Wednesday, February 2, 2022

Bab 94 Novel Twilight – PERMAINAN - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 94 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PERMAINAN Bab 94

"Aku tidak melihat—aku tak bisa mengatakannya," bisiknya.

Semua sudah berkumpul.

"Ada apa, Alice?" Carlisle bertanya dengan suara tenang berwibawa.

"Mereka melesat jauh lebih cepat daripada yang kukira.

Bisa kulihat penglihatanku sebelumnya keliru," gumamnya. Jasper mendekati Alice, posturnya protektif. "Apa yang berubah?" tanyanya.

"Mereka mendengar kita bermain, dan itu membuat mereka berbelok," katanya menyesal, seolah-olah ia merasa bertanggung jawab atas apa pun yang membuatnya ketakutan.

Novel Twilight


Tujuh pasang mata yang gesit memandang wajahku, kemudian berpaling.

"Seberapa cepat?" Carlisle bertanya, berbalik menghadap Edward.

Ketegangan menyelimuti wajahnya.

"Kurang dari lima menit. Mereka berlari—mereka ingin bermain." Wajah Edward geram.

“Kau bisa melakukannya?" Carlisle bertanya padanya, matanya kembali berkilat-kilat memandangku. "Tidak, tidak sambil menggendong—" Ia terdiam. "Lagi ia hal terakhir yang kita butuhkan adalah mereka mencium aromanya dan mulai berburu."

"Berapa banyak?" tanya Emmett pada Alice. "Tiga," jawab Alice singkat.

"Tiga!" sahut Emmett meremehkan.

"Biarkan mereka datang." Otot lengannya yang kekar tampak tegang.

Selama sesaat yang tampaknya lebih lama daripada yang sesungguhnya, Carlisle berpikir. Hanya Emmett yang tampak tenang; yang lain menatap wajah Carlisle dengan tatapan gelisah.

"Mari kita lanjutkan saja permainan ini," akhirnya Carlisle memutuskan. Suaranya tenang dan datar. "Alice bilang mereka hanya penasaran."

Semua ini diucapkan dalam curahan kata-kata yang hanya berlangsung beberapa detik. Aku mendengarkan dengan saksama dan menangkap sebagian besar maksudnya, meskipun aku tak bisa mendengar apa yang sekarang Esme tanyakan pada Edward dengan getaran bibirnya yang tak bersuara.

Aku hanya melihat Edward menggeleng samar dan wajah Esme tampak lega.

“Kau yang menangkap, Esme," katanya.

"Cukup untukku." Dan ia pun berdiri di depanku.

Yang lain kembali ke lapangan, dengan waswas menyapu hutan yang gelap dengan mata mereka yang tajam. Alice dan Esme tampak memfokuskan pandangan ke sekitar tempatku berdiri.

"Uraikan rambutmu." Edward berkata dengan nada suara rendah dan datar.

Aku mematuhinya, melepaskan ikat rambutku dan mengibaskan rambutku hingga tergerai. Aku mengatakan apa yang tampak di depan mataku.

"Yang lain berdatangan sekarang."

"Ya, kumohon diamlah, jangan bersuara, jangan bergerak dari sisiku." ia menyembunyikan dengan baik ketegangan dalam suaranya, tapi aku toh dapat menangkapnya.

Ia menarik rambut panjangku ke depan, menutupi wajah.

"Itu takkan membantu," kata Alice lembut.

"Aku dapat mencium baunya dari seberang lapangan."

"Aku tahu." Sekelumit perasaan putus asa mewarnai nada suaranya.

Carlisle berdiri di base, dan yang lain ikut bermain dengan setengah hati.

"Apa yang Esme tanyakan padamu?" bisikku. Ia ragu-ragu sesaat sebelum menjawab.

"Apakah mereka haus?" gumamnya enggan.

Detik demi detik berlalu; sekarang permainan berlanjut tanpa semangat. Tak seorang pun berani memukul lebih keras dari pukulan asal-asalan, dan Emmett, Rosalie, dan Jasper berdiri di tengah lapangan.

Ketika sesekali terlepas dari ketakutan yang membuat buntu pikiranku, aku menyadari mata Rosalie tertuju padaku. Tatapannya tanpa ekspresi, tapi sesuatu dari bentuk mulutnya membuatku berpikir ia marah.

Edward sama sekali tidak memerhatikan permainan, mata dan pikirannya menerawang ke hutan.

"Maafkan aku, Bella," gumamnya marah.

"Sungguh bodoh dan tak bertanggung jawab telah mengeksposmu seperti ini. Aku sungguh meminta maaf." Aku mendengar napasnya berhenti, matanya menatap hampa sisi kanan lapangan.

Ia setengah melangkah, memosisikan diri di antara aku dan apa yang bakal datang. Carlisle, Emmett, dan yang lain berpaling ke arah sama, mendengarkan suara langkah yang kelewat samar bagi telingaku.

Penutup Novel Twilight – PERMAINAN Bab 94

Gimana Novel twilight – Port PERMAINAN Bab 94 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya