Tuesday, February 1, 2022

Bab 87 Novel Twilight – CARLISLE - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 87 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – CARLISLE Bab 87

Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, dan ia mengangguk.

“Aku benci menghancurkan harapanmu, tapi kau benar tidak semenakutkan yang kaukira. Sebenarnya, aku sama tidak menganggapmu menakutkan," aku berbohong.

Ia berhenti, alisnya terangkat, jelas-jelas tidak percaya. Kemudian ia tersenyum lebar dan licik.

“Kau seharusnya tidak mengatakan itu," ia tergelak.

Novel Twilight


Ia menggeram dengan suara pelan; bibirnya ditarik dan memamerkan giginya yang sempurna.

Sekonyong-konyong ia menggeser posisinya, setengah membungkuk, tegang seperti singa yang siap menerjang.

Aku mundur darinya, menatapnya nanar.

"Kau tidak akan melakukannya."

Aku tidak melihatnya melompat ke arahku—terlalu cepat. Sekonyong-konyong aku mendapati diriku melayang, kemudian kami mendarat di sofa yang menyentak keras sampai ke dinding. Lengannya membentuk sangkar baja di sekeliling tubuhku—nyaris menyentuhku.

Tapi aku toh terengah-engah saat mencoba memperbaiki posisiku. Ia tidak membiarkanku. Digulungnya tubuhku menyerupai bola ke dadanya, dicengkeramnya diriku lebih erat daripada rantai besi. Aku menatapnya ngeri, tapi sepertinya ia dapat mengendalikan diri dengan baik, rahangnya melemas ketika ia tersenyum, matanya berkilatkilat penuh canda.

“Apa katamu tadi?" ia berpura-pura menggeram.

“Kau monster yang sangat, sangat menakutkan," kataku kesinisanku sedikit melunak karena terengah-engah.

“Jauh lebih baik,” ia menyetujuinya.

“Mmm.” Aku berusaha bangkit.

"Boleh aku bangun sekarang?”

Ia hanya tertawa.

"Boleh kami masuk?" terdengar suara lembut dari lorong.

Aku berjuang melepaskan diri, tapi Edward hanya menggeser posisiku hingga aku duduk sopan di pangkuannya. Aku bisa melihat bahwa itu Alice, dan Jasper berdiri di belakangnya, di pintu masuk. Pipiku merah padam, tapi Edward tampak santai.

"Silakan." Edward masih menahan tawa.

Alice sepertinya tidak menemukan sesuatu yang aneh melihat kami berpelukan seperti itu; ia berjalan—nyaris menari, gerakannya sangar anggun—ke tengah ruangan, di sana ia duduk bersila dengan luwes di lantai.

Sebaliknya Jasper berhenti di pintu, ekspresinya agak terkejut. Ia menatap wajah Edward, dan aku bertanya-tanya apakah ia sedang merasakan suasana dengan kepekaannya yang luar biasa.

"Kedengarannya kau akan memangsa Bella untuk makan siang, dan kami datang untuk melihat apakah kau mau berbagi," ujar Alice.

Tubuhku langsung kaku, sampai aku menyadari Edward tersenyum—entah karena komentar Alice atau reaksiku, aku tak dapat mengatakannya.

“Maaf, rasanya aku tak ingin berbagi," jawabnya, dengan seenaknya memelukku lebih dekat.

“Sebenarnya," kata Jasper, tersenyum sambil memasuki ruangan.

"Alice bilang akan ada badai besar malam ini, dan Emmett ingin bermain bisbol. Kau mau ikut?" Ucapannya terdengar cukup biasa, tapi konteksnya membuatku bingung.

Meskipun kusimpulkan Alice lebih bisa diandalkan daripada ramalan cuaca.

Mata Edward berkilat-kilat, tapi ia ragu.

“Tentu saja kau harus mengajak Bella," seru Alice.

Sepertinya aku melihat Jesper melirik ke arahnya.

“Apa kau ingin ikut?" Edward bertanya padaku, kelihatan senang, wajahnya bersemangat.

"Tentu." Aku tak mungkin mengecewakannya.

"Mmm, kita akan ke mana?"

"Kami harus menunggu petir untuk bermain bisbol—kau akan tahu kenapa," ia berjanji.

"Apakah aku akan memerlukan payung?" Mereka tertawa keras.

"Perlukah?" Jasper bertanya pada Alice.

"Tidak." Alice terdengar yakin.

"Badai akan menghantam kota. Akan cukup kering di hutan."

"Kalau begitu, bagus." Seperti biasa, semangat dalam suara Jasper menular. Aku mendapati diriku bersemangat, bukannya ketakutan.

"Ayo kita lihat apakah Carlisle mau ikut." Alice melompat-lompat menuju pintu dalam balutan pakaian yang akan membuat iri balerina mana pun.

“Seperti kau tidak tahu saja," goda Jasper, dan mereka langsung berlalu.

Jasper berhasil menutup pintu tanpa bersuara.

“Kita akan main apa?" tanyaku.

“Kau akan menonton," Edward meralat. "Kami yang akan bermain bisbol."

Aku memutar bola mataku. "Vampir suka bisbol?"

“Itu permainan bangsa Amerika di masa lampau." oloknya.

Penutup Novel Twilight – CARLISLE Bab 87

Gimana Novel twilight – Port CARLISLE Bab 87 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya