Thursday, March 17, 2022

Bab 125 Novel Twilight (NEW MOON) – KEBENARAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 125 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – KEBENARAN Bab 125

“Isabella Marie Swan," bisik Edward, ekspresi ganjil melintasi wajahnya.

Ia nyaris tampak marah.

"Jadi kau yakin aku meminta Volturi membunuhku karena merasa bersalah?" Aku bisa merasakan wajahku memancarkan sikap tidak mengerti.

"Memangnya bukan karena itu?"

"Merasa bersalah? Memang sangat. Lebih daripada yang bisa kaupahami."

“Jadi... apa maksudmu? Aku tidak mengerti."

"Bella, aku datang ke keluarga Volturi karena kukira kau sudah mati," ujarnya, suaranya lembut, matanya berapi-api.

“Bahkan seandainya aku tidak punya andil dalam kematianmu" Edward bergidik saat membisikkan kata terakhir itu –

“seandainya pun itu bukan salahku, aku akan tetap pergi ke Italia. Jelas, seharusnya aku lebih berhati-hati seharusnya aku langsung bicara pada Alice, bukan menerima begitu saja perkataan Rosalie. Tapi, bayangkan saja, aku harus berpikir bagaimana waktu pemuda itu berkata Charlie sedang menghadiri pemakaman? Apa kemungkinannya? “

Novel Twilight (NEW MOON)


"Kemungkinannya..." lalu Edward menggerutu, terusik.

Suaranya pelan sekali hingga aku tidak yakin mendengar perkataannya dengan benar.

"Kemungkinannya selalu berlawanan dengan keinginan kita. Kesalahan demi kesalahan. Aku tidak akan pernah mengkritik Romeo lagi."

"Tapi aku masih belum mengerti," kataku.

"Justru itulah intinya. Memangnya kenapa?"

"Maaf?"

"Memangnya kenapa kalau aku sudah mati?" Edward menatapku ragu beberapa saat sebelum menjawab.

"Kau tidak ingat apa yang pernah kukatakan padamu sebelumnya?”

"Aku ingat semua yang pernah kaukatakan padaku." Termasuk kata-kata yang menegaskan semuanya.

Edward membelai bibir bawahku dengan ujungujung jarinya yang dingin.

"Bella, sepertinya kau salah mengerti." Ia memejamkan mata, menggerakkan kepala ke depan dan ke belakang dengan senyum miring menghiasi wajahnya yang rupawan.

Bukan senyum bahagia.

"Kukira aku sudah menjelaskan dengan sangat jelas sebelumnya. Bella, aku tak sanggup hidup di dunia kalau kau tidak ada."

“Aku..." Kepalaku berputar sementara aku mencari-cari kara yang tepat.

"Bingung." Benar.

Penjelasannya sungguh tidak masuk akal bagiku. Edward menatap mataku dalam-dalam dengan tatapannya Kang tulus dan bersungguh-sungguh.

"Aku pembohong besar, Bella, aku harus jadi pembohong besar begitu.”

Aku mengejang, otot-ototku mengunci seolah bersiap menahan benturan. Otot dadaku mengejang, sakitnya luar biasa. Edward mengguncang bahuku, berusaha melenturkan posturku yang kaku.

"Dengarkan kata-kataku sampai selesai! Aku ini pembohong besar, tapi kau juga terlalu cepat percaya padaku." Edward meringis.

"Itu... sangat menyakitkan." Aku menunggu, masih kaku.

"Saat kita di hutan, waktu aku mengucapkan selamat tinggal—"

Aku tidak mengizinkan diriku mengingat kenangan buruk itu. Aku berusaha keras tetap berada di masa sekarang saja.

"Waktu itu kau tidak mau melepaskan aku," bisiknya.

"Aku bisa melihatnya. Aku tidak ingin melakukannya—sungguh sangat menyakitkan bagiku melakukannya—tapi aku tahu kalau aku tidak bisa meyakinkanmu bahwa aku tidak mencintaimu lagi, pasti baru lama sekali kau bisa kembali menjalani hidup. Aku berharap, bila kau mengira aku sudah tidak mencintaimu lagi, maka kau pun akan melakukan hal yang sama."

"Perpisahan seketika," bisikku dari sela-sela bibir yang tak bergerak.

"Tepat sekali. Tapi aku tak pernah membayangkan ternyata mudah saja membohongimu! Kusangka itu mustahil dilakukan bahwa kau akan sangat meyakini hal yang sebenarnya sehingga aku harus berbohong dulu mati-matian sebelum aku bisa menanamkan sedikit saja benih keraguan dalam pikiranmu. Aku bohong, dan aku sangat menyesal—menyesal karena menyakitimu, menyesal karena itu upaya yang sia-sia. Menyesal karena aku tidak bisa melindungimu dari diriku yang sebenarnya. Aku berbohong untuk menyelamatkanmu, tapi ternyata tidak berhasil. Maafkan aku.

"Tapi bagaimana bisa kau malah percaya padaku? Padahal sudah ribuan kali aku menyatakan cintaku padamu, bagaimana kau bisa membiarkan satu kata saja menghancurkan kepercayaanmu padaku?"

Aku tidak menjawab. Aku terlalu shock untuk bisa membentuk respons yang rasional.

"Aku bisa melihatnya di matamu, kau sejujurnya percaya aku tidak menginginkanmu lagi. Konsep yang paling absurd dan konyol—seolah-olah aku bisa bertahan tanpa membutuhkanmu!" Aku masih kaku.

Kata-katanya tidak kumengerti, karena tidak masuk akal. Edward mengguncang bahuku lagi, tidak keraskeras, tapi cukup membuat gigiku gemeletuk sedikit.

"Bella," desahnya.

"Sungguh, apa yang ada dalam pikiranmu waktu itu!"

Dan tangisku pun pecah. Air mata menggenang dan kemudian mengalir deras di kedua pipiku.

"Sudah kukira," isakku.

"Sudah kukira aku pasti bermimpi."

"Keterlaluan benar kau ini," sergah Edward, lalu tertawa-tawanya keras dan frustrasi.

"Bagaimana caranya aku menjelaskan supaya kau mau percaya padaku? Kau tidak sedang tidur, dan kau belum mati. Aku ada di sini, dan aku cinta padamu. Aku selalu mencintaimu, dan akari selalu mencintaimu. Aku memikirkanmu, melihat wajahmu dalam pikiranku, setiap detik selama kita berpisah. Waktu kubilang aku tidak menginginkanmu lagi, bisa dibilang itu semacam sumpah palsu yang paling konyol."

Aku menggeleng sementara air mata terus menetes dari sudut-sudut mataku.

“Kau tidak percaya padaku, kan?” bisiknya, wajahnya yang pucat sekarang lebih pucat daripada biasanya – aku bisa melihatnya bahkan di bawah cahaya lampu remang-remang.

“Mengapa kau malah percaya pada kebohongan, dan bukan kebenaran?”

"Memang tidak pernah masuk akal bahwa kau mencintaiku," aku menjelaskan suaraku tercekat.

"Sejak dulu aku tahu itu.”

Mata Edward menyipit, dagunya mengeras.

"Akan kubuktikan bahwa kau sudah bangun," janjinya.

Ia merengkuh wajahku di antara kedua tangannya yang sekeras besi, tak menggubris pemberontakanku saat aku berusaha memalingkan wajah.

"Kumohon, jangan," bisikku. Edward berhenti, bibirnya hanya beberapa sentimeter dari bibirku.

"Mengapa tidak?" tuntutnya. Napasnya berembus di wajahku, membuat kepalaku berputar.

"Kalau nanti aku terbangun" Edward membuka mulut untuk protes, maka aku pun buru-buru mengoreksi "oke, lupakan itu kalau kau pergi lagi nanti, tanpa ini pun keadaan sudah cukup sulit."

Penutup Novel Twilight (New Moon)KEBENARAN Bab 125

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port KEBENARAN Bab 125 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya