Wednesday, March 16, 2022

Bab 118 Novel Twilight (NEW MOON) – VONIS - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 118 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – VONIS Bab 118

"Ya, ya," jawab Aro riang.

"Tapi datanglah lagi kapan-kapan. Ini benar-benar mengasyikkan!"

“Dan kami juga akan mengunjungi kalian," Caius berjanji, matanya tiba-tiba separuh terpejam, seperti tatapan kadal yang kelopak matanya tebal.

"Untuk memastikan kalian menepati bagian kalian. Kalau aku jadi kau, aku tidak akan menunda terlalu lama. Kami tidak pernah menawarkan kesempatan kedua." Rahang Edward mengeras, tapi ia mengangguk.

Caius tersenyum sinis dan melenggang kembali ke tempat Marcus masih duduk, tidak bergerak dan tidak tertarik.

Felix mengerang.

"Ah, Felix," Aro tersenyum geli.

"Sebentar lagi Heidi datang. Sabarlah."

“Hmmm," Ada semacam kecemasan dalam suara Edward.

“Kalau begitu, mungkin sebaiknya kami pergi saja sekarang.”

“Benar," Aro sependapat.

"Itu ide bagus. Kecelakaan bisa saja terjadi Tapi kumohon kau mau menunggu di bawah sampai hari gelap, kalau kau tidak keberatan.”

“Tentu saja,” Edward setuju, sementara aku meringis membayangkan harus menunggu seharian sebelum bisa keluar dari sini.

"Dan ini," Aro menambahkan, memberi isyarat kepada Felix dengan satu jari. Felix langsung datang menghampirinya, dan Aro membuka jubah abu-abu yang dikenakan vampir bertubuh besar itu, melepasnya dari pundaknya. Dilemparkannya jubah itu pada Edward. "Ambillah. Kau agak terlalu menarik perhatian."

Novel Twilight (NEW MOON)


Edward memakai jubah itu, menurunkan penutup kepalanya. Aro mendesah. "Cocok untukmu." Edward tertawa, tapi mendadak terdiam, menoleh ke belakang.

"Terima kasih, Aro. Kami akan menunggu di bawah."

"Selamat jalan, sobat-sobat muda," kata Aro, matanya cemerlang saat ia memandang ke arah yang sama.

"Ayo kita pergi," kata Edward, nadanya mendesak sekarang.

Demetri memberi isyarat agar kami mengikutinya, kemudian beranjak menuju pintu tempat kami datang tadi. Tampaknya, itu satusatunya jalan keluar.

Edward menarik tanganku dan berjalan cepatcepat. Alice merapat di sisiku yang lain, wajahnya keras.

"Masih kurang cepat," gumamnya.

Aku mendongak padanya, ketakutan, tapi Alice hanya tampak sedih. Saat itulah pertama kalinya aku mendengar celotehan orang-orang mengobrol— keras dan kasar—terdengar dari arah ruang depan.

"Well, ini tidak biasa," dentum suara kasar seorang laki-laki.

"Sangat abad pertengahan," balas seorang wanita dengan suaranya yang melengking tinggi dan tidak enak didengar.

Serombongan besar orang melewati pintu yang kecil, memenuhi ruangan berdinding baru yang lebih kecil. Demitri memberi isyarat pada kami agar menepi. Kami menempel rapat-rapat di dinding yang dingin untuk memberi jalan pada mereka. Pasangan yang berjalan paling depan, orangorang Amerika kalau mendengar aksennya, memandang berkeliling dengan sikap menilai.

"Selamat datang, Tamu-Tamu! Selamat datang di Volterra!" Aku bisa mendengar Aro berseru riang dari ruangan menara yang besar.

Anggota rombongan lain, jumlahnya mungkin empat puluh atau lebih, berbaris masuk setelah pasangan tadi. Beberapa mengamari keadaan sekelilingnya seperti turis. Beberapa bahkan memotret. Yang lain-lain tampak bingung, seolaholah cerita yang membawa mereka ke ruangan ini sekarang tak lagi masuk akal.

Perhatianku tertarik pada wanita mungil berkulit gelap. Di lehernya melingkar rosario, dan wanita itu mencengkeram salib erat-erat dengan satu tangan. Ia berjalan lebih lambat daripada yang lain, sesekali menyentuh anggota rombongan lain dan bertanya dalam bahasa yang tidak kumengerti.

Sepertinya tidak ada yang memahaminya, dan suara wanita itu terdengar semakin panik. Edward menarik wajahku ke dadanya, tapi terlambat. Aku sudah mengerti. Begitu ada celah yang memungkinkan untuk lewat, Edward cepat-cepat mendorongku ke arah pintu. Aku bisa merasakan ekspresi ngeri tergurat di wajahku, dan air mataku mulai menggenang.

Aula emas penuh ukiran itu sunyi, kosong tanpa kehadiran siapa pun, kecuali seorang wanita jelita yang tampak bagai patung. Ia memandangi kami dengan sikap ingin tahu, utama aku.

"Selamat datang kembali, Heidi," Demetri menyapa dari belakang kami.

Heidi tersenyum sambil lalu. Ia mengingatkanku pada Rosalie, meski tidak mirip sama sekali— hanya karena kecantikannya juga begitu luar biasa, tak terlupakan. Aku bagai tak mampu mengalihkan tatapan.

Wanita itu berpakaian begitu rupa untuk semakin menonjolkan kecantikannya. Kakinya yang luar biasa panjang tampak lebih gelap dalam balutan stoking, terpampang jelas di balik rok mininya yang superpendek. Blusnya berlengan panjang dan berleher tinggi namun sangat ketat, dan terbuat dari vinyl merah. Rambut panjangnya yang sewarna kayu mahoni itu mengilap, dan bola matanya berwarna ungu aneh—warna yang hanya mungkin dihasilkan lensa kontak biru yang menutupi iris berwarna merah.

"Demetri," wanita itu balas menyapa dengan suara selembut sutra, matanya berkelebat dari wajahku ke jubah abu-abu yang dikenakan Edward.

"Boleh juga hasil pancingannya," puji Demetri padanya, dan mendadak aku memahami dandanannya yang mencolok... ia bukan hanya pemancing, tapi sekaligus juga umpan.

"Trims." Heidi menyunggingkan senyum memesona.

"Kau tidak ikut?"

"Sebentar lagi. Sisakan beberapa untukku.” Heidi mengangguk dan merunduk melewati pintu sambil melayangkan pandangan ingin tahu sekali lagi ke arahku.

Edward berjalan sangat cepat hingga aku harus berlari-lari untuk bisa mengimbanginya. Tapi belum lagi kami berhasil mencapai pintu berukir di ujung aula, pekik jerit itu telah dimulai.

Penutup Novel Twilight (New Moon)VONIS Bab 118

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port VONIS Bab 118 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya