Tuesday, March 22, 2022

Bab 135 Novel Twilight (NEW MOON) – EPILOG—KESEPAKATAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 135 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – EPILOG—KESEPAKATAN Bab 135

EPILOG—KESEPAKATAN

HAMPIR semuanya kembali normal—normal seperti sebelum masa ini, ketika aku berkeliaran laksana mayat hidup dalam tempo sangat cepat, lebih daripada yang kuyakini bisa terjadi. Rumah sakit menerima Carlisle kembali dengan tangan terbuka, bahkan tidak merasa perlu menutupi kegembiraan mereka bahwa Esme tidak terlalu suka tinggal di LA.

Gara-gara aku tidak ikut ulangan Kalkulus karena harus pergi ke luar negeri waktu itu, nilai Alice dan Edward saat ini lebih bagus daripada aku untuk bisa lulus SMA. Tibatiba kuliah menjadi prioritas (kuliah masih tetap merupakan rencana B, untuk jaga-jaga siapa tahu tawaran Edward membuatku batal mengambil pilihan melakukannya dengan Carlisle sesudah lulus).

Sudah banyak tenggat waktu pendaftaran yang kulewatkan, tapi Edward menyodorkan setumpuk formulir baru untuk kuisi setiap hari. Ia sudah mengembalikan berkas pendaftarannya ke Harvard, jadi tidak masalah baginya bila, gara-gara aku terlalu banyak berleha-leha, kami terdampar di Peninsula Community College tahun depan.

Novel Twilight (NEW MOON)


Charlie agak marah padaku, dan ia juga mendiamkan Edward. Tapi setidaknya Edward diizinkan – selama jam berkunjung yang sudah ditentukan masuk ke rumah lagi. Tapi aku tidak diizinkan keluar dari sana.

Aku hanya boleh keluar untuk bersekolah dan bekerja, jadi dinding-dinding kelasku yang berwarna kuning kusam mendadak terasa begitu mengundang bagiku. Itu berhubungan erat dengan orang yang duduk di meja di sebelahku.

Edward mengambil jadwalnya yang lama, jadi ia sekelas denganku di hampir semua pelajaran. Kelakuanku begitu aneh, sejak keluarga Cullen "pindah" ke LA, sehingga tak ada yang mau duduk di sampingku. Bahkan Mike, yang dulu selalu bersemangat memanfaatkan setiap kesempatan, sekarang pun seperti menjaga jarak. Dengan kembalinya Edward, delapan bulan terakhir nyaris bagaikan mimpi buruk yang mengganggu.

Nyaris, meski tidak persis seperti itu. Salah satunya, karena sekarang aku dihukum tidak boleh keluar rumah. Dan alasan lain, sebelum musim gugur waktu itu, aku tidak bersahabat dengan Jacob Black. Jadi, tentu saja, waktu itu aku belum merasa kehilangan dia.

Aku tidak bisa pergi ke La Push, dan Jacob tidak mau datang menemuiku. Ia bahkan tidak mau menerima teleponku.

Kebanyakan aku menelepon ke sana malammalam, setelah Edward diusir – jam sembilan tepat oleh Charlie yang meski muram tapi tampaknya sangat senang bisa mengusir Edward – dan sebelum Edward menyusup kembali ke kamarku lewat jendela setelah Charlie tidur.

Aku sengaja memilih waktu itu untuk melakukan panggilan yang sia-sia ini karena kulihat Edward selalu mengernyitkan muka setiap menyebut nama Jacob. Seperti tidak suka dan waswas... mungkin bahkan marah. Kurasa itu karena Edward juga punya prasangka buruk terhadap werewolf, walaupun tidak sevokal Jacob terhdap

"para pengisap darah”. Jadi. aku jarang menyebut-nyebut nama Jacob. Dengan Edward di dekatku, sulit memikirkan hal-hal yang tidak membahagiakan – bahkan memikirkan mantan sahabatku, yang saat ini mungkin sedang sangat tidak bahagia, gara-gara aku. Kalaupun aku memikirkan Jake, aku selalu merasa bersalah karena tidak sering memikirkan dia.

Dongeng itu sudah kembali. Sang pangeran sudah kembali, dan kutukan jahat dilenyapkan. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap karakter lain yang tertinggal dan tidak ikut bahagia. Apakah kisah ini juga akan berakhir bahagia selamanya untuk dia?

Minggu-minggu berlalu, dan Jacob masih tidak mau menjawab teleponku. Hal ini mulai membuatku terus-menerus khawatir. Seperti keran bocor di belakang kepalaku yang tidak bisa kumatikan atau kuabaikan. Tes, tes, tes. Jacob, Jacob, Jacob.

Jadi, meski jarang menyebut-nyebut nama Jacob, terkadang perasaan frustrasi dan gelisahku meluap juga.

"Benar-benar brengsek!" aku mengomel panjangpendek pada Sabtu siang saat Edward menjemputku dari tempat kerja.

Lebih mudah melampiaskan amarah daripada merasa bersalah.

"Ini sama saja dengan menghina!"

Aku sudah mencoba segala cara, dengan harapan mendapat respons berbeda. Kali ini aku mencoba menelepon Jake dari tempat kerja, tapi teleponku dijawab Billy yang sama sekali tidak bisa membantu. Lagi-lagi.

"Kata Billy, Jacob tidak mau bicara denganku," aku meradang, memelototi hujan yang mengalir membasahi jendela mobil.

“Masa dia ada di sana, tapi tidak mau berjalan tiga langkah saja untuk menerima telepon! Biasanya Billy hanya mengatakan Jacob keluar, sibuk, tidur, atau semacamnya Maksudku, bukan berarti aku tidak tahu dia bohong padaku tapi paling tidak cara itu masih lebih sopan. Kurasa Billy juga benci padaku sekarang. Tidak adil!"

"Bukan begitu, Bella," ucap Edward tenang.

"Tidak ada yang benci padamu."

"Rasanya seperti itu," gerutuku, melipat kedua lengan di dada.

Sekarang itu hanya kebiasaan yang sulit diubah. Tidak ada lagi lubang di dadaku kini—aku bahkan sudah nyaris tidak ingat perasaan hampa yang pernah kurasakan.

"Jacob tahu kami sudah kembali, dan aku yakin dia tahu pasti aku bersamamu," jelas Edward.

"Dia tidak mau dekat-dekat denganku. Permusuhan itu sudah berurat akar dalam dirinya."

"Itu kan konyol. Dia tahu kau tidak... seperti vampir-vampir lain."

"Bukan berarti tidak ada alasan untuk menjaga jarak."

Aku memandang garang melalui kaca depan mobil. Yang kulihat hanya wajah Jacob, terpasung dalam topeng getir yang kubenci itu.

"Bella, memang beginilah keadaannya," kata Edward kalem.

"Aku bisa mengendalikan diri, tapi aku ragu dia bisa. Dia masih sangat muda. Besar kemungkinan akan terjadi perkelahian, dan aku tidak tahu apakah bisa menghentikannya sebelum aku membu" Edward mendadak berhenti bicara, kemudian cepat-cepat melanjutkan.

"Sebelum aku menyakitinya. Kau tidak akan senang. Aku tidak ingin itu terjadi."

Aku ingat apa yang dikatakan Jacob di dapur waktu itu, mendengar kata-kata yang ia ucapkan sambil mengenang suaranya yang parau. Aku tidak yakin akan cukup bisa mengendalikan diri untuk menghadapinya... Mungkin kau juga tidak suka kalau aku membunuh temanmu. Tapi, Jacob ternyata mampu mengendalikan diri, waktu itu...

"Edward Cullen," bisikku.

"Tadi kau mau mengatakan membunuhnya, kan? Iya, kan?” Edward membuang muka,

memandang ke hujan di luar. Di depan kami, lampu merah yang tadi tidak kusadari keberadaannya berubah menjadi hijau dan Edward menjalankan mobilnya kembali, mengemudikannya sangat lamban. Tidak biasanya ia menyetir sepelan ini.

Penutup Novel Twilight (New Moon)EPILOG—KESEPAKATAN Bab 135

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port KESEPAKATAN Bab 135 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya