Wednesday, February 2, 2022

Bab 88 Novel Twilight – PERMAINAN - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 88 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PERMAINAN Bab 88

17. PERMAINAN

GERIMIS baru saja mulai ketika Edward berbelok menuju jalanan rumahku. Hingga saat itu aku sama sekali tidak ragu ia akan terus menemaniku sementara aku menghabiskan waktu sebentar di dunia nyata.

Kemudian aku melihat mobil hitam, Ford usang, diparkir di pelataran parkir Charlie—dan mendengar Edward menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, suaranya pelan dan parau.

Berteduh dari hujan di teras depan yang beratap rendah, tampak Jacob Black berdiri di belakang kursi roda ayahnya.

Novel Twilight


Wajah Billy diam bagai patung ketika Edward memarkir trukku. Jacob mengawasi, ekspresinya mematikan. Suara Edward yang dalam terdengar marah. "Ini sudah kelewatan."

"Dia datang untuk memperingatkan Charlie?" aku menebak, lebih ketakutan daripada marah.

Edward hanya mengangguk, membalas tatapan Billy yang menembus hujan dengan mata menyipit. Aku merasa lemas dan sekaligus lega bahwa Charlie belum pulang

"Biar aku yang mengurusnya,” usulku.

Tatapan tajam Edward membuatku waswas.

Aku terkejut karena ia menyetujuinya.

"Barangkali itu yang terbaik. Meskipun begitu, berhati-hatilah. Anak itu tidak tahu apa-apa."

Aku sedikit kesal karena dia menyebut Jacob anak, "Jacob tidak jauh lebih muda daripadaku," aku mengingatkan.

Ia memandangku, kemarahannya langsung lenyap.

"Oh, aku tahu," ia meyakinkanku dengan senyuman. Aku mendesah dan meletakkan tanganku di pegangan pintu.

"Ajak mereka masuk," perintahnya,

“jadi aku bisa pergi. Aku akan kembali sekitar senja."

"Kau mau membawa trukku?" aku menawarkan, sambil membayangkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Charlie di mana trukku berada.

Ia memutar bola matanya. "Aku bisa berjalan pulang lebih cepat daripada truk ini."

"Kau tidak perlu pergi," kataku sedih.

Ia tersenyum melihat ekspresiku yang muram.

"Sebenarnya memang tidak perlu. Setelah kau menyingkiRkan mereka"—ia melemparkan tatapan kelam ke arah Jacob dan Billy—

"kau masih harus mempersiapkan Charlie untuk bertemu pacar barumu." Ia tersenyum lebar, memamerkan seluruh giginya.

Aku mengerang. "Terima kasih banyak."

Ia menyunggingkan senyumnya yang kusuka.

"Aku akan segera kembali," ia berjanji. Matanya kembali melirik teras, kemudian ia membungkuk, sekilas mengecup pangkal tangku.

Jantungku melompat tak keruan, dan aku memandang ke teras. Wajah Billy tak lagi datar, dan ia mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya.

"Segera," aku menekankan kara itu sambil membuka pintu dan berdiri di bawah hujan.

Aku bisa merasakan Tatapannya di punggungku ketika aku setengah berlari menembus gerimis menuju teras.

"Hei, Billy. Hai, Jacob." Aku menyapa mereka seceria mungkin.

"Charlie pergi seharian—kuharap kalian belum terlalu lama menunggu."

"Belum lama," sahur Billy tenang. Matanya yang berwarna hitam memandangku tajam. "Aku hanya mau mengantar ini" Ia menunjuk kantong cokelat di pangkuannya.

"Terima kasih," kataku, meskipun tak tahu apa isinya.

"Masuklah sebentar dan keringkan dirimu." Aku berpura-pura tidak menyadari tatapannya yang tajam saat membuka pintu, dan menyuruh mereka berjalan mendahuluiku.

"Mari, biar kusimpankan untukmu," aku menawarkan diri, berbalik untuk menutup pintu.

Kubiarkan diriku memandang ke arah Edward sekali lagi. Ia sedang menunggu, diam, matanya serius.

"Masukkan ke kulkas," Bill mengingarkan ketika menyerahkan bungkusan itu padaku.

"Isinya beberapa potong ikan goreng buatan Harry Clearwater—kesukaan Charlie. Kulkas akan membuatnya lebih kering." Ia mengangkat bahu.

"Terima kasih," aku mengulanginya, namun kali ini bersungguh-sungguh.

"Aku kehabisan cara baru untuk mengolah ikan, dan dia bertekad membawa lebih banyak ikan malam ini."

"Memancing lagi?" Billy bertanya, matanya berbinar.

“Di tempat memancing yang biasa? Barangkali aku akan ke sana menemuinya.”

“Bukan,” aku cepat-cepat berbohong, wajahku menegang, “Dia ke tempat baru... tapi aku tidak tahu di mana."

Ia menyadari perubahan ekspresiku, dan itu membuatnya berpikir.

"Jake," katanya, masih mengamatiku.

"Mengapa kau tidak pergi mengambil gambar Rebecca yang baru di mobil? Aku juga ingin memberikannya pada Charlie."

"Di mana?" Jacob bertanya, suaranya murung. Aku memandangnya, tapi ia menunduk menatap lantai, alisnya bertaut.

"Rasanya aku melihatnya di bagasi," jawab Billy.

"Kurasa kau perlu mencari-cari di bagian bawah." Jacob kembali menembus hujan.

Billy dan aku berhadap-hadapan dalam hening. Setelah beberapa saat, keheningan itu mulai terasa menjengahkan, jadi aku berbalik menuju dapur. Aku bisa mendengar decit roda kursinya yang basah di atas lantai linoleum ketika mengikutiku.

Kumasukkan kantong itu ke rak teratas kulkas yang sudah penuh, dan berbalik menghadapnya. Wajahnya yang keriput tak dapat ditebak.

“Charlie pulang larut." Suaraku nyaris kasar.

Ia mengangguk setuju, tapi tidak mengatakan apa-apa.

“Sekali lagi terima kasih untuk ikan gorengnya," ujarku memberi isyarat.

Ia terus mengangguk. Aku mendesah dan melipat tanganku di dada.

Ia sepertinya bisa merasakan bahwa aku sudah tak ingin basa-basi lagi.

"Bella," katanya, kemudian ragu-ragu.

Aku menunggu.

"Bella," katanya lagi. "Charlie salah satu sahabatku."

"Ya."

Hati-hati ia mengucapkan setiap kata dengan suara bergemuruh.

"Kuperharikan kau menghabiskan waktumu dengan salah satu anak keluarga Cullen.”

"Ya," kembali aku menjawab dengan ketus. Matanya menyipit.

"Barangkali ini bukan urusanku, tapi menurutku itu bukan ide yang bagus."

"Kau benar," timpalku.

"Itu memang bukan urusanmu." Alisnya yang beruban terangkat mendengar nada suaraku. "Barangkali kau tidak mengetahuinya, tapi keluarga Cullen punya reputasi tidak bagus di reservasi kami."

Penutup Novel Twilight – PERMAINAN Bab 88

Gimana Novel twilight – Port PERMAINAN Bab 88 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya