Wednesday, March 16, 2022

Bab 114 Novel Twilight (NEW MOON) – VONIS - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 114 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – VONIS Bab 114

Aku ingin mengerang saat Edward menarikku memasuki pintu itu. Kami memasuki ruangan yang lagi-lagi terbuat dan batu tua seperti yang ada di alun-alun, di lorong, dan di saluran pembuang limbah.

Suasananya juga gelap dan dingin. Ruang peralihan dari batu itu tidak besar. Di baliknya ada ruangan lain yang lebih terang dan besar menyerupai gua, bentuknya bulat sempurna, seperti menara kasti yang besar... mungkin benar ini menara.

Dua lantai ke atas, tampak dua jendela berbentuk celah memanjang, membuat cahaya matahari yang menerobos melaluinya jatuh dalam bentuk persegi panjang di lantai batu di bawahnya. Tidak ada cahaya buatan.

Satu-satunya perabot di ruangan itu hanyalah beberapa kursi kayu besar seperti singgasana, yang diletakkan tidak beraturan, rata dengan dinding batu yang melengkung. Di pusat lingkaran, di cekungan pendek, terdapat saluran pembuangan limbah lagi. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah mereka menggunakannya sebagai jalan keluar, seperti lubang di jalan.

Novel Twilight (NEW MOON)


Ruang itu tidak kosong. Segelintir orang berkumpul, tampaknya sedang mengobrol santai. Gumaman suara-suara pelan dan halus terdengar bagai dengungan lembut di udara. Saat aku melihat, sepasang wanita pucat bergaun musim panas berhenti di bawah sepetak cahaya matahari, dan, seperti prisma, kulit mereka membiaskan pendar cahaya pelangi ke dinding-dinding cokelat kusam.

Wajah-wajah memesona itu menoleh begitu rombongan kami memasuki ruangan. Sebagian besar makhluk abadi itu mengenakan celana panjang dan kemeja biasa – pokoknya, pakaian yang tidak akan terlihat mencolok di jalan-jalan di bawah sana.

Namun lelaki yang pertama kali berbicara mengenakan jubah panjang. Warnanya hitam pekat, dan menyapu lantai. Aku sempat mengira rambut hitam kelamnya yang panjang adalah tudung jubahnya.

“Jane, Sayang, kau sudah kembali!” seru lelaki itu senang.

Suaranya terdengar seperti desahan lirih.

Lelaki itu melenggang maju, dan gerakannya begitu luwes sampai-sampai aku ternganga, mulutku terbuka lebar. Bahkan Alice, yang setiap gerakannya terlihat seperti menari, tidak bisa menandinginya.

Aku lebih terperangah lagi saat lelaki itu melenggang lebih dekat dan aku bisa melihat wajahnya. Tidak seperti wajah-wajah menarik tapi

tidak natural yang mengelilinginya (karena ia tidak menghampiri kami sendirian; seluruh rombongan mengerubunginya dengan rapat, beberapa mengikuti di belakang, yang lain berjalan mendahuluinya dengan sikap waspada khas pengawal).

Aku tidak bisa menentukan apakah wajahnya tampan atau tidak. Garis-garis wajahnya memang sempurna. Tapi ia berbeda dari para vampir di sampingnya, sama seperti mereka berbeda denganku. Kulitnya putih transparan, seperti mereka berbeda denganku. Kulitnya putih transparan, seperti kulit bawang, dan tampak sama rapuh – kelihatan sangat kontras dengan rambut hitam panjang yang membingkai wajahnya.

Aku merasakan dorongan aneh yang mengerikan untuk menyentuh pipinya, untuk merasakan apakah kulitnya lebih lembut daripada kulit Edward atau Alice, dan bila diraba apakah terasa halus, seperti kapur. Matanya merah, sama seperti makhluk-makhluk lain di sekitarnya, tapi warnanya berselaput, keruh seperti susu; aku penasaran apakah pandangannya terganggu oleh selaput itu.

Vampir itu melenggang menghampiri Jane, merengkuh wajah Jane dengan tangannya yang berlapis kulit setipis kertas, mendaratkan kecupan ringan di bibir tebal Jane, lalu melenggang mundur selangkah.

“Ya, tuan,” Jane tersenyum; ekspresinya membuatnya terlihat seperti bocah malaikat.

“Aku membawanya kembali hidup-hidup seperti yang Anda inginkan.”

"Ah, Jane.” Vampir itu tersenyum.

“Kau sungguh menenteramkan hatiku." Ia mengarahkan matanya yang berkabut ke arah kami, dan senyumnya semakin cerah – menjadi girang.

"Dan Alice dan Bella juga!'' soraknya, bertepuk tangan dengan tangannya yang kurus.

"Ini benarbenar kejutan yang menggembirakan! Hebat! Kupandangi vampir itu, shock mendengarnya menyebut nama kami dengan sikap ramah, seolaholah kami teman lama yang mampir tanpa didugaduga. Vampir itu berpaling pada pendamping kami yang bertubuh besar.

"Felix, tolong sampaikan kepada saudara-saudaraku tentang kedatangan tamu-tamu kita. Aku yakin mereka pasti tidak ingin melewatkan kesempatan ini"

"Baik, Tuan" Felix mengangguk dan lenyap di balik pintu tempat kami masuk tadi.

"Kaulihat, Edward?" Vampir aneh itu menoleh dan tersenyum pada Edward, seperti kakek yang sayang tapi marah pada cucunya.

"Apa kubilang? Kau senang kan, aku tidak mengabulkan permintaanmu kemarin?"

“Ya, Aro, aku senang," Edward membenarkan, mempererat pelukannya di pinggangku.

“Aku suka akhir yang membahagiakan." Aro mendesah.

"Itu sangat jarang terjadi. Tapi aku ingin mendengar cerita selengkapnya. Bagaimana itu bisa terjadi? Alice?" Ia berpaling kepada Alice,

sorot ingin tahu terpancar dari matanya yang berkabut.

“Saudaramu sepertinya menganggapmu tidak mungkin salah, tapi jelas ada kesalahan."

“Oh, aku masih jauh dari sempurna." Alice menyunggingkan senyum memesona. Ia tampak sangat santai, hanya saja kedua tangannya terkepal erat.

"Seperti yang Anda lihat hari ini, aku menyebabkan masalah sesering aku menyelesaikannya."

"Kau terlalu rendah hati," cela Aro.

"Aku sudah sering melihat bakatmu yang luar biasa, dan harus kuakui, bakatmu benar-benar unik. Hebat!" Alice melirik sekilas kepada Edward. Itu tidak luput dari perhatian Aro.

"Maaf, kita belum berkenalan, bukan? Aku hanya merasa seperti sudah mengenalmu, dan aku cenderung suka mendului. Saudaramu memperkenalkan kita kemarin, dengan cara yang aneh. Begini, aku juga memiliki sebagian bakat seperti yang dimiliki saudaramu, hanya saja aku memiliki batasan, sedangkan dia tidak." Aro menggelengkan kepala; nadanya iri.

"Dan juga jauh lebih kuat," Edward menambahkan dengan nada kering.

Ditatapnya Alice sementara ia menjelaskan dengan cepat.

"Aro membutuhkan kontak fisik untuk bisa mendengarkan pikiranmu, tapi dia bisa mendengar lebih banyak daripada aku. Kau tahu aku hanya bisa mendengarkan pikiran yang sedang melintas dalam pikiranmu saat ini. Aro bisa mendengar semua pikiran yang pernah singgah di kepalamu.

Penutup Novel Twilight (New Moon)VONIS Bab 114

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port VONIS Bab 114 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya