Tuesday, March 15, 2022

Bab 109 Novel Twilight (NEW MOON) – VOLTERRA - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 109 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – VOLTERRA Bab 109

Alice memacu mobil dengan cepat sambil sesekali mengerem mendadak, dan orang-orang di jalan mengacungkan tinju mereka kepada kami dan meneriakkan kata-kata bernada marah yang untungnya tidak kumengerti.

Ia berbelok memasuki jalan kecil yang tak mungkin diperuntukkan bagi mobil; orang-orang yang shock sampai harus menempelkan tubuh rapat-rapat ke ambang pintu di pinggir jalan saat kami lewat.

Kami menemukan jalan lain di ujungnya. Bangunan-bangunan di sini lebih tinggi; lantai teratas condong ke jalan dan bertemu di tengah sehingga tak ada sinar matahari menyentuh trotoar—bendera-bendera merah yang berkibar di tiap-tiap sisi nyaris bersentuhan.

Kerumunan orang di sini bahkan lebih padat daripada di tempat lain. Alice menghentikan mobil. Aku sudah membuka pintu sebelum mobil sepenuhnya berhenti.

Alice menuding ke jalan yang melebar ke sepetak ruang terbuka yang terang benderang.

"Di sana— kita sekarang di selatan alun-alun. Larilah menyeberangi alun-alun, ke kanan menara jam. Aku akan mencari jalan memutar—" Napas Alice mendadak terkesiap, dan saat ia bicara lagi; suaranya berupa desisan.

"Mereka ada di mana-mana!”

Aku langsung tegang, tapi Alice mendorongku keluar mobil.

Novel Twilight (NEW MOON)


"Lupakan mereka. Waktumu tinggal dua menit. Lari, Bella, lari!" teriaknya, turun dari mobil sambil bicara.

Aku tak sempat melihat Alice melebur dalam bayang-bayang. Aku juga tak sempat menutup pintu mobil di belakangku. Kudorong seorang wanita yang menghalangi jalanku dan berlari sekencang-kencangnya dengan kepala tertunduk, tidak menggubris apa pun kecuali batu-batu tidak rata di bawah kakiku.

Keluar dari lorong yang gelap, mataku dibutakan cahaya matahari yang menyorot tajam ke alunalun utama. Angin menderu menerpaku, menerbangkan rambut hingga menutupi mata dan semakin membutakan mataku. Tidak heran aku tidak melihat pagar betis di depanku sampai aku menabraknya.

Tak ada ruang lowong, tak ada celah sedikit pun di antara tubuh-tubuh yang saling berimpitan itu.

Kudorong mereka dengan marah, melawan tangan tangan yang balas mendorongku. Kudengar seruan-seruan kesal dan bahkan jerit kesakitan saat aku berjuang menerobos kerumunan, tapi tidak ada yang dilontarkan dalam bahasa yang kukenal.

Wajah-wajah kabur yang penuh amarah dan kekagetan, lagi-lagi dikelilingi warna merah. Seorang wanita berambut pirang cemberut padaku, dan syal merah yang melilit lehernya tampak seperti luka mengerikan. Seorang anak yang dipanggul di atas bahu seorang laki-laki,

menunduk dan nyengir padaku, bibirnya terbuka, memamerkan taring vampir dari plastik. Kerumunan itu mendesak-desakku, memutar badanku ke arah yang salah. Aku senang ada menara jam yang bisa menjadi patokan, kalau tidak aku pasti sudah kehilangan arah.

Tapi kedua jarum jam yang terpampang di sana beringsutingsut mengarah ke matahari yang tak kenal belas kasihan, dan walaupun aku mendorong kerumunan sekuat tenaga, aku tahu aku terlambat. Aku balikan belum sampai setengah jalan.

Aku tidak akan berhasil. Aku tolol, lamban, dan aku manusia, dalami semua akan mari karenanya.

Aku berharap Alice bisa keluar. Aku berharap Alice akan melihatku dari balik bayang-bayang gelap dan tahu aku telah gagal, supaya ia bisa pulang ke Jasper.

Aku memasang telinga, berusaha mendengarkan di balik seruan-seruan bernada marah, suara yang akan menjadi pertanda bahwa hal yang kutakutkan telah terjadi: napas tertahan, mungkin teriakan, saat seseorang melihat Edward.

Namun saat itu ada celah di tengah kerumunan—aku bisa melihat ruang kosong di depan. Cepat-cepat aku berlari menghampirinya, tidak menyadarinya sampai tulang keringku memar menabrak bata. Rupanya ada kolam air mancur besar berbentuk segiempat, tepat di tengah alun-alun.

Aku nyaris menangis lega saat mengayunkan kakiku ke pinggir kolam dan berlari mengarungi air

selutut. Air bercipratan di sekelilingku saat aku berlari melintasi air kolam. Bahkan di bawah terik matahari, angin yang bertiup terasa sangat dingin, dan basah membuat dingin itu menyakitkan.

Tapi kolam air mancur itu sangat lebar; aku jadi bisa menyeberangi pusat alun-alun hanya dalam beberapa detik. Aku tidak berhenti saat mencapai sisi seberang—aku menggunakan dinding kolam yang rendah sebagai tumpuan, dan melemparkan diri ke tengah kerumunan.

Kini orang-orang justru menghindariku, tak ingin terciprat air dingin yang menetes-netes dari bajuku yang basah saat aku berlari. Aku menengadah, menatap jam lagi. Dentang lonceng yang dalam dan menggemuruh bergaung ke segenap penjuru alun-alun.

Getarannya terasa hingga ke batu-batu di bawah kakiku. Anak-anak menangis, menutup telinga. Dan aku mulai berteriak sambil berlari,

"Edward!" jeritku, tahu itu sia-sia. Kerumunan ini terlalu berisik, dan suaraku terengah-engah karena lelah. Tapi aku tak bisa berhenti berteriak. Jam kembali berdentang. Aku berlari melewati seorang anak dalam gendongan ibunya— rambutnya nyaris putih di bawah cahaya matahari yang terik. Sekelompok lelaki jangkung, semuanya mengenakan blazer merah, berteriak mengingatkan saat aku menghambur menerobos mereka. Jam berdentang lagi.

Di balik para lelaki berblazer itu, tampak celah di tengah kerumunan, ruang kosong di antara para pengunjung yang berdesak-desakan di sekelilingku. Mataku menyapu lorong gelap di sebelah kanan alun-alun segiempat luas di bawah menara jam. Aku tak bisa melihat jalan—terlalu banyak orang yang menghalangiku. Jam kembali berdentang.

Sulit melihat sekarang. Tanpa kerumunan yang menahan angin, angin menampar wajahku dan membakar mataku. Entah itukah yang membuat air mataku merebak, atau apakah aku menangis kalah saat jam kembali berdentang. Sebuah keluarga kecil beranggotakan empat orang berdiri paling dekat dengan mulut gang. Dua gadis mengenakan gaun merah, dengan pita senada menghiasi rambut gelap mereka yang diikat ke belakang. Sang ayah tidak tinggi.

Sepertinya aku bisa melihat sesuatu yang benderang di keteduhan, tepat di atas bahunya. Aku menghambur ke arah mereka, berusaha melihat dari balik air mataku yang pedih. Jam berdentang, dan gadis terkecil menutup telinganya rapat-rapat. Gadis yang lebih tua, tingginya hanya sepinggang ibunya, merangkul kaki sang ibu dan memandang ke dalam bayang-bayang di belakang mereka.

Kulihat gadis itu menarik-narik siku ibunya dan menuding ke keteduhan. Jam berdentang, dan aku sudah sangat dekat sekarang. Aku sudah cukup dekat sehingga bisa mendengar suara si sadis kecil yang melengking tinggi.

Ayahnya menatapku terperanjat saat aku menghambur menghampiri mereka, meneriakkan nama Edward berkali-kali dengan suara serak. Si gadis yang lebih tua tertawa terkikik dan mengatakan sesuatu pada ibunya, menuding lagi ke bayang-bayang dengan sikap tidak sabar.

Aku meliuk melewati sang ayah—ia buru-buru berkelit, mengamankan bayinya agar tidak tertabrak olehku—dan berlari sekencangkencangnya ke ruang gelap di belakang mereka sementara jam berdentang nyaring di atas kepalaku.

Penutup Novel Twilight (New Moon)VOLTERRA Bab 109

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port VOLTERRA Bab 109 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya