Tuesday, February 1, 2022

Bab 85 Novel Twilight – CARLISLE - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 85 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – CARLISLE Bab 85

Ia tergelak misterius, dan menyelesaikan kalimatnya.

"Karena secara teknis, kami tidak perlu bernapas." "Kau—"

"Tidak, tidak, kau sudah janji." Edward tertawa, dengan lembut meletakkan jarinya yang dingin di bibirku. "Kau mau mendengar ceritanya atau tidak?

"Kau tak bisa menceritakan sesuatu seperti itu padaku, lalu berharap aku tak mengatakan apa-apa," gumamku.

Novel Twilight


Ia mengangkat tangan, memindahkannya ke leherku.

Jantungku bereaksi terhadap hal itu, tapi aku berkeras.

"Kau tak perlu bernapas?" desakku.

"Tidak, itu tidak perlu. Hanya masalah kebiasaan." Ia mengangkat bahu.

“Berapa lama kau tahan... tanpa bernapas?"

"Kurasa untuk waktu tak terbatas; entahlah. Lamakelamaan rasanya agak tidak nyaman untuk tidak memiliki indra penciuman." “Agak tidak nyaman," ulangku.

Aku tidak memerhatikan ekspresiku sendiri, tapi sesuatu yang ditunjukkannya membuat Edward semakin muram. Tangannya terkulai di sisinya dan ia berdiri diam tak bergerak, matanya menatap lekat wajahku.

Keheningan terus berlanjut. Tubuhnya tak bergerak bagai baru.

“Ada apa?" aku berbisik, menyentuh wajahnya yang membeku.

Wajahnya melembut karena sentuhanku, dan ia mendesah

“Aku terus menunggunya terjadi."

"Menunggu apa?"

"Aku tahu pada titik tertentu, sesuatu yang kukatakan padamu atau sesuatu yang kaulihat akan sulit diterima. Kemudian kau akan menjauh dariku, lari sambil menjeritjerit."

Ia setengah tersenyum, tapi tatapannya serius.

"Aku takkan menghentikanmu. Aku ingin ini terjadi sebab aku ingin kau aman. Meski begitu, aku juga ingin bersamamu. Dua hasrat yang mustahil dipertemukan..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan hanya memandang wajahku. Menunggu.

"Aku takkan lari ke mana-mana," aku berjanji padanya.

"Kita lihat saja," katanya, tersenyum lagi.

Aku merengut. "Jadi, lanjutkan—Carlisle berenang ke Prancis."

Ia berhenti, kembali lagi ke ceritanya. Dengan sendirinya matanya tertuju ke gambar lain—yang paling berwarnawarni di antara yang lainnya, yang bingkainya paling penuh ukiran, dan yang paling besar; lebarnya dua kali pintu di sebelahnya.

Kanvasnya sarat dengan sosok-sosok terang dalam jubah panjang, berputar-putar mengelilingi pilar-pilar dan melewati balkon pualam. Aku tak bisa mengatakan apakah gambar itu menggambarkan mitologi Yunani, ataukah karakter yang melayang di atas awan dimaksudkan bersifat biblikal.

"Carlisle berenang ke Prancis, dan terus ke Eropa, ke universitas-universitas di sana. Pada malam hari dia belajar musik, ilmu pengetahuan, kedokteran—dan menemukan panggilan hidup dan penebusan dirinya lewat menyelamatkan nyawa manusia." Ekspresinya penuh kekaguman, hormat.

"Aku tak punya cukup kata-kata untuk menggambarkan perjuangan Carlisle; dia menghabiskan dua abad untuk menyempurnakan pengendalian dirinya dengan susah payah. Sekarang dia sudah kebal dengan bau darah manusia, dan dia mampu melakukan pekerjaan yang dicintainya tanpa tersiksa. Dia menemukan kedamaian yang luar biasa di sana, di rumah sakit..." Lama sekali Edward menerawang.

Tiba-tiba ia teringat tujuan awalnya.

Ia menepukkan tangannya ke lukisan besar di depan kami. "Dia sedang belajar di Italia ketika menemukan yang lainnya di sana. Mereka jauh lebih beradab dan berpendidikan daripada makhluk-makhluk penghuni gorong-gorong di London."

Ia menyentuh empat sosok yang terlukis di balkon paling tinggi, yang dengan tenang memandang kekacauan di bawah mereka. Aku mengamari sosok-sosok itu dengan saksama, lalu tersadar, seraya tertawa kaget, bahwa aku mengenali pria berambut keemasan itu.

"Solimena sangat terinspirasi oleh teman-teman Carlisle. Dia sering melukiskan mereka sebagai dewa," Edward tertawa.

"Aro, Marcus, Caius," katanya, memperkenalkan tiga lainnya, dua berambut hitam, yang satu lagi berambut putih bagai salju.

“Penjaga malam di gedung seni."

“Apa yang terjadi pada mereka?" tanyaku lantang, ujung jariku hanya satu senti dari figur-figur di kanvas itu.

“Mereka masih di sana." Ia mengangkat bahu.

"Seperti selama entah siapa yang tahu berapa ribu tahun ini. Carlisle tinggal hanya sebentar bersama mereka, hanya beberapa dekade. Dia sangat mengagumi keberadaban mereka, kehalusan budi bahasa mereka, tapi mereka tetap berusaha memulihkan ketidaksukaan Carlisle terhadap makanan utamanya, begitulah mereka menyebutnya. Mereka mencoba membujuknya, dan dia berusaha memengaruhi mereka, keduanya sama-sama tidak berhasil. Karena itu Carlisle memutuskan untuk mencoba Dunia Baru. Dia berkhayal menemukan yang lain seperti dirinya. Dia sangat kesepian, kau tahu."

Dia tidak menemukan siapa-siapa untuk waktu yang lama. Tapi mengingat monster telah menjelma menjadi makhluk dongeng, dia mendapati dirinya dapat berinteraksi dengan manusia, seolah-olah dia salah satu dari mereka. Dia mulai menerapkan metode pengobatan. Dan meskipun hasratnya untuk menjalin persahabatan tak terelakkan lagi; dia tak dapat mempertaruhkan identitasnya.

Ketika epidemi influenza merebak, dia bekerja bermalam-malam di sebuah rumah sakit di Chicago. Bertahun-tahun dia telah mempertimbangkan sebuah gagasan dalam benaknya, dan dia nyaris memutuskan untuk melakukannya—berhubung dia tak bisa mendapatkan teman, dia akan menciptakannya.

“Dia tak sepenuhnya yakin bagaimana terjadinya perubahan dalam dirinya, jadi dia merasa ragu. Dan dia benci mengambil hidup seseorang seperti hidupnya telah diambil. Dalam pemikiran itulah dia menemukanku. Tak ada harapan untukku; aku dibiarkan berbaring di bangsal bersama orangorang sekarat. Dia telah merawat orangtuaku, dan tahu aku sebatang kara. Dia memutuskan untuk mencobanya..." Suara Edward, nyaris berbisik sekarang, memelan.

Diam-diam matanya menerawang ke jendela-jendela di sebelah barat. Aku bertanya-tanya apa yang mengisi pikirannya sekarang, kenangan Carlisle ataukah ingatannya sendiri. Aku menunggu dalam diam.

Ketika ia kembali padaku, senyuman malaikat yang lembut menghiasi wajahnya.

"Dan sejak itu hidup kami sempurna," ia menyimpulkan.

"Apakah sejak itu kau selalu tinggal bersama Carlisle.” tanyaku.

"Hampir selalu." Ia meletakkan tangannya di pinggangku dan menarikku bersamanya sambil berjalan ke pintu.

Aku menoleh memandang dinding yang dipenuhi gambar itu, bertanya-tanya apakah aku akan pernah mendengarkan kisah yang lainnya.

Penutup Novel Twilight – CARLISLE Bab 85

Gimana Novel twilight – Port CARLISLE Bab 85 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya