Wednesday, February 2, 2022

Bab 90 Novel Twilight – PERMAINAN - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 90 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PERMAINAN Bab 90

Dengan putus asa aku membayangkan bagaimana melaksanakan tugasku, berjuang memikirkan cara untuk mengangkat masalah itu.

"Apa yang kaulakukan hari ini?" tanyanya, membuyarkan lamunanku.

"Well, sore ini aku di rumah saja..." Bukan sepanjang sore, sebenarnya.

Aku berusaha menjaga suaraku tetap ceria, tapi perutku seperti berlubang.

"Dan pagi ini aku bertamu ke rumah keluarga Cullen." Charlie menjatuhkan garpunya.

“Rumah dr. Cullen?" ia bertanya, kaget.

Novel Twilight


Aku berpura-pura tidak memerhatikan reaksinya.

"Yeah."

"Apa yang kaulakukan di sana?" Ia tidak mengambil garpunya lagi.

Well, bisa dibilang aku punya kencan dengan Edward Cullen malam ini, dan dia ingin memperkenalkan aku dengan orangtuanya... Dad?"

Kelihatannya Charlie mengalami penyempitan pembuluh darah.

"Dad, kau baik-baik saja?"

"Kau berkencan dengan Edward Cullen?" gelegar Charlie.

O-Oh. "Kupikir kau menyukai keluarga Cullen?"

"Dia terlalu tua untukmu," serunya marah.

“Kami sama-sama murid junior," aku meralatnya, meskipun ia lebih benar dari yang diduganya.

 "Tunggu..." ia berhenti.

"Edward itu yang mana, ya?"

"Edward adalah yang paling muda, yang rambutnya cokelat kemerahan." Yang tampan, yang seperti dewa...

"Oh, well, itu"—ia berusaha keras mengucapkan katakatanya

—"

lebih baik, kurasa. Aku tidak suka tampang yang bertubuh besar. Aku yakin dia anak laki-laki yang baik dan semuanya, tapi dia kelihatan terlalu... dewasa untukmu.

Apakah Edwin ini pacarmu?"

"Namanya Edward, Dad."

"Ya, tidak?"

"Kurasa bisa dibilang begitu."

"Semalam katamu kau tidak tertarik dengan anak lakilaki mana pun di kota ini." Tapi ia mengambil garpunya lagi, jadi aku tahu yang terburuk telah berlalu.

"Well, Edward tidak tinggal di kota, Dad." Ia menatapku jengkel saat mengunyah.

"Lagi pula," lanjutku,

"ini baru tahap awal, kau tahu. Jangan membuatku malu dengan semua omongan soal pacar, oke?

“Kapan dia akan kemari?"

“Dia akan tiba sebentar lagi."

“Dia akan mengajakmu ke mana?"

Aku menggeram keras-keras. "Kuharap kausingkirkan kecurigaan berlebihan dari pikiranmu sekarang. Kami akan bermain bisbol bersama keluarganya."

Wajahnya cemberut, kemudian akhirnya ia tergelak.

"Kau bermain bisbol?"

"Well, barangkali kebanyakan aku menonton." "Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini," ia mengamatiku curiga.

Aku mendesah dan memutar bola mataku. Aku mendengar deruman mobil diparkir di depan rumah. Aku melompat dan mulai membersihkan piring bekas makanku.

"Tinggalkan saja piring-piring itu, aku bisa mencucinya malam ini. Kau sudah terlalu memanjakanku." Bel pintu berbunyi, dan Charlie berjalan terhuyunghuyung untuk membukanya.

Aku hanya beberapa jengkal di belakangnya.

Aku tidak menyadari betapa derasnya hujan di luar sana. Edward berdiri di bawah bias lampu teras, tampak seperti model pria dalam iklan jas hujan.

"Ayo masuk, Edward."

Aku mendesah lega ketika Charlie menyebut namanya dengan benar.

"Terima kasih, Kepala Polisi Swan," sahut Edward dengan suara penuh hormat.

"Oh, panggil saja aku Charlie. Sini, kusimpankan jaketmu."

"Terima kasih, Sir."

"Silakan duduk, Edward." Aku meringis. Edward duduk dengan luwes di kursi satu dudukan, memaksaku duduk di sofa, di sebelah Charlie. Aku cepatcepat

melirik jengkel padanya. Ia mengedip di belakang Charlie.

"Jadi, kudengar kau mau mengajak putriku menonton pertandingan bisbol." Faktanya, hanya di Washington-lah pertandingan olahraga luar ruangan tetap berjalan tak peduli deras atau tidak.

“Ya, Sir, begitulah rencananya." Ia tidak tampak terkejut bahwi aku mengatakan yang sebenarnya pada ayahku. Lagi pula, ia mungkin saja mendengarkan.

"Well, kurasa kau lebih punya kekuatan untuk itu." Charlie tertawa, dan Edward ikut tertawa.

"Oke" Aku bangkit berdiri.

"Sudah cukup menertawakanku. Ayo kita pergi." Aku kembali menyusuri lorong dan mengenakan jaket. Mereka mengikuti.

"Jangan pulang terlalu larut, Bell."

"Jangan khawatir, Charlie, aku akan mengantarnya pulang sebelum larut," Edward berjanji.

"Kaujaga putriku baik-baik, oke?"

Aku mengerang, tapi mereka mengabaikanku.

"Dia akan aman bersamaku, aku janji, Sir." Charlie tak bisa meragukan ketulusan Edward, yang terdengar pada setiap kata-katanya.

Aku melangkah keluar sambil mengentakkan kaki.

Mereka tertawa, dan Edward mengikutiku. Aku berhenti tiba-tiba di teras. Di sana, di belakang trukku, tampak Jeep berukuran sangat besar.

Bannya lebih tinggi dari pinggangku. Di depan lampu depan dan belakangnya ada bemper baja dan empat lampu sorot besar terkait di rangka bemper yang besar. Atapnya merah mengilat.

Charlie bersiul pelan.

“Kenakan sabuk pengamanmu," sahutnya tercekat. Edward mengikuti ke sisiku dan membukakan pintu. Aku mengira-ngira jarak ke jok dan bersiap-siap melompat naik.

mendesah, kemudian mengangkatku dengan satu tangan.

Kuharap Charlie tidak memerhatikan.

Ketika ia beralih ke jok pengemudi, dalam langkah manusia normal, aku berusaha mengenakan sabuk pengamanku. Tapi terlalu banyak kaitan.

"Ini semua untuk apa?" tanyaku ketika ia membuka pintu.

"Itu perlengkapan keselamatan off-road.”

"Oh-oh."

Aku mencoba menemukan setiap kaitan yang tepat, tapi tidak mudah. Ia mendesah lagi dan mencondongkan tubuh untuk membantuku. Aku senang hujannya sangat lebat sehingga kurasa Charlie tidak terlalu jelas melihat kemari.

Berarti ia tidak bisa melihat tangan Edward yang menyentuh leherku, menyusuri tulang selangkaku. Aku menyerah berusaha menolongnya dan berkonsentrasi agar tidak terengah-engah.

Edward memasukkan kunci kontak dan menyalakan mesin. Kami berlalu meninggalkan rumah.

"Ini... mmm... Jeep-mu besar sekali."

"Ini punya Emmett. Kurasa kau pasti tidak ingin berlari sepanjang jalan."

"Di mana kalian menyimpan benda ini?"

"Kami merenovasi salah satu bangunan lain di rumah kami dan menjadikannya garasi."

"Apa kau tidak akan mengenakan sabuk pengamanmu?” Ia menatapku tak percaya.

Lalu aku tiba-tiba mengerti.

"Berlari sepanjang jalan? Itu berarti kita masih harus berlari separuh perjalanan?" Suaraku naik beberapa oktaf.

Ia tersenyum tegang. "Kau tidak akan berlari."

"Aku bakal mual."

Penutup Novel Twilight – PERMAINAN Bab 90

Gimana Novel twilight – Port PERMAINAN Bab 90 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya