Monday, March 14, 2022

Bab 100 Novel Twilight (NEW MOON) – PEMAKAMAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 100 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PEMAKAMAN Bab 100

"Siapa itu, kenapa kau menutup telepon begitu saja?" aku terkesiap, marah.

"Ini rumahku, dan itu teleponku!"

"Tenang! Justru dia yang menutup telepon duluan!"

"Dia? Dia siapa?"

Jacob menyemburkan gelar itu dengan nada mengejek.

"Dr. Carlisle Cullen."

"Mengapa kau tidak memberikan teleponnya padaku?!"

"Dia tidak minta bicara denganmu kok," jawab Jacob dingin. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi, tapi kedua tangannya gemetar.

"Dia bertanya di mana Charlie dan kujawab. Kurasa aku tidak melanggar etika apa pun."

"Dengar aku, Jacob Black—"

Tapi Jacob jelas tidak mendengarkan katakataku. Ia menoleh ke belakang dengan cepat, seolah-olah ada orang yang memanggilnya dari ruangan lain. Matanya membelalak lebar dan tubuhnya mengejang, lalu mulai bergetar. Otomatis aku ikut mendengarkan juga, tapi tidak terdengar suara apa-apa.

Novel Twilight (NEW MOON)


"Bye, Bells." semburnya, lalu tergesa-gesa menuju pintu depan.

Aku berlari mengejarnya. "Ada apa?” Kemudian aku menabraknya, saat ia berhenti, menggoyang-.oyanskan badan dengan bertumpu Pada tumit, memaki pelan.

Tiba-tiba ia berbalik lagi, menyenggolku keras. Aku goyah dan rubuh ke lantai, kedua kakiku tersangkut di kakinya.

"Sialan, aduh!” protesku saat Jacob buru-buru menyentakkan kakinya, membebaskannya dari belitan kakiku.

Susah payah aku bangkit kembali sementara Jacob berlari menuju pintu belakang; mendadak ia kembali membeku. Alice berdiri tak bergerak di kaki tangga.

"Bella," panggilnya dengan suara tercekat.

Aku cepat-cepat berdiri dan menghambur mendapatinya. Mata Alice nanar dan menerawang jauh, wajahnya tegang dan pucat pasi seperti mayat. Tubuhnya yang langsing bergetar karena pergolakan di dalam dirinya.

"Alice, ada apa?" pekikku. Aku merengkuh wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menenangkannya.

Matanya mendadak terfokus ke mataku, membelalak oleh kesedihan. "Edward," hanya itu yang ia bisikkan. Tubuhku bereaksi lebih cepat daripada yang sanggup ditangkap oleh otakku begitu mendengar jawabannya.

Awalnya aku tak mengerti mengapa ruangan berputar atau dari mana raungan hampa di telingaku ini berasal. Pikiranku bergerak sangat lambat, tak mampu mencerna wajah Alice yang muram dan apa hubungan hal itu dengan Edward, sementara tubuhku saat itu sudah goyah, mencari kelegaan dalam ketidaksadaran sebelum kenyataan dapat menghantamku telak-telak.

Tangga terlihat miring dalam sudut yang sangat tidak lazim.

Suara Jacob yang marah tiba-tiba terdengar di telingaku, mendesis menghamburkan kata-kata makian. Samar-samar aku merasa tidak senang. Teman-teman barunya jelas memberi pengaruh yang tidak baik.

Aku terbaring di sofa tanpa mengerti mengapa aku bisa berada di sana, dan Jacob masih terus mengumpat-umpat. Rasanya seperti ada gempa bumi—sofa berguncang-guncang di bawah tubuhku.

"Kauapakan dia?" tuntut Jacob.

Alice tak menggubrisnya. "Bella? Bella, sadarlah. Kita harus bergegas."

"Jangan mendekat," tegur Jacob.

"Tenanglah, Jacob Black," Alice memerintahkan.

"Jangan sampai kau berubah dalam jarak sedekat itu dengannya."

"Kurasa aku tidak punya masalah dalam mengendalikan diri," sergah Jacob, tapi suaranya terdengar sedikit lebih dingin.

“Alice?" Suaraku lemah.

"Apa yang terjadi?" tanyaku, walaupun aku tidak ingin mendengarnya.

"Aku tidak tahu," Alice tiba-tiba meraung.

"Apa yang dia pikirkan?!"

Susah payah aku berusaha mengangkat tubuhku, meski kepalaku pusing. Sadarlah aku bahwa aku mencengkeram tangan Jacob untuk menyeimbangkan diri. Dialah yang berguncangguncang, bukan sofanya.

Alice mengeluarkan ponsel perak kecil dari dalam tas sementara mataku memandanginya. Jari-jarinya menekan cepat serangkaian tombol, begitu cepatnya hingga tampak kabur.

"Rose, aku harus bicara dengan Carlisle sekarang.” Suaranya tajam saat melontarkan katakata itu.

"Baiklah, pokoknya segera setelah dia kembali. Tidak, aku akan naik pesawat. Dengar, kau sudah dapat kabar dari Edward?” Alice terdiam sekarang, mendengarkan dengan ekspresi yang semakin lama semakin ngeri.

Mulutnya ternganga, membentuk huruf O penuh kengerian, dan ponsel di tangannya bergetar hebat.

"Mengapa?” ia terkesiap.

“Mengapa kau berbuat begitu, Rosalie?”

Apa pun jawabannya, itu membuat dagu Alice mengeras karena marah. Matanya berkilat-kilat dan menyipit.

“Well kau salah besar dua kali, Rosalie, jadi itu pasti akan jadi masalah, bukan?" tanyanya tajam.

"Ya, benar. Dia baik-baik saja—ternyata aku salah... Ceritanya panjang... Tapi kau juga salah dalam hal itu, karena itulah aku menelepon... Ya, memang itulah yang kulihat."

Suara Alice sangat kaku dan bibirnya tertarik ke belakang.

"Sudah agak terlambat untuk itu, Rose. Simpan saja penyesalanmu untuk orang yang memercayainya." Alice menutup ponsel lipatnya keras-keras.

Ia tampak tersiksa saat berpaling menatapku.

"Alice," semburku cepat-cepat. Aku belum sanggup membiarkannya bicara. Aku butuh beberapa detik lagi sebelum ia berbicara dan katakatanya

menghancurkan apa yang tersisa dalam hidupku.

"Alice, Carlisle sudah kembali. Dia baru saja menelepon..."

Alice menatapku kosong.

"Kapan?" tanyanya dengan suara bergaung hampa.

"Setengah menit sebelum kau muncul."

“Apa katanya?” Ia benar-benar fokus sekarang, menunggu jawabanku.

“Aku tidak sempat bicara dengannya." Mataku melirik Jacob.

Alice mengalihkan tatapannya yang tajam menusuk pada Jacob. Jacob tersentak, tapi bergeming di dekatku. Ia duduk dengan sikap canggung, hampir seperti berusaha menamengiku dengan tubuhnya.

"Dia minta bicara dengan Charlie, dan kukatakan Charlie tidak ada," sergah Jacob dengan nada tidak senang.

"Hanya itu?" tuntut Alice, suaranya sedingin es.

"Lalu dia langsung menutup telepon," bentak Jacob. Sekujur tubuhnya bergetar, membuatku ikut terguncang.

Alice menyentakkan kepalanya kembali ke arahku.

"Bagaimana persisnya kata-katanya?"

"Dia bilang, Dia tidak ada di sini,” dan waktu Carlisle bertanya Charlie ke mana, Jacob menjawab,

“Dia sedang menghadiri pemakaman.” Alice mengerang dan merosot lemas.

"Katakan padaku, Alice," bisikku.

"Itu tadi bukan Carlisle," katanya dengan sikap tak berdaya.

"Jadi menurutmu aku pembohong?" raung Jacob dari sampingku.

Alice mengabaikannya, memfokuskan diri pada wajahku yang kebingungan.

"Itu tadi Edward." Alice mengucapkannya sambil berbisik dengan suara tercekat.

"Dia mengira kau sudah mati."

Pikiranku mulai bekerja lagi. Kata-kata itu bukanlah yang kutakutkan, dan kelegaan menjernihkan pikiranku.

"Rosalie memberi tahu dia bahwa aku bunuh diri, benar, kan?" tanyaku, mendesah saat tubuhku mulai rileks kembali.

"Benar," Alice mengakui, matanya berkilat marah.

"Dalam pembelaannya, dia memang benarbenar memercayainya. Mereka terlalu mengandalkan penglihatanku meskipun penglihatanku tidak sempurna.

Tapi Rosalie sampai melacak keberadaan Edward hanya untuk menyampaikan hal itu! Apakah dia tidak sadar... atau peduli...?" Suara Alice menghilang dalam kengerian.

Penutup Novel Twilight (New Moon)PEMAKAMAN Bab 100

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port PEMAKAMAN Bab 100 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini. 

Selanjutnya
Sebelumnya