Thursday, March 17, 2022

Bab 128 Novel Twilight (NEW MOON) – KEBENARAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 128 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – KEBENARAN Bab 128

“Ya?" tanya Edward, menunggu pertanyaanku. Aku malah mengajukan pertanyaan lain. Hampir— tapi tidak persis—sama susahnya. "Tapi bagaimana kalau nanti aku sudah tua sekali dan orang-orang mengira aku ibumu? Nenekmu?" Suaraku pucat oleh perasaan jijik aku bisa melihat wajah Gran lagi dalam mimpiku tentang bayangan dalam cermin waktu itu.

Seluruh wajah Edward melembut sekarang. Ia mengusap air mata dari pipiku dengan bibirnya.

"Itu tidak penting bagiku," embusan napasnya menerpa kulitku.

"Kau akan selalu menjadi orang yang paling cantik bagiku. Tentu saja..." Edward ragu-ragu, sedikit tersentak.

"Kalau kau menjadi lebih tua daripada aku kalau kau menginginkan sesuatu yang lebih aku bisa memahaminya, Bella. Aku berjanji tidak akan menghalangimu kalau kau ingin meninggalkan aku." Mata Edward tampak bagaikan batu akik cair dan benar-benar tulus.

Ia berbicara seolah-olah telah memikirkan rencana tolol ini masak-masak.

"Kau tentunya sadar suatu saat nanti aku akan mati, bukan?" desakku.

Edward juga sudah memikirkan hal itu. "Aku akan menyusulmu secepat aku bisa."

"Ini benar-benar..." Aku mencari kata yang tepat.

"Gila."

"Bella, hanya itu satu-satunya cara yang tertinggal—"

"Mari kita mundur dulu sejenak," tukasku; merasa marah membuatku jauh lebih mudah untuk berpikir jernih dan tegas.

Novel Twilight (NEW MOON)


"Kau pasti masih ingat pada keluarga Volturi, kan? Aku tidak bisa tetap menjadi manusia selamanya. Mereka akan membunuhku. Walaupun seandainya mereka tidak memikirkan aku sampai aku berumur tiga puluh tahun", aku mendesiskan kalimat itu

"apa kau benar-benar mengira mereka bakal lupa?"

"Tidak," jawab Edward lambat-lambat, menggelengkan kepala. "Mereka tidak akan lupa. Tapi..."

"Tapi?"

Edward menyeringai sementara aku menatapnya kecut. Mungkin bukan aku satu-satunya yang sinting di sini. "Aku punya beberapa rencana."

"Dan rencana-rencana itu," tukasku, suaraku semakin masam dalam setiap katanya.

"Rencanarencana itu pasti berpusat padaku yang tetap menjadi manusia.”

Sikapku membuat ekspresi Edward mengeras "Itu sudah jelas." Nadanya kasar, wajahnya yang bak malaikat itu arogan.

Kami bertatapan garang beberapa saat. Kemudian aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu, dan mendorong lengan Edward jauh-jauh supaya bisa duduk tegak.

"Kau ingin aku pergi?" tanya Edward, dan hatiku terasa nyeri melihat bagaimana pemikiran itu menyakiti hatinya, meski ia berusaha tidak menunjukkannya.

"Tidak." jawabku.

"Aku yang akan pergi."

"Boleh aku bertanya kau akan ke mana?" tanyanya.

"Aku akan pergi ke rumahmu," jawabku, masih menggapai-gapai tanpa melihat.

Edward berdiri dan menghampiriku. "Ini sepatumu. Kau akan naik apa ke sana?"

"Trukku."

“Suaranya mungkin akan membuat Charlie terbangun," kata Edward sebagai upaya untuk membuatku mengurungkan niat. Aku mendesah.

“Aku tahu. Tapi jujur saja, sekarang pun aku pasti akan dihukum tidak boleh keluar rumah beberapa minggu. Jadi mumpung sudah basah, kecebur saja sekalian."

"Itu tidak benar Charlie pasti akan menyalahkan aku, bukan kau."

"Kalau punya ide lain yang lebih baik, katakan saja."

“Tetaplah di sini." Edward menyarankan, tapi ekspresinya tidak berharap.

“Jangan harap. Tapi silakan saja kalau kau mau tetap di sini. Anggap saja di rumah sendiri," dorongku, kaget sendiri mendengar betapa wajarnya caraku menyindir, lalu bergegas menuju pintu.

Tiba-tiba saja Edward sudah berdiri di hadapanku, menghalangi jalan.

Aku mengerutkan kening, dan berbalik menuju jendela. Tidak terlalu tinggi kok dari tanah, dan di bawah sebagian besar berupa rerumputan... "Oke," desah Edward. "Aku akan membopongmu."

Aku mengangkat bahu.

"Terserah. Tapi mungkin sebaiknya kau juga berada di sana."

"Mengapa begitu?"

"Karena kalau kau sudah punya pendapat, sulit sekali mengubah pendapatmu. Jadi aku yakin kau pasti ingin mendapat kesempatan mengutarakan pandangan-pandanganmu."

"Pandangan-pandanganku mengenai apa?" tanya Edward dari sela-sela rahangnya yang terkatup rapat.

"Ini bukan lagi hanya mengenai kau. Kau bukan pusat semesta alam, tahu." Kalau pusat semesta alam pribadiku, tentu saja, adalah cerita lain.

"Kalau kau akan membuat keluarga Volturi mendatangi kita hanya gara-gara hal tolol seperti mempertahankan aku sebagai manusia, maka keluargamu perlu didengar juga pendapatnya."

"Pendapat mereka mengenai apa?" tanya

Edward, setiap kata diucapkan dengan jelas.

"Ketidakabadianku. Aku akan melakukan voting untuk menentukannya."

Penutup Novel Twilight (New Moon)KEBENARAN Bab 128

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port KEBENARAN Bab 128 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya