Wednesday, March 16, 2022

Bab 117 Novel Twilight (NEW MOON) – VONIS - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 117 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – VONIS Bab 117

Edward menahan marah di sampingku. Aku bisa mendengar gemuruh di dadanya, yang nyaris menjadi geraman. Aku harus berusaha agar amarahnya tidak membuatnya celaka.

"Tidak, terima kasih," aku angkat bicara dengan suara yang tak lebih dari bisikan, suaraku gemetar karena takut.

Aro mendesah. "Sayang sekali. Sungguh sia-sia." Edward mendesis.

"Bergabung atau mati, begitu? Aku sudah bisa menduganya waktu kami dibawa ke ruangan ini. Hukummu tidak berarti apa-apa." Nada suara Edward membuatku terkejut. Ia terdengar berang, tapi ada sesuatu yang disengaja dalam cara penyampaiannya – seolah-olah ia memilih kata-kata yang akan ia ucapkan dengan begitu saksama.

"Tentu saja tidak,” Aro mengerjap, terperangah.

"Kami memang sudah berkumpul di sini, Edward, menunggu Heidi kembali. Bukan karena kau."

"Aro," Caius mendesis.

"Hukum mengklaim mereka."

Edward menatap Caius garang, "Bagaimana bisa?" tuntutnya.

Novel Twilight (NEW MOON)


Dia pasti bisa membaca pikiran Caius, tapi sepertinya bertekad membuatnya mengutarakan pikiran itu dengan suara keras. Caius mengacungkan telunjuknya yang panjang kurus padaku. "Dia terlalu banyak tahu. Kau sudah mengekspos rahasia kita." Suaranya setipis kertas, sama seperti kulitnya.

"Di sini juga ada beberapa manusia dalam sandiwara kalian," Edward mengingatkan Caius, dan ingatanku langsung melayang pada resepsionis cantik di bawah.

Wajah Caius terpilin membentuk ekspresi baru. Apakah itu dimaksudkan sebagai senyuman? "Benar," ia sependapat.

"Tapi kalau mereka sudah tidak kami butuhkan lagi, mereka akan menjadi pemuas dahaga kami. Bukan begitu rencanamu untuk gadis yang satu ini Kalau dia membocorkan rahasia kita, apakah kau siap menghabisinya? Kurasa tidak," dengusnya.

"Aku tidak akan—" aku membuka mulut, masih berbisik.

Caius membungkamku dengan tatapan dingin.

"Kau juga tidak berniat menjadikannya salah satu dari kita,” lanjut Caius.

"Dengan begitu, dia ancaman bagi eksistensi kita. Meski ini benar, dalam hal ini hanya hiduplah yang dikorbankan. Kau boleh pergi kalau memang mau.”

Edward menyeringai, menunjukkan gigi-giginya.

“Sudah kukira,” kata Caius, dengan ekspresi menyerupai kegembiraan.

Felix mencondongkan tubuh, bersemangat.

“Kecuali..." Aro menyela. Kelihatannya ia tidak senang dengan arah pembicaraan ini.

“Kecuali kau memang berniat memberinya keabadian?” Edward mengerucutkan bibir, ragu-ragu sesaat sebelum menjawab.

"Dan kalau itu benar?" Aro tersenyum, kembali senang.

“Yah, kalau begitu kau boleh pulang dan menyampaikan salamku pada sobatku Carlisle." Ekspresinya berubah ragu. "Tapi aku khawatir kau harus bersungguh-sungguh dengan ucapanmu." Aro mengangkat tangan di hadapannya.

Caius, yang awalnya memberengut marah, berubah rileks. Bibir Edward mengejang membentuk garis marah. Ia menatap mataku, dan aku membalas tatapannya.

“Ucapkan dengan sungguh-sungguh," bisikku.

"Kumohon." Sebegitu menjijikkannyakah ide itu? Apakah Edward lebih suka mati daripada mengubahku? Perutku seperti ditendang.

Edward menunduk menatapku dengan ekspresi tersiksa.

Kemudian Alice melangkah menjauhi kami, maju mendekati Aro. Kami menoleh dan menatapnya.

Tangannya terangkat seperti Aro. Alice tidak mengatakan apa-apa, dan Aro melambaikan tangan kepada para pengawalnya yang bergegas datang untuk menghalangi Alice. Aro menemui Alice di tengah, dan meraih tangannya dengan mata memancarkan kilau tamak dan penuh semangat.

Aro menunduk ke atas tangan mereka yang saling menyentuh mata terpejam saat berkonsentrasi. Alice diam tak bergerak, wajahnya kosong. Aku mendengar Edward menggertakkan gigi.

Semua diam tak bergerak. Aro seakan membeku di atas tangan Alice. Detik demi detik berlalu dan semakin lama aku semakin tertekan, bertanyatanya sampai kapan ini akan terus berlangsung, apakah waktu sudah berlalu terlalu Uma Se belum itu berarti sesuatu yang buruk telah terjadi—lebih buruk daripada keadaan sekarang. Waktu terus berjalan dan terasa menyiksa, dan sejurus kemudian suara Aro mengoyak keheningan.

"Ha, ha, ha," ia tertawa, kepalanya masih tertunduk ke depan.

Ia mendongak perlahanlahan, matanya cemerlang oleh kegembiraan.

"Itu sangat menakjubkan!"

Alice tersenyum kering. "Aku senang Anda menikmatinya."

"Melihat berbagai hal yang telah kaulihat— terutama peristiwa-peristiwa yang belum terjadi!" Aro menggeleng-geleng takjub.

"Tapi akan terjadi," Alice mengingatkan, suaranya kalem.

"Ya, ya, itu sudah ditentukan. Tentu tidak ada masalah."

Caius tampak sangat kecewa—perasaan yang tampaknya juga dirasakan Felix dan Jane.

"Aro," tegur Caius.

“Caius Sayang," Aro tersenyum.

"Jangan cerewet. Coba pikirkan kemungkinan-kemungkinannya! Mereka memang tidak bergabung dengan kita hari ini, tapi kita selalu bisa berharap di masa mendatang. Coba bayangkan kegembiraan yang akan dibawa hanya oleh Alice saja ke keluarga kecil kita... Lagi pula, aku juga sangat ingin melihat bagaimana jadinya Bella nanti!"

Aro tampak yakin sekali. Apakah ia tidak sadar betapa subjektifnya penglihatan Alice? Bahwa ia bisa memutuskan untuk mengubahku hari ini, kemudian mengubahnya besok? Sejuta keputusan kecil, baik keputusannya maupun keputusan banyak pihak lain – juga Edward – dapat saja mengubah jalan hidupnya, sehingga dengan demikian, masa depan pun akan ikut berubah.

Dan apakah ada artinya bila Alice bersedia, apakah ada bedanya bila aku benar-benar berubah menjadi vampir, bila itu justru menjijikkan bagi Edward? Bila kematian, baginya, merupakan alternatif yang lebih baik daripada memilikiku di sisinya selamanya, menjadi gangguan yang abadi? Meski sangat ketakutan, aku merasa diriku terbenam dalam perasaan depresi, tenggelam di dalamnya...

"Kalau begitu kami boleh pergi sekarang?" tanya Edward datar.

Penutup Novel Twilight (New Moon)VONIS Bab 117

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port VONIS Bab 117 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya