pada Paris ketika Romeo kembali. Pengarahan adegannya sederhana: Mereka bertarung. Paris kalah. Tapi ini konyol. Mustahil.

"Well" ujarku, menarik napas dalam-dalam, menggeleng untuk mengenyahkan kata-kata itu dari benakku.

"Hal seperti itu takkan pernah terjadi, jadi tidak ada alasan untuk mengkhawatirkannya. Dan kau tahu Charlie sedang memelototi jam sekarang. Sebaiknya cepat antar aku pulang sebelum aku dapat masalah lagi gara-gara pulang terlambat."

Aku menengadah padanya, tersenyum setengah hati.

Novel Twilight (NEW MOON)


Setiap kali menatap wajah Edward, wajah yang luar biasa sempurna itu, jantungku berdebar keras, kencang, dan sangat terasa dalam dadaku.

Kali ini debaran itu berpacu lebih cepat dari pada biasanya. Aku mengenali ekspresinya yang membeku seperti patung itu.

"Kau memang akan dapat masalah lagi, Bella," bisiknya dari sela-sela bibirnya yang tidak bergerak.

Aku bergeser lebih dekat, mencengkeram lengan Edward sambil mengikuti arah pandangnya. Entah apa yang kukira bakal kulihat—mungkin Victoria berdiri di tengah jalan, rambut merah menyalanya berkibar-kibar ditiup angin, atau sederet makhluk

tinggi berjubah hitam... atau sekawanan werewolf yang marah. Tapi aku tidak melihat apa-apa.

"Apa? Ada apa?"

Edward menghela napas dalam-dalam.

"Charlie..."

"Ayahku?" pekikku. Lalu Edward menunduk menatapku, dan ekspresinya cukup tenang hingga mampu meredakan sedikit kepanikanku.

"Charlie... mungkin tidak akan membunuhmu, tapi dia sedang berpikir-pikir untuk melakukannya," Edward memberitahu. Ia mulai menjalankan mobilnya, memasuki jalan rumahku, tapi melewati rumahku dan memarkir mobilnya di pinggir pepohonan.

"Memangnya aku melakukan kesalahan apa?" tanyaku terkesiap.

Edward menoleh ke belakang, ke arah rumah Charlie. Aku mengikuti arah pandangnya, dan melihat untuk pertama kalinya benda yang terparkir di jalan masuk, persis di sebelah mobil patroli ayahku. Mengilat, warnanya merah terang, mustahil terlewatkan. Motorku, berdiri gagah di sana.

Kata Edward tadi, Charlie sudah siap membunuhku, jadi ia pasti sudah tahu – bahwa sepeda motor itu milikku. Hanya ada satu orang di balik pengkhianatan ini.

"Tidak!" seruku kaget.

"Mengapa? Mengapa Jacob tega melakukan ini padaku?" Perasaan sakit karena dikhianati melanda hatiku. Padahal aku sangat percaya pada Jacob saking percayanya sampai aku menceritakan semua rahasiaku padanya. Seharusnya ia menjadi pelabuhan yang aman bagiku  orang yang selalu bisa kuandalkan.

Tentu saja hubungan kami saat ini sedang renggang rapi aku tidak mengira fondasi dasar hubungan kami telah berubah. Kusangka itu tidak bisa berubah!

Kesalahan apa yang kulakukan sehingga pantas diganjar seperti ini? Charlie bakal sangat marah dan lebih daripada itu, ia akan merasa sakit hati dan cemas. Apakah bebannya selama ini masih belum cukup? Tak pernah terbayang olehku Jake bisa begitu licik dan keju Air mataku merebak, terasa perih di mataku, tapi itu bukan air mata kesedihan.

Aku telah dikhianati. Tiba-tiba saja aku sangat marah sampai kepalaku berdenyut-denyut seperti mau meledak.

"Dia masih di sini?" desisku.

"Ya. Dia menunggu kita di sana," Edward memberi tahuku, mengangguk ke jalan setapak yang membelah pepohonan hutan yang rapat menjadi dua.

Aku melompat turun dari mobil, menghambur ke arah pepohonan dengan kedua tangan sudah mengepal, siap meninju.

Mengapa Edward harus lebih cepat daripada aku?

Ia sudah menyambar pinggangku sebelum aku sampai di jalan setapak itu.

"Lepaskan aku! Biar kubunuh dia! Dasar pengkhianat!” Aku meneriakkan makian itu ke arah pepohonan.

"Nanti Charlie dengar,” Edward mengingatkanku.

"Dan kalau dia sudah menyuruhmu masuk, dia bakal membeton pintunya, mencegahku masuk." Aku melirik ke arah rumah, dan sepertinya hanya sepeda motor merah mengilap itu saja yang tampak olehku. Aku marah sekali. Kepalaku berdenyut-denyut lagi.

"Beri aku kesempatan bicara sekali saja dengan Jacob kemudian aku akan menemui Charlie." Siasia saja aku memberontak minta dilepaskan.

"Jacob Black ingin bertemu denganku. Karena itulah dia masih di sini."

Aku langsung kaget—aku serta-merta berhenti meronta-ronta. Kedua tanganku terkulai lemas.

Mereka bertarung; Paris kalah.

Aku memang marah, tapi tidak semarah itu.

"Bicara?" tanyaku.

"Kurang-lebih begitu."

"Lebihnya bagaimana?" Suaraku bergetar. Edward merapikan rambutku yang jatuh di sekitar wajah.

"Jangan khawatir, kedatangannya ke sini bukan untuk berkelahi denganku. Dia bertindak sebagai... juru bicara bagi kawanannya."

"Oh."

Edward menengok lagi ke arah rumah, mempererat rangkulannya di pinggangku, lalu menarikku ke arah hutan. "Kita harus bergegas. Charlie sudah mulai tidak sabar."

Kami tidak perlu pergi terlalu jauh; Jacob sudah menunggu tak jauh dari situ. Ia menunggu sambil bersandar di pohon berlumut, wajahnya keras dan getir, persis yang kubayangkan. Ia menatapku, kemudian Edward. Mulut Jacob menyeringai membentuk seringaian sinis, dan ia bergeser menjauh dari tempatnya bersandar.

Ia berdiri bertumpu pada bagian belakang kakinya yang telanjang, agak condong ke depan, mengepalkan kedua tangannya yang gemetar. Ia tampak lebih besar dibandingkan terakhir kali aku melihatnya. Entah bagaimana, meski rasanya mustahil, ia masih terus bertumbuh. Tubuhnya akan menjulang melebihi Edward, kalau mereka berdiri bersisian.

Tapi Edward langsung berhenti berjalan begitu kami melihat Jacob, menyisakan jarak yang cukup lebar di antara kami dan Jacob. Edward sengaja memosisikan tubuhnya begitu rupa sehingga aku berada di belakangnya. Aku menjulurkan badan melewati rubuhnya supaya bisa menatap Jacob— menuduhnya dengan mataku.

Tadinya aku mengira dengan melihat ekspresi Jacob yang sinis dan penuh kebencian akan membuatku semakin marah. Tapi ternyata aku malah teringat saat terakhir kali melihatnya, dengan air mata berlinang. Amarahku melemah, menggeletar, sementara aku menatap Jacob. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya— aku tidak suka reuni kami harus terjadi seperti ini

"Bella," kata Jacob sebagai salam, mengangguk satu kali ke arahku tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Edward.

"Kenapa?" bisikku, berusaha menyembunyikan suara tercekat di kerongkonganku.

"Tega-teganya kau berbuat begini padaku, Jacob?" Seringaian sinis itu lenyap, namun wajahnya tetap keras dan kaku.

"Ini yang terbaik."

“Apa maksud perkataanmu itu? Memangnya kau ingin Charlie mencekikku? Atau kau ingin dia kena serangan jantung, seperti Harry? Tak peduli betapapun marahnya kau padaku, tega-teganya kau melakukan ini padanya?"

Jacob meringis, alisnya bertaut, tapi ia tidak menjawab.

“Dia tidak ingin menyakiti siapa pun—dia hanya ingin kau dihukum, sehingga kau tidak diizinkan menghabiskan waktu denganku," gumam Edward, menjelaskan pikiran yang tak ingin diutarakan Jacob.

Penutup Novel Twilight (New Moon)EPILOG—KESEPAKATAN Bab 136

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port KESEPAKATAN Bab 136 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya