Wednesday, February 2, 2022

Bab 92 Novel Twilight – PERMAINAN - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 92 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PERMAINAN Bab 92

"Kau marah," aku berkeras.

"Ya."

"Tapi kau baru bilang—"

"Aku tidak marah padamu. Tidak bisakah kau melihatnya, Bella?" Tiba-tiba ia tegang, seluruh selera humornya lenyap.

"Tidakkah kau mengerti?"

"Mengerti apa?" tuntutku, bingung dengan perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba, begitu juga kata-katanya.

"Aku takkan pernah marah padamu—bagaimana mungkin bisa? Kau begitu berani, percaya... hangat."

“Lalu kenapa?" bisikku, mengingat suasana hatinya yang kelam yang menjauhkannya dariku, yang selalu kuinterpretasikan sebagai perasaan frustrasi yang rasional— frustrasi akan kelemahanku, kelambananku, dan reaksi manusiaku yang tak terkendali...

Hati-hati ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku.

“Aku membangkitkan kemarahanku sendiri," katanya lembut.

“Karena selalu membahayakan dirimu. Eksistensiku sendiri membahayakanmu. Kadang-kadang aku benar-benar benci diriku sendiri. Aku harus lebih kuat, aku harus bisa –“

Kuletakkan tanganku di atas mulutnya. "Jangan." Ia meraih tanganku, memindahkannya dari bibirnya namun meletakkannya di wajahnya.

Novel Twilight


"Aku mencintaimu," karanya.

"Itu alasan menyedihkan untuk apa yang kulakukan, tapi itu masih benar." Itulah pertama kalinya ia menyatakan cintanya padaku—dalam begitu banyak kata-kata.

Ia mungkin tidak menyadarinya tapi aku tentu saja menyadarinya. "Sekarang kumohon bersikaplah yang baik," ia melanjutkan, dan membungkuk untuk menyapukan bibirnya dengan lembut di bibirku.

Aku diam tak bergerak. Lalu mendesah.

“Kau berjanji pada Kepala Polisi Swan akan mengantarku pulang tidak sampai larut, ingat? Sebaiknya kita pergi sekarang."

“Ya, Ma'am."

Ia tersenyum sedih dan melepaskanku, kecuali satu tanganku. Ia membimbingku menaiki ketinggian beberapa meter, menembus semak-semak yang basah dan padat, mengitari pohon cemara beracun yang besar sekali, dan kami pun sampai, di ujung lapangan terbuka yang luas di pangkuan puncak Pegunungan Olympic. Luasnya dua kali stadion bisbol.

Aku bisa melihat yang lain semua ada di sana; Esme, Emmett, dan Rosalie yang duduk di atas pecahan batu yang menonjol adalah yang terdekat dengan kami, mungkin jauhnya seratus meter.

Lebih jauh lagi aku bisa melihat Jasper dan Alice, setidaknya jaraknya seperempat mil, kelihatannya sedang melempar-lempar sesuatu, rapi aku tak melihat bolanya. Kelihatannya Carlisle sedang menandai base, tapi benarkah base-base itu terpisah sejauh itu? Ketika kami sampai, Esme, Emmett, dan Rosalie bangkit berdiri. Esme menghampiri kami.

Emmett mengikuti setelah menatap punggung Rosalie. Rosalie telah bangkit dengan gemulai dan melangkah ke lapangan tanpa melirik ke arah kami. Perutku langsung mual, gelisah. "Kaukah yang kami dengar tadi, Edward?" Esme bertanya sambil mendekati kami.

"Kedengarannya seperti beruang tersedak," Emmett membenarkan.

Aku tersenyum ragu-ragu kepada Esme. "Itu memang dia."

"Bella tahu-tahu melakukan sesuatu yang lucu," Edward menjelaskan, cepat-cepat membalasku.

Alice telah meninggalkan posisinya dan sedang berlari,

atau menari ke arah kami. Ia meluncur cepat dan berhenti dengan luwes di dekat kami. "Sudah waktunya," ia mengumumkan.

Begitu ia berbicara, gemuruh petir yang menggelegar mengguncang hutan, kemudian pecah di barat kota. "Menyeramkan, bukan?" kata Emmett dengan nada akrab, sambil mengedip padaku.

“Ayo.” Alice meraih tangan Emmett dan mereka berlari ke lapangan yang luas.

Alice berlari bagai rusa. Emmett juga nyaris seanggun dan secepat Alice—meski begitu ia takkan pernah bisa dibandingkan dengan rusa.

“Kau siap bermain?" Edward bertanya, tatapannya bersemangat, berkilat-kilat.

Aku mencoba terdengar bersemangat. "Ayo. tim!" Ia mengejek dan.

setelah mengacak-acak rambutku, mengejar kedua saudaranya. Larinya lebih agresif, lebih mirip Ia cheetah daripada rusa, dan dengan cepat ia mendahului mereka. Keanggunan dan kekuatan itu memesonaku.

"Mau ikut turun?" Esme bertanya dengan suaranya lembut dan merdu, dan aku menyadari telah melongo menatap Edward.

Dengan cepat kubenahi ekspresiku dan mengangguk. Esme tetap menjaga jarak beberapa meter di antar kami, dan aku bertanya-tanya apakah ia masih berhati-hati agar tidak membuatku takut. Ia menyamakan langkah kami tanpa terlihat tidak sabar.

"Anda tidak bermain bersama mereka?" tanyaku malumalu.

"Tidak, aku lebih suka jadi wasit—aku suka menjaga mereka tetap jujur," ia menjelaskan.

"Kalau begitu, apakah mereka suka bermain curang?"

"Oh ya—kau harus dengar argumentasi mereka! Sebenarnya, kuharap kau tak perlu mendengarnya, kau akan berpikir mereka dibesarkan sekawanan serigala."

"Anda terdengar seperti ibuku," aku tertawa, terkejut. Ia juga tertawa.

"Well, aku memang menganggap mereka anak-anakku dalam banyak hal. Aku tak pernah bisa menghilangkan naluri keibuanku—apakah Edward bilang bahwa aku kehilangan seorang anak?"

"Tidak," gumamku, terkejut, berusaha memahami masa kehidupan mana yang sedang diingatnya.

 "Ya, bayi pertamaku dan satu-satunya. Dia meninggal hanya beberapa hari setelah dilahirkan, makhluk kecil yang malang, ia mendesah. "Itu menghancurkan hatiku—itu sebabnya aku melompat dari tebing, kau tahu," tambahnya terus terang.

"Edward hanya bilang Anda j-jatuh," ujarku terbata-bata.

"Selalu sang pria sejati." Ia tersenyum.

"Edward putra baruku yang pertama. Aku selalu menganggapnya begitu, meskipun dia lebih tua dariku, setidaknya dalam satu cara." Ia tersenyum hangat padaku.

"Itu sebabnya aku senang dia menemukanmu. Sayang." Ungkapan sayang itu terdengar sangat alami meluncur dari bibirnya.

"Dia sudah terlalu lama menjadi laki-laki aneh, aku sedih melihatnya sendirian."

"Kalau begitu, Anda tidak keberatan?" aku bertanya, kembali ragu-ragu.

"Bahwa aku... sangat tidak tepat untuknya?"

"Tidak." Ia tampak bersimpati.

"Kaulah yang diinginkannya. Entah bagaimana, pasti akan ada jalan keluarnya," katanya, meskipun dahinya berkerut waswas.

Gelegar petir terdengar lagi.

Penutup Novel Twilight – PERMAINAN Bab 92

Gimana Novel twilight – Port PERMAINAN Bab 92 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya