Tuesday, March 15, 2022

Bab 105 Novel Twilight (NEW MOON) – BERPACU - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 105 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – BERPACU Bab 105

“Hentikan, Bella, atau kita berbalik di New York dan kembali ke Forks.”

“Apa?”

“Kau tahu maksudku. Kalau kita terlambat menyelamatkan Edward, aku akan berusaha sekuat tenaga mengembalikanmu ke Charlie, dan aku tak mau kau berulah macam-macam. Mengerti?”

"Tentu, Alice."

Alice mundur sedikit agar bisa memelototiku.

"Jangan macam-macam."

"Sumpah pramuka " tukasku. Alice memutar bola matanya.

"Biarkan aku berkonsentrasi sekarang. Aku akan mencoba melihat apa yang direncanakannya."

Sebelah tangan Alice tetap merangkulku, tapi ia menyandarkan kepalanya ke kursi dan memejamkan mata. Ia menempelkan tangan satunya ke sisi wajah, mengusap-usapkan ujung jarinya ke pelipis.

Aku mengawasinya dengan takjub. Akhirnya ia

diam, tak bergerak sama sekali. Menit-menit berlalu, dan kalau aku tidak mengenalnya, aku mungkin mengira Alice tertidur.

Novel Twilight (NEW MOON)


Aku tidak berani mengganggunya untuk bertanya. Aku tidak mengizinkan diriku membayangkan kengerian yang akan kami hadapi, atau, yang lebih mengerikan, kemungkinan bahwa kami bakal gagal—tidak kalau aku tak ingin menjerit sekeraskerasnya.

Aku juga tak bisa mengantisipasi apa-apa. Mungkin kalau aku sangat, sangat, sangat beruntung, aku bisa menyelamatkan Edward, bagaimanapun caranya. Tapi aku tidak setolol itu, mengira dengan menyelamatkannya, aku bisa tinggal bersamanya. Aku tidak berbeda, tidak lebih istimewa daripada sebelumnya. Tak ada alasan baru mengapa ia menginginkanku sekarang. Bertemu dengannya dan kemudian kehilangan dia lagi...

Kulawan rasa sedih itu. Ini harga yang harus kubayar untuk menyelamatkan hidupnya. Aku akan membayarnya.

Film diputar, dan penumpang di sebelahku memasang headphone. Terkadang aku melihat juga sosok-sosok yang berkelebat di layar monitor yang kecil, tapi tidak tahu apakah itu film roman atau horor.

Rasanya seperti berabad-abad baru pesawat mulai mengurangi ketinggian untuk mendarat di New York City. Alice bergeming dalam trance-nya. Aku bingung harus bagaimana. Kuulurkan tanganku untuk menyentuhnya, tapi lalu kutarik lagi. Ini terjadi belasan kali sebelum pesawat terguncang menyentuh landasan.

"Alice," kataku akhirnya.

“Alice, kita harus turun." Aku menyentuh lengannya.

Pelan-pelan sekali mata Alice terbuka. Ia menggeleng sebentar.

“Ada yang baru?" tanyaku pelan, takut terdengar lelaki di sebelahku.

“Tidak juga," jawab Alice sambil mengembuskan napas, nyaris tak bisa kutangkap.

"Dia semakin dekat. Dia sedang memutuskan bagaimana dia akan memintanya.”

“Kami harus berlari mengejar pesawat yang akan membawa kami ke Italia, tapi itu bagus – lebih baik begitu daripada harus menunggu. Alice memejamkan mata dan kembali hanyut ke trance seperti sebelumnya”. Aku menunggu sesabar mungkin.

Ketika hari kembali gelap aku membuka penutup jendela untuk memandang ke luar, ke kegelapan yang menghampar tak ada bedanya dengan memandangi penutup jendela. Aku bersyukur selama beberapa bulan ini aku banyak berlatih mengendalikan pikiran. Jadi, alihalih memikirkan berbagai kemungkinan mengerikan, tak peduli apa pun kata Alice, aku tidak berniat tetap hidup, aku berkonsentrasi memikirkan masalah-masalah lain yang lebih ringan. Misalnya saja, apa yang akan kukatakan pada Charlie sepulangnya aku nanti? Itu masalah pelik yang cukup menyita pikiran selama beberapa jam.

Dan Jacob? Ia berjanji akan menunggu, tapi apakah janji itu masih berlaku? Apakah aku akan sendirian di Forks nanti, tanpa siapa-siapa sama sekali? Mungkin aku tidak ingin benahan hidup, tak peduli apa pun yang terjadi. Rasanya baru beberapa detik kemudian Alice mengguncang bahuku—ternyata aku ketiduran. "Bella," desisnya, suaranya agak terlalu keras di kabin gelap yang dipenuhi orang-orang yang sedang tidur.

Aku tidak mengalami disorientasi—tidurku belum cukup lama.

"Ada apa?"

Mata Alice berkilat di bawah lampu baca remang-remang dari barisan di belakang kami.

"Tidak ada apa-apa." Alice tersenyum senang.

"Kabar baik. Mereka berunding, tapi sudah memutuskan untuk menolak permintaannya."

"Keluarga Volturi?" gumamku, masih mengantuk.

"Tentu saja, Bella, perhatikan. Aku bisa melihat apa yang akan mereka katakan."

"Beritahu aku."

Seorang pramugara berjingkat-jingkat menyusuri lorong, menghampiri kami.

"Boleh saya ambilkan bantal untuk Anda?" Bisikan pelannya seperti menegur kami karena kami bercakap-cakap cukup keras.

"Tidak, terima kasih." Alice menengadah dan tersenyum lebar padanya, senyumnya luar biasa manis. Pramugara itu tampak keheranan saat berbalik dan tersaruk-saruk kembali ke tempatnya.

"Beritahu aku," bisikku, nyaris tak terdengar. Alice berbisik-bisik di telingaku.

"Mereka tertarik padanya—menurut mereka, bakat Edward bisa sangat berguna. Mereka akan menawarinya tinggal bersama mereka."

"Apa yang akan dikatakan Edward?"

"Aku belum bisa melihatnya, tapi berani taruhan pasti seru" Alice nyengir lagi.

"Ini kabar baik pertama—titik terang pertama. Mereka tertarik; mereka benar-benar tak ingin menghancurkan dia—mubazir, begitulah istilah yang akan digunakan Aro—dan mungkin itu cukup membuat Edward menjadi kreatif. Semakin banyak waktu yang dia habiskan untuk memikirkan rencananya, semakin baik bagi kita."

Penjelasan itu tak cukup membuatku berharap, membuatku merasakan kelegaan yang jelas sekali dirasakan Alice. Masih begitu banyak kemungkinan kami bisa terlambat. Dan kalau aku tidak bisa melewati tembok kota Volturi, aku tidak akan mampu menghentikan Alice menyeretku kembali ke rumah.

"Alice?"

"Apa?"

"Aku bingung. Bagaimana kau bisa melihat sejelas itu? Sementara di lain waktu, kau melihat kejadian-kejadian yang sangat jauh – peristiwa peristiwa yang tidak terjadi?'

“Mata Alice berubah kaku. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia bisa menebak isi pikiranku."Aku bisa melihatnya dengan jelas karena peristiwanya langsung dan dekat, dan karena aku benar-benar berkonsentrasi.

Kejadian-kejadian yang sangar jauh datang sendiri – itu hanya pencuatan sekelebat, kemungkinan-kemungkinan saman Tambahan lagi, aku melihat jenisku lebih jelas daripada aku melihat jenismu. Edward bahkan lebih mudah lagi, karena hubunganku sangat dekat dengannya.

"Kau bisa melihatku kadang-kadang," aku mengingatkannya.

Alice menggeleng. "Tidak sejelas aku melihat Edward." Aku mendesah.

"Kalau saja kau benar-benar bisa melihat masa depanku dengan tepat. Awalnya, waktu kau pertama kali melihat hal-hal tentang aku, bahkan sebelum kita bertemu..."

"Apa maksudmu?"

“Kau melihatku menjadi seperti kalian." Aku mengatakannya nyaris tanpa suara.

Alice mendesah. "Itu merupakan kemungkinan pada waktu itu."

"Pada waktu itu," aku mengulangi.

“Sebenarnya, Bella..." Alice ragu-ragu sejenak, kemudian sepertinya mengambil pilihan.

"Jujur saja, rasanya ini jadi semakin konyol. Aku berdebat dengan diriku, apakah aku harus mengubahmu sendiri.”

Kutatap Alice, membeku oleh perasaan shock. Serta-merta pikiranku menolak kata-katanya. Aku tidak boleh terlalu berharap, takut ia berubah pikiran.

Penutup Novel Twilight (New Moon)BERPACU Bab 105

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port BERPACU Bab 105 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya