Tuesday, March 15, 2022

Bab 110 Novel Twilight (NEW MOON) – VOLTERRA - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 110 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – VOLTERRA Bab 110

“Edward, jangan!" jeritku, tapi suaraku hilang ditelan gemuruh lonceng yang bergaung.

Aku bisa melihatnya sekarang. Dan bisa kulihat bahwa ia tidak melihatku. Itu benar-benar Edward, kali ini bukan halusinasi. Dan tahulah aku delusiku ternyata lebih kacau daripada yang kusadari; bayanganku tentang Edward tak seindah aslinya. Edward berdiri, tak bergerak seperti patung, hanya beberapa meter dari mulut gang.

Matanya terpejam, lingkaran di bawahnya berwarna ungu tua, kedua lengannya terkulai rileks di sisi tubuhnya, telapak tangan mengarah ke atas. Ekspresinya sangat damai, seolah sedang membayangkan hal-hal menyenangkan. Kulit dadanya yang seperti marmer telanjang—sehelai kain putih teronggok dekat kakinya.

Cahaya yang memantul dari jalan alun-alun yang dilapisi batu gemerlap samar oleh kilau yang terpantul dari kulitnya.

Belum pernah aku melihat pemandangan yang lebih indah daripada itu—bahkan saat aku berlari, terengah-engah dan berteriak-teriak, tak urung aku terpesona. Dan tujuh bulan terakhir tak berarti apa-apa.

Kata-katanya di hutan dulu tak berarti apa-apa. Bukan masalah bila ia tidak menginginkanku. Aku tidak akan pernah menginginkan hai lain selain dirinya, tak peduli betapa pun lamanya aku hidup. Jam berdentang, dan Edward melangkah lebar menuju cahaya.

Novel Twilight (NEW MOON)


"Tidak!" jeritku.

"Edward, lihat aku!" Edward tidak mendengarkan.

Bibirnya tersenyum kecil. Ia mengangkat kakinya, siap mengambil langkah yang akan membawanya langsung ke bawah sorotan matahari.

Aku menabraknya begitu keras hingga kekuatannya pasti akan membuatku tersungkur ke tanah seandainya kedua lengannya tidak menangkap dan memegangiku. Benturan itu membuatku kehabisan napas dan menyentakkan kepalaku ke belakang.

Mata Edward yang gelap perlahan-lahan terbuka sementara jam kembali berdentang. Ia menunduk, menatapku dengan keterkejutan tanpa suara.

"Luar biasa," ucapnya, suaranya yang merdu itu terdengar takjub, sedikit geli.

"Carlisle benar."

"Edward," aku berusaha menarik napas, tapi tidak ada yang suara yang keluar.

"Kau harus kembali ke tempat teduh. Kau harus pindah!"

Edward tampak terpesona. Tangannya membelai pipiku lembut. Sepertinya ia tidak sadar aku berusaha memaksanya kembali. Rasanya seperti mendorong tembok. Jam berdentang tapi Edward tidak bereaksi.

Aneh sekali, padahal aku tahu saat itu kami berada dalam bahaya maut. Namun detik itu aku merasa damai. Utuh. Aku bisa merasakan jantungku berpacu kencang di dadaku, darah mendesir panas dan cepat mengisi pembuluh darahku lagi.

Paru-paruku dipenuhi aroma harum yang menguar dari kulitnya. Seakan-akan tak pernah ada lubang di dadaku. Aku sempurna – bukan sembuh, karena seolah-olah memang tak pernah ada luka di sana.

“Aku tidak percaya prosesnya ternyata cepat sekali. Aku tidak merasa apa-apa, hebat sekali mereka," renung Edward, memejamkan matanya lagi dan menempelkan bibirnya ke rambutku.

Suaranya bagaikan madu dan beledu.

"Kematian, yang mengisap madu dari desah napasmu, tak memiliki kuasa terhadir kecantikanmu," bisiknya, dan aku mengenali sebaris kalimat yang diucapkan Romeo di kuburan. Jam berdentang untuk terakhir kali.

"Aroma tubuhmu juga persis sama," sambung Edward.

"Jadi mungkin inilah neraka. Aku tidak peduli. Aku akan menerimanya."

"Aku belum mati," selaku.

"Dan kau juga belum! Kumohon, Edward, kita harus pindah. Mereka pasti tidak jauh dari sini!"

Aku memberontak dalam pelukannya, dan alis Edward bertaut bingung.

"Apa?’ tanyanya sopan.

“Kita tidak mati, belum! Tapi kita harus pindah dari sini sebelum keluarga Volturi—" Pemahaman berkelebat di wajahnya saat aku bicara.

Belum lagi aku selesai bicara. Edward tibatiba menarikku menjauhi tepi keteduhan, membalikkan badanku dengan mudah hingga punggungku menempel di dinding bata, dan ia memunggungiku menghadap ke gang. Kedua lengannya terbentang lebar, melindungi, di depanku.

Aku mengintip dari bawah lengannya dan melihat dua sosok hitam keluar dari balik bayangbayang.

"Salam, Tuan-Tuan," suara Edward tenang dan ramah, di permukaan.

"Kurasa aku tidak membutuhkan layanan kalian hari ini. Aku akan sangat berterima kasih, bila kalian bersedia menyampaikan ucapan terima kasihku kepada tuan-tuan kalian."

"Bagaimana kalau kita pindahkan pembicaraan ke tempat lain yang lebih memadai?" suara halus berbisik dengan nada mengancam.

"Menurutku itu tidak perlu." Suara Edward lebih keras sekarang.

“Aku tahu instruksimu, Felix. Aku tidak melanggar aturan apa pun."

"Felix hanya bermaksud menegaskan keberadaan matahari," kata bayang-bayang lain dengan nada menenangkan. Mereka tersembunyi di balik jubah abu-abu gelap yang panjangnya mencapai tanah dan mengembang tertiup angin.

"Mari kita cari tempat yang lebih teduh."

"Aku akan menyusul tepat di belakang kalian," ujar Edward kering.

"Bella, bagaimana kalau kau kembali ke alun-alun dan menikmati festival?"

"Tidak, bawa gadis itu," bayang-bayang pertama berkata entah bagaimana bisa memperdengarkan nada mengerling dalam bisikannya.

"Kurasa tidak." Sikap pura-pura ramah yang ditunjukkan Edward langsung lenyap. Suara Edward datar dan dingin. Ia sedikit mengubah posisi tubuhnya, dan bisa kulihat ia siap-siap bertarung.

"Tidak." Aku hanya mampu menggerakkan mulut tanpa suara.

"Ssst," bisik Edward, ditujukan hanya padaku.

“Felix," bayang-bayang kedua, yang lebih bisa mengerti, mengingatkan.

"Jangan di sini." Ia berpaling kepada Edward.

"Aro hanya ingin bicara lagi denganmu, kalau kau sudah memutuskan untuk tidak lagi memaksa kami menurun keinginanmu."

“Tentu saja," Edward setuju.

"Tapi biarkan gadis ini pergi.”

“Aku khawatir itu tidak mungkin," bayangbayang sopan itu menyahut dengan sikap menyesal.

"Kami memiliki aturan yang harus ditaati.”

"Kalau begitu aku khawatir tidak akan bisa menerima undangan Aro, Demetri."

"Baiklah kalau begitu," dengkur Felix. Mataku sudah bisa beradaptasi dengan keadaan yang remang-remang, dan kulihat ternyata Felix bertubuh sangat besar, tinggi dan tebal di bagian pundak. Ukuran tubuhnya mengingatkanku pada Emmett.

“Aro pasti kecewa," desah Demetri.

"Aku yakin dia pasti bisa mengatasi kekecewaannya," sahut Edward. Felix dan Demetri beringsut semakin dekat ke mulut gang sedikit demi sedikit memperlebar jarak di antara mereka sehingga bisa menyerang Edward dari dua sisi.

Mereka bermaksud memaksanya masuk lebih dalam ke lorong, untuk menghindari keributan. Tak ada pantulan cahaya bisa menyentuh kulit mereka; keduanya aman di balik jubah.

Edward tidak bergerak sedikit pun. Ia menempatkan dirinya dalam bahaya karena melindungiku.

Tiba-tiba Edward menolehkan kepalanya dengan cepat, ke arah kegelapan lorong yang berkelokkelok. Demetri dan Felix melakukan hal yang sama, sebagai respons atas suara atau gerakan yang terlalu halus untuk pancaindraku.

"Bagaimana bila kita menjaga sikap?" sebuah suara merdu mengalun menyarankan.

"Ada wanita di sini."

Penutup Novel Twilight (New Moon)VOLTERRA Bab 110

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port VOLTERRA Bab 110 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya