Wednesday, February 2, 2022

Bab 91 Novel Twilight – PERMAINAN - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 91 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PERMAINAN Bab 91

"Pejamkan saja matamu, kau akan baik-baik saja." Kugigit bibirku, melawan rasa panik.

Ia mencondongkan tubuh mengecup keningku, kemudian mengerang. Aku menatapnya, bingung.

"Kau harum sekali ketika hujan," jelasnya.

"Dalam artian yang baik, atau buruk?" tanyaku hati-hati.

Ia mendesah.

Novel Twilight


"Keduanya, selalu keduanya." Aku tak tahu bagaimana dapat melihat jalan dalam kegelapan dan guyuran hujan, tapi entah bagaimana ia menemukan jalan kecil yang tidak bisa dibilang jalan dan lebih menyerupai jalan setapak pegunungan. Untuk waktu yang cukup lama kami tak mungkin bercakap-cakap, karena aku melonjak-lonjak seperti mata bor.

Meski begitu Edward kelihatannya menikmati perjalanan, tersenyum lebar sepanjang jalan.

Kemudian kami tiba di ujung jalan; pepohonan membentuk dinding hijau pada ketiga sisi Jeep. Hujan tinggal gerimis, setiap detik semakin pelan, dan langit tampak lebih terang di balik awan.

"Maaf, Bella, kita harus jalan kaki dari sini."

"Kau tahu? Aku akan menunggu di sini saja."

"Apa yang terjadi dengan semua nyalimu? Kau sangat luar biasa pagi ini."

"Aku belum melupakan pengalaman terakhirku." Mungkinkah itu baru kemarin?

Ia mengitari bagian depan mobil, dan menuju sisiku dalam kelebatan. Ia mulai melepaskan kaitan sabuk pengamanku.

“Biar aku yang melakukannya, kau terus saja," protesku.

“Hmmm...," ia berpikir sambil cepat-cepat menyelesaikannya. “Sepertinya aku harus memanipulasi ingatanmu."

Sebelum aku bereaksi. ia menarikku dari Jeep dan membuatku berdiri di tanah. Nyaris tak berembun sekarang ini; Alice benar.

"Memanipulasi ingatanku?" tanyaku gugup.

"Semacam itu." Ia memerhatikanku lekat-lekat, dengan hati-hati, tapi jauh di dalam matanya ada rasa humor.

Ia meletakkan kedua tangannya di Jeep di kedua sisi kepalaku dan mencondongkan tubuh, memaksaku menempel ke pintu.

Ia mencondongkan rubuhnya semakin dekat, wajahnya hanya beberapa senti dariku. Aku tak bisa melepaskan diri.

"Nah." desahnya, aromanya saja telah mengganggu proses berpikirku, "apa tepatnya yang kaukhawatirkan?" "Well, mm, menabrak pohon—" aku menelan ludah "— dan sekarat. Kemudian mual."

Ia menahan senyum. Kemudian ia menunduk dan dengan lembut menyapukan bibir dinginnya di lekukan leherku.

"Kau masih khawatir sekarang?" gumamnya di atas kulitku.

"Ya." Aku berusaha berkonsentrasi. "Tentang menabrak pepohonan dan menjadi mual."

Menggunakan hidungnya, ia menyusuri leherku hingga ke ujung dagu. Napasnya yang dingin menggelitik kulitku.

"Sekarang?" Bibirnya berbisik di rahangku.

"Pepohonan," aku terengah. "Mual."

Ia mengangkat wajah untuk mengecup kelopak mataku.

"Bella, kau tidak berpikir aku akan menabrak pohon, kan?"

“Tidak, tapi aku mungkin." Tak ada kepercayaan diri dalam suaraku. Ia mengendus kemenangan yang mudah. Perlahan-lahan ia mencium menuruni pipiku, berhenti tepat di sudut mulutku.

“Akankah kubiarkan pohon melukaimu?" Bibirnya nyaris menyapu bibir bawahku yang gemetaran. “Tidak," desahku. Aku tahu pertahananku nyaris hancur, tapi tak ada yang bisa kulakukan.

“Kaulihat," katanya, bibirnya bergerak di bibirku.

"Tak ada perlu dikhawatirkan, ya kan?" "Tidak," aku mendesah, menyerah.

Kemudian dengan dua tangan ia meraih wajahku nyaris dengan kasar, dan menciumku sepenuh hati, bibirnya yang tak mau berkompromi melumat bibirku.

Sungguh tak ada alasan untuk perilakuku. Jelas aku mestinya tahu lebih baik saat ini. Namun toh aku tak bisa menahan diri untuk tidak bereaksi seperti kali pertama. Bukannya tetap diam dengan aman, lenganku malah terangkat dan memeluk erat lehernya, dan sekonyongkonyong aku pun melebur dengan tubuhnya yang kaku.

Aku mendesah dan mengangkat bibirku. Ia tergagap mundur, dengan mudah melepaskan cengkeramanku.

"Sialan, Bella!" ujarnya, terengah-engah.

"Kau akan menjadi alasan kematianku, aku bersumpah." Aku berjongkok, mengaitkan tanganku di lutut agar tidak jatuh ke tanah.

"Kau tidak bisa mati," gumamku, berusaha mengatur napas.

"Aku mungkin memercayai itu sebelum aku bertemu denganmu. Sekarang, ayo kita keluar dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh," geramnya.

Ia mengangkatku ke punggungnya seperti sebelumnya, dan bisa kulihat ia berusaha keras untuk memperlakukanku selembut sebelumnya. Aku mengunci kedua kakiku di pinggangnya, dan melingkarkan tanganku erat-erat di lehernya.

"Jangan lupa untuk memejamkan mata," ia mengingatkan dengan nada kasar.

Aku cepat-cepat membenamkan wajahku di bahunya, di bawah lenganku sendiri, dan memejamkan mata. Dan aku nyaris tak bisa merasakan bahwa kami sedang bergerak. Aku bisa merasakannya meluncur di bawahku,

tapi ia bisa saja sedang berjalan di jalan setapak, gerakannya

terlalu halus. Aku tergoda untuk mengintip, hanya untuk melihat apakah ia benar-benar terbang menembus hutan seperti sebelumnya, tapi aku menahannya.

Tidak sebanding dengan rasa pusing yang menyiksa itu. Aku menghibur diriku sendiri dengan mendengarkan irama napasnya yang teratur.

Aku tidak begitu yakin apakah kami sudah berhenti hingga tangannya meraih ke belakang dan menyentuh rambutku.

"Sudah sampai. Bella."

Aku memberanikan diri membuka mata, dan cukup yakin, kami sudah berhenti. Dengan kaku kulepaskan cengkeramanku dan rubuhnya dan merosot ke tanah, mendarat di punggungku.

"Oh!" dengusku ketika terempas ke tanah yang basah. Ia menatapku tak percaya, jelas-jelas tak yakin apakah ia masih terlalu marah padaku untuk menganggapku lucu.

Tapi ekspresiku yang kebingungan membuatnya santai, dan ia pun tertawa terbahak-bahak. Aku bangkit berdiri, mengabaikannya sambil membersihkan lumpur dan bagian belakang jaketku. Itu hanya membuatnya tertawa lebih keras. Merasa jengkel, aku mulai melangkah ke dalam hutan. Aku merasakan lengannya memeluk pinggangku.

"Kau mau ke mana, Bella?"

"Nonton pertandingan bisbol. Kau kelihatannya tidak tertarik lagi bermain, tapi aku yakin yang lain akan bersenang-senang tanpa dirimu."

"Kau berjalan ke arah yang salah."

Aku berbalik tanpa melihat ke arahnya, dan berjalan menghentak ke arah sebaliknya. Ia menangkapku lagi.

“Jangan marah, aku tak dapat menahan diri. Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri." Ia tergelak sebelum bisa menahannya.

"Oh, jadi hanya kau yang berhak marah?" tanyaku, alisku terangkat. "Aku tidak marah padamu.”

"Bella, kau akan menjadi alasan kematianku?" aku mengingatkannya dengan nada sinis.

"Itu hanya pernyataan sesungguhnya."

Aku berusaha menjauhkan diri darinya lagi, tapi ia menangkapku dengan cepat.

Penutup Novel Twilight – PERMAINAN Bab 91

Gimana Novel twilight – Port PERMAINAN Bab 91 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya