Wednesday, March 16, 2022

Bab 113 Novel Twilight (NEW MOON) – VONIS - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 113 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – VONIS Bab 113

21. VONIS

KAMI berada di aula yang terang benderang dan tidak mencolok. Dindingnya putih kusam, lantainya dilapisi karpet abu-abu. Lampu-lampu neon persegi panjang terpasang dalam jarak yang sama di sepanjang langit-langit. Hawa di sini lebih hangat, dan aku bersyukur karenanya. Ruangan ini tampak sangat ramah dibandingkan saluran pembuangan limbah berdinding batu yang gelap dan mengerikan tadi.

Sepertinya Edward tidak sependapat dengan penilaianku. Matanya memandang garang ke lorong aula yang panjang, ke sosok kurus hitam yang berdiri di ujung sana, dekat lift. Ia menarikku bersamanya, sementara Alice berjalan di sisiku yang lain.

Pintu yang berat menutup dengan suara berderit di belakang kami, kemudian terdengar bunyi gerendel digeser. Jane menunggu di dekat lift, sebelah tangan memegangi pintu agar tetap terbuka untuk kami.

Ekspresinya apatis.

Begitu masuk ke lift, tiga vampir yang bekerja untuk keluarga Volturi terlihat semakin rileks. Mereka menyingkapkan jubah mereka, membiarkan penutup kepala terbuka dan terkulai di pundak.

Baik Felix maupun Demetri sama-sama memiliki kulit sewarna zaitun—kelihatan aneh dikombinasikan dengan raut wajah mereka yang pucat seperti kapur. Rambut hitam Felix dipangkas pendek, sementara rambut Demetri tergerai lepas berombak-ombak ke bahunya. Mata mereka merah tua di bagian pinggir, tapi semakin gelap hingga nyaris hitam di sekitar pupil. Di balik jubah, baju mereka modern, pucat, dan biasa.

Novel Twilight (NEW MOON)


Aku mengkeret di sudut, menempel pada Edward. Tangannya masih menggosok-gosok lenganku. Matanya tak pernah lepas memandangi Jane. Perjalanan dengan lift singkat saja; kami melangkah memasuki ruangan yang kelihatannya seperti ruang penerimaan tamu yang mewah.

Dinding-dindingnya berlapis panel kayu, lantainya ditutup karpet tebal empuk berwarna hijau. Tak ada jendela, tapi lukisan-lukisan besar bergambar pemandangan daerah pedesaan Tuscan yang diterangi cahaya lampu benderang tergantung di mana-mana sebagai pengganti jendela. Sofa-sofa kulit berwarna lembut ditata membentuk kelompok-kelompok yang nyaman, dan meja-meja mengilap dihiasi vas-vas kristal penuh karangan bunga berwarna-warni meriah.

Aroma bungabunga itu mengingatkanku pada rumah duka. Di tengah ruangan berdiri konter tinggi mengilap dari kayu mahoni. Aku ternganga keheranan melihat seorang wanita berdiri di baliknya. Wanita itu bertubuh tinggi, dengan kulit gelap dan mata hijau. Ia akan terlihat sangat cantik di perusahaan lain—tapi tidak di sini. Karena ia juga manusia, sama seperti aku. Aku tidak mengerti apa yang dikerjakan wanita manusia itu di sini, sikapnya begitu rileks, dikelilingi para vampir. Wanita itu tersenyum sopan menyambut kedatangan kami.

“Selamat siang, Jane,” sapanya.

Tidak ada keterkejutan di wajahnya saat ia melirik rombongan Jane. Tidak juga Edward yang dada telanjangnya berkilau samar tertimpa cahaya lampu putih, atau bahkan aku, yang acak-acakan dan sangat jelek bila dibandingkan dengannya. Jane menangguk.

“Gianna.”

Ia terus berjalan menuju sepasang pintu ganda di bagian belakang ruangan, dan kami semua mengikuti. Saat Felix melewati meja. ia mengedipkan mata pada Gianna, dan wanita itu tertawa. Di sisi dalam pintu kayu itu terdapat ruang penerimaan tamu lain yang berbeda jenisnya.

Bocah lelaki pucat bersetelan abu-abu mutiara bisa dikira kembaran Jane. Rambutnya lebih gelap, dan bibirnya tidak sepenuh bibir Jane, namun sama memikatnya. Ia maju menghampiri kami. Sambil tersenyum tangannya terulur pada Jane.

"Jane."

"Alec," sahut Jane memeluk pemuda itu. Mereka berciuman pipi.

Kemudian pemuda itu menatap kami.

"Mereka mengirimmu keluar untuk membawa satu tapi kau kembali dengan membawa dua... setengah," kata pemuda itu, menatapku.

"Bagus sekali." Jane tertawa—suaranya ceria seperti celotehan bayi.

"Selamat datang kembali, Edward," Alec menyapanya.

"Sepertinya suasana hatimu sudah lebih baik."

“Sedikit," Edward membenarkan dengan nada datar.

Kulirik wajah Edward yang keras, dan bertanya-tanya dalam hati bagaimana mungkin suasana hatinya bisa lebih buruk dari sekarang. Alec terkekeh, dan memerhatikan aku yang menempel erat di sisi Edward.

"Jadi, inikah si pembuat heboh itu?" tanyanya, skeptis.

Edward hanya tersenyum, ekspresinya sinis.

Kemudian tubuhnya mengejang.

"Bodoh," ucap Felix dengan nada biasa-biasa saja dari belakang.

Edward berbalik, geraman rendah terdengar dari dadanya. Felix tersenyum—tangannya terangkat, telapak tangan mengarah ke atas; ia menekukkan jari-jarinya dua kali, mengundang Edward untuk maju.

Alice menyentuh lengan Edward.

"Sabar," ia mengingatkan.

Mereka bertukar pandang cukup lama, dan aku berharap bisa mendengar apa yang dikatakan Alice padanya. Menurutku pasti ada hubungannya dengan tidak menyerang Felix, karena Edward menarik napas dalam-dalam dan berpaling kembali pada Alec.

"Aro pasti sangat senang bisa bertemu lagi denganmu," kata Alec, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Kalau begitu jangan biarkan dia menunggu terlalu lama," saran Jane. Edward mengangguk satu kali.

Alec dan Jane, bergandengan tangan, berjalan mendului kami memasuki aula lain yang luas dan sarat hiasan—apakah ruangan ini ada ujungnya? Mereka mengabaikan pintu-pintu di ujung aula—pintu-pintu itu seluruhnya dilapisi emas— berhenti di tengah jalan sebelum mencapai ujungnya, dan menggeser panel yang menutupi pintu kayu polos. Pintu itu tidak terkunci. Alec membukakannya untuk Jane.

 

Penutup Novel Twilight (New Moon)VONIS Bab 113

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port VONIS Bab 113 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya