Thursday, March 17, 2022

Bab 124 Novel Twilight (NEW MOON) – KEBENARAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 124 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – KEBENARAN Bab 124

"Ceritanya bagaimana?" tanyaku, benar-benar ingin tahu, sekaligus berusaha keras menjaga agar obrolan terus berlangsung juga untuk menenangkan diriku sendiri, supaya aku tidak membuat Edward kabur ketakutan oleh kerinduan menggebu-gebu yang bergejolak dalam diriku.

"Apa maksudmu?"

“Aku harus menceritakan apa pada Charlie? Apa alasanku menghilang selama... omong-omong berapa hari aku pergi?" Aku berusaha menghitunghitung.

“Hanya tiga hari.” Tatapan Edward mengeras, tapi kali ini senyumnya lebih alami.

“Sebenarnya, aku berharap kau punya penjelasan bagus. Soalnya aku tidak tahu harus memberi alasan apa.” Aku mengerang.

"Hebat."

"Well mungkin Alice bisa memberi alasan yang tepat," kata Edward, berusaha menghibur hatiku.

Dan aku merasa terhibur. Siapa yang peduli apa yang harus kuhadapi nanti? Setiap detik ia di sini – begitu dekat, wajahnya yang sempurna berkilau dalam keremangan cahaya yang dipantulkan angka-angka jam alarmku – sangatlah berharga dan tidak patut disia-siakan.

"Jadi," aku memulai, memilih pertanyaan yang paling tidak penting—walaupun tetap sangat menarik—sebagai permulaan.

Novel Twilight (NEW MOON)


Aku sudah diantarkan dengan selamat sampai ke rumah, jadi sebentar lagi Edward mungkin akan memutuskan untuk pergi, kapan saja. Aku harus membuatnya terus bicara. Lagi pula, surga sementara ini tidak sepenuhnya komplet tanpa suaranya.

"Apa yang kaulakukan selama ini sampai tiga hari yang lalu?" Wajah Edward langsung kecut.

"Tidak ada yang menarik."

"Tentu saja tidak," gumamku.

"Mengapa kau mengernyitkan muka seperti itu?"

"Well.." aku mengerucutkan bibir, menimbangnimbang.

"Seandainya kau, misalnya, hanya mimpi, jawaban seperti itulah yang pasti akan kauucapkan. Imajinasiku pasti sudah mentok." Edward mendesah.

"Kalau aku menceritakannya padamu, apakah akhirnya kau akan percaya bahwa kau tidak sedang bermimpi buruk?" ,

"Mimpi buruk!" ulangku sinis. Edward menunggu jawabanku.

"Mungkin," jawabku secelah berpikir sejenak.

“Kalau menceritakannya padaku."

"Selama ini aku... berburu."

"Masa hanya itu yang kaulakukan?” kritikku.

“Itu jelas tidak membuktikan aku sudah terbangun.”

Edward ragu-ragu, kemudian berbicara lambatlambat, memilih kata-kata dengan saksama.

"Aku bukan berburu makanan... sebenarnya aku mencoba belajar... mencari jejak. Aku kurang bagus dalam hal itu.”

“Apa yang kaulacak?" tanyaku, tertarik.

"Bukan sesuatu yang penting." Kata-kata Edward tidak sejalan dengan ekspresinya; ia tampak gelisah, tidak nyaman.

"Aku tidak mengerti."

Edward ragu-ragu; wajahnya, mengilat oleh bias hijau aneh lampu jam, tampak terkoyak.

"Aku—" Edward menarik napas dalam-dalam.

"Aku berutang maaf padamu. Tidak, tentu saja aku berutang banyak padamu, jauh lebih banyak daripada itu. Tapi kau harus tahu—" kata-kata mulai mengalir sangat cepat.

Seingatku, beginilah cara Edward bicara bila sedang gelisah, sehingga aku harus berkonsentrasi penuh untuk menangkap semuanya  "bahwa aku sama sekali tidak tahu. Aku tidak menyadari kekacauan yang kutinggalkan. Kusangka kau aman di sini. Sangat aman. Aku tidak mengira Victoria—" bibir Edward melengkung ke belakang saat mengucapkan nama itu "akan kembali.

Harus kuakui, ketika melihatnya waktu itu, aku lebih memerhatikan pikiran James. Tapi aku sama sekali tidak melihat respons semacam ini dalam dirinya. Bahwa dia bahkan memiliki hubungan dengan James. Kurasa aku mengerti sekarang Victoria sangat yakin pada James, jadi tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa James bisa gagal. Rasa percaya diri yang terlalu berlebihanlah yang menutupi perasaannya terhadap James – itu membuatku tidak melihat besarnya cinta Victoria kepada James, serta hubungan batin yang terjalin di antara mereka.

"Bukan berarti tindakanku meninggalkanmu menghadapi bahaya semacam itu bisa dimaafkan. Waktu aku mendengar apa yang kaukatakan pada Alice—apa yang dilihatnya sendiri—waktu aku sadar ternyata kau sampai harus bergaul dengan werewolf, werewolf yang tidak dewasa, kasar, makhluk terburuk lain selain Victoria—" Edward bergidik dan serbuan kata-katanya terhenti sejenak.

"Ketahuilah, aku sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Aku merasa muak, muak luar biasa, bahkan sampai sekarang, setiap kali aku bisa melihat dan merasakan kau aman dalam pelukanku. Sungguh bodoh dan tolol aku ini—"

"Hentikan," aku memotong perkataannya.

Edward menatapku sedih, dan aku berusaha menemukan kata-kata yang tepat—yang akan membebaskan Edward dari kewajiban rekaannya sendiri ini, yang membuatnya sangat menderita. Tidak mudah mengutarakannya.

Entah apakah aku bisa mengucapkannya tanpa menangis. Tapi aku harus mencoba melakukannya dengan benar. Aku tidak mau menjadi sumber perasaan bersalah dan kesedihan dalam hidupnya. Seharusnya Edward bahagia, tak peduli bagaimana akibatnya bagiku.

Aku benar-benar berharap bisa menunda bagian terakhir pembicaraan kami ini. Soalnya, ini hanya akan mengakhiri lebih cepat pertemuan kami.

Mengandalkan latihan selama berbulan-bulan untuk berusaha bersikap normal di hadapan Charlie, aku memasang ekspresi datar.

"Edward," kataku.

Mengucapkan namanya membuat tenggorokanku serasa terbakar. Aku bisa merasakan bayangan lubang itu,, siap menganga kembali dan mengoyak dadaku begitu Edward pergi nanti. Entah bagaimana aku bisa bertahan nanti. "Ini harus dihentikan sekarang.

Kau tidak boleh berpikir begitu. Kau tidak bisa membiarkan... rasa bersalah ini menguasai hidupmu. Kau tidak bisa bertanggung jawab atas hal-hal yang terjadi padaku di sini. Itu bukan salahmu, itu hanyalah bagian dari bagaimana kehidupan sebenarnya bagiku.

Jadi, kalau aku tersandung di depan bus atau hal lain suatu saat nanti, kau harus sadar bukan tugasmu untuk menyalahkan dirimu. Kau tidak boleh langsung kabur ke Italia hanya karena kau merasa bersalah tidak bisa menyelamatkan aku.

Bahkan seandainya aku terjun dari tebing itu untuk mati, itu pilihanku sendiri, bukan kesalahanmu. Aku tahu sudah menjadi... sifatmu menanggung rasa bersalah untuk segala sesuatunya, tapi kau benar-benar tidak bisa membiarkan hal itu membuatmu melakukan halhal ekstrem! Itu sangat tidak bertanggung jawab— pikirkan Esme dan Carlisle dan—" Aku nyaris tak bisa menahan tangis. Aku berhenti untuk menarik napas dalam-dalam, berharap bisa menenangkan diri. Aku harus membebaskannya. Aku harus memastikan ini tidak akan pernah terjadi lagi.

Penutup Novel Twilight (New Moon)KEBENARAN Bab 124

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port KEBENARAN Bab 124 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya