Tuesday, March 22, 2022

Bab 134 Novel Twilight (NEW MOON) – PEMUNGUTAN SUARA - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 134 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PEMUNGUTAN SUARA Bab 134

"Pagi, Dad."

"Oh, hai, Bella." Charlie terdengar malu karena kepergok mengecek.

"Sudah bangun rupanya."

“Yeah. Sejak tadi aku menunggu Dad bangun supaya bisa mandi." Aku beranjak bangun.

"Tunggu dulu," tukas Charlie, menyalakan lampu. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, silau oleh nyala terang yang tiba-tiba, dan sehati-hati mungkin menjaga agar mataku tidak melirik terus ke lemari.

"Kita bicara dulu sebentar." Aku tak mampu tidak meringis. Aku lupa minta dicarikan alasan yang bagus oleh Alice.

“Kau tahu kau dalam masalah besar."

“Yeah, aku tahu."

“Aku sudah seperti orang gila tiga hari terakhir ini. Pulang dari pemakaman Harry, aku mendapati kau sudah pergi. Jacob hanya bisa mengatakan kau kabur bersama Alice Cullen, dan menurut dia, kau dalam kesulitan. Kau tidak meninggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi, dan kau juga tidak menelepon. Aku tidak tahu di mana kau berada atau kapan— atau apakah—kau akan pulang. Tidak tahukah kau betapa... betapa..." Charlie tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

Novel Twilight (NEW MOON)


Ia menarik napas tajam dan melanjutkan katakatanya.

"Bisakah kau memberiku satu saja alasan mengapa aku tidak perlu mengirimmu ke Jacksonville saat ini juga?"

Mataku menyipit. Jadi mau main ancam nih? Aku juga bisa kalau begitu. Aku duduk tegaktegak, menarik selimut yang menyelubungi tubuhku.

"Karena aku tidak mau pergi."

"Tunggu sebentar, young lady—"

"Begini, Dad, aku menerima tanggung jawab penuh atas ulahku kemarin, dan Dad berhak menghukumku selama yang Dad inginkan. Aku juga akan mengerjakan semua tugas rumah, termasuk mencuci pakaian dan piring, sampai Dad menganggapku kapok. Dan menurutku, Dad juga berhak mengusirku dari sini—tapi itu tidak akan membuatku pindah ke Florida."

Wajah Charlie langsung merah padam. Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali sebelum menjawab.

"Kau mau menjelaskan pergi ke mana kau kemarin?"

Oh, brengsek. "Ada... masalah gawat." Charlie mengangkat alis, sudah menduga aku bakal memberi penjelasan yang brilian seperti itu.

Aku menggelembungkan pipi lalu mengembuskannya dengan suara keras.

"Entah bagaimana aku bisa menamakannya, Dad. Intinya hanya salah paham. Yang ini bilang begitu, yang itu bilang begini. Akhirnya jadi rak terkendali.” Charlie menunggu dengan ekspres, tak percaya.

"Begini, Alice mengatakan pada Rosalie tentang aku melompat dari tebing..." Dengan panik aku berusaha memberikan penjelasan masuk akal, sebisa mungkin tetap menyatakan hal yang benar sehingga ketidakmampuanku berbohong dengan meyakinkan takkan terlalu kentara, tapi belum lagi aku sempat melanjutkan ceritaku, ekspresi Charlie mengingatkanku bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang masalah lompat tebing itu. Ya ampun.

Kayak aku belum kena masalah saja.

"Kurasa aku belum menceritakan itu pada Dad," sergahku tercekat.

"Bukan apa-apa kok. Hanya iseng, berenang bersama Jake. Pokoknya begini, Rosalie lantas memberi tahu Edward, dan Edward langsung kalap. Rosalie tanpa sengaja membuat ceritanya terdengar seolah-olah aku mencoba bunuh diri atau semacamnya. Edward tidak mau menjawab teleponnya, jadi Alice menyeretku ke... LA, untuk menjelaskan secara langsung." Aku mengangkat bahu, sepenuh hati berharap semoga Charlie tidak terlalu memerhatikan kekagokanku barusan sehingga tidak menyimak penjelasan brilian yang kuberikan padanya. Wajah Charlie langsung membeku. "Memangnya kau benar-benar berniat bunuh diri, Bella?"

“Tidak, tentu saja tidak. Hanya bersenangsenang dengan Jake. Terjun dari tebing. Anak-anak La Push sering melakukannya kok. Seperti kataku tadi, itu bukan apa-apa."

Wajah Charlie memanas dari membeku ke panas oleh amarah.

"Lantas, maksudnya Edward Cullen itu apa?" raungnya. “Selama ini, dia meninggalkanmu begitu saja tanpa penjelasan " Aku buru-buru memotongnya. "Lagi-lagi salah paham."

Wajah Charlie memerah lagi.

"Jadi sekarang dia kembali?"

"Aku belum tahu rencana pastinya bagaimana. Kalau tidak salah, mereka semua kembali."

Charlie menggeleng-gelengkan kepala, urat-urat nadi di keningnya menyembul.

"Aku ingin kau menjauhi dia, Bella. Aku tidak percaya padanya. Dia tidak baik untukmu. Aku tidak akan membiarkannya merusakmu seperti itu lagi."

"Baiklah," sergahku judes.

Charlie bertumpu pada tumitnya dan bergoyang maju-mundur.

"Oh." Ia tergagap sesaat, mengembuskan napas dengan suara keras karena terkejut.

"Kusangka kau akan bersikap sulit."

"Memang." Aku memandang lurus-lurus ke mata Charlie.

"Maksudku, 'Baiklah, aku akan keluar dari rumah ini.”

Mata Charlie melotot; wajahnya pucat pasi. Tekadku luntur saat aku mulai mengkhawatirkan kesehatannya. Charlie kan tidak lebih muda daripada Harry...

"Dad, aku tidak ingin keluar dari rumah ini," kataku lebih lembut.

"Aku sayang pada Dad. Aku tahu Dad khawatir, tapi Dad harus percaya padaku dalam hal ini. Dan Dad harus melunakkan sikap terhadap Edward kalau Dad ingin aku tetap tinggal di sini. Dad ingin aku tinggal di sini atau tidak?”

"Itu tidak adil, Bella. Kau tahu aku ingin kau tinggal di sini."

"Kalau begitu bersikaplah baik pada Edward, karena di mana ada aku, di situ ada dia." Aku mengucapkannya dengan sikap yakin. Keyakinan yang kudapat dari pencerahan itu masih kuat.

"Tidak di rumahku," Charlie mengamuk. Aku mengembuskan napas berat.

“Begini, aku memberi ultimatum lagi pada Dad malam ini – atau lebih tepatnya pagi ini. Pikirkan saja dulu selama beberapa hari, oke? Tapi tolong diingat bahwa Edward dan aku ibaratnya sudah satu paket.”

"Bella–"

"Pikirkan dulu," aku bersikeras.

"Dan sementara Dad memikirkannya, bisa tolong beri aku privasi? Aku benar-benar harus mandi.”

Wajah Charlie berubah warna menjadi ungu aneh, tapi ia keluar juga, membanting pintu keraskeras. Kudengar ia berjalan mengentak-entakkan kaki menuruni tangga.

Kulempar selimutku, dan tahu-tahu saja Edward sudah di sana, duduk di kursi goyang, seakanakan sudah di sana selama pembicaraanku dengan Charlie berlangsung.

"Maaf soal tadi," bisikku.

"Bukan berarti aku tidak pantas mendapatkan yang jauh lebih buruk," Edward balas berbisik.

"Jangan bertengkar dengan Charlie gara-gara aku, please."

"Sudahlah, jangan khawatir," desahku sambil mengemasi peralatan mandi dan satu setel pakaian bersih.

"Aku akan bertengkar dengannya kalau memang perlu, tapi tak lebih dari itu. Atau kau berusaha memberi tahuku bahwa kalau aku keluar dari rumah ini, aku tidak diterima di tempatmu?" Aku membelalakkan mata, pura-pura kaget.

"Memangnya kau mau pindah ke rumah penuh vampir?"

“Mungkin itu tempat paling aman untuk orang seperti aku. Lagi pula..." aku menyeringai.

"Kalau Charlie mengusirku, berarti tidak perlu menunggu sampai lulus, kan?" Rahang Edward mengeras.

"Begitu bersemangat ingin terkutuk selamanya," gerutunya.

“Kau tahu kau tidak benar-benar meyakini itu."

“Oh, begitu ya?" gerutunya.

"Tidak. Kau tidak percaya."

Edward menatapku tajam dan membuka mulut hendak bicara, tapi aku memotongnya.

"Kalau kau benar-benar percaya kau telah kehilangan jiwamu, maka waktu aku menemukanmu di Volterra, kau pasti langsung menyadari apa yang terjadi, bukannya mengira kita berdua sudah sama-sama mati. Tapi kau tidak begitu—kau malah berkata 'Luar biasa. Carlisle benar," aku mengingatkannya, merasa menang.

"Ternyata, kau masih berharap."

Sekali ini, Edward tak mampu mengatakan apaapa.

"Jadi marilah kita sama-sama berharap, oke?" saranku.

"Bukan berarti itu penting. Kalau ada kau, aku tidak butuh surga."

Pelan-pelan Edward bangkit, lalu merengkuh wajahku dengan kedua tangan sambil menatap mataku lekat-lekat.

"Selamanya," ia bersumpah, masih sedikit terperangah.

"Hanya itu yang kuminta," kataku, lalu berjinjit agar bisa menempelkan bibirku ke bibirnya.

Penutup Novel Twilight (New Moon)PEMUNGUTAN SUARA Bab 134

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port PEMUNGUTAN SUARA Bab 134 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya