Tuesday, February 1, 2022

Bab 79 Novel Twilight – Keluarga Cullen - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 79 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – Keluarga Cullen Bab 79

"Dan Jasper membuat kalian semua nyaman untuk menumpahkan kegelisahan kalian, jangan lupa itu." "Kau menyimak," ia tersenyum senang.

“Aku cukup dikenal akan hal ini kadang-kadang." Aku meringis,

"jadi, apakah Alice sudah melihat kedatanganku?" Reaksinya aneh. "Kira-kira begitu," katanya jengah, berpaling sehingga aku tidak melihat matanya. Aku menatapnya penasaran.

“Apakah itu enak?” tanyanya, tiba-tiba berbalik menghadapku dan menatap sarapanku dengan pandangan menggoda.

Novel Twilight


“Jujur, makananmu itu tidak terlalu mengundang selera."

"Well, sama sekali bukan beruang pemarah...," gumamku, mengabaikan tatapan marahnya.

Aku masih bertanya-tanya mengapa ia bereaksi seperti itu saat aku menyebut soal Alice. Aku buru-buru menghabiskan serealku, sambil berspekulasi.

Ia berdiri di tengah dapur, mirip patung Adonis lagi, menerawang ke luar jendela belakang. Kemudian tatapannya kembali padaku, dan ia memamerkan senyumnya yang menawan. "Dan kurasa kau juga harus memperkenalkanku pada ayahmu."

"Dia sudah mengenalmu," aku mengingatkannya.

"Maksudku sebagai pacarmu."

Aku menatapnya curiga. "Kenapa?"

"Bukankah begitu kebiasaannya?" tanyanya polos.

"Aku tidak tahu," aku mengakui. Pengalaman berkencanku yang minim tidak cukup bagiku untuk mengetahui kebiasaan itu. Bukan berarti aturan berkencan yang normal berlaku di sini.

"Itu tidak perlu, kau tahu. Aku tidak berharap kau... maksudku, kau tak perlu berpura-pura demi aku." Senyumnya penuh kesabaran.

"Aku tidak berpura-pura." Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk, menggigit bibir.

"Kau akan memberitahu Charlie bahwa aku pacarmu atau tidak?" desaknya.

"Apakah kau boyfriend-ku?" Kutekan ketakutanku membayangkan Edward dan Charlie dan kata

"boyfriend— pacar" dalam ruangan yang sama pada waktu bersamaan.

"Kuakui itu pengertian bebas mengenai kata 'boy’”

"Aku mendapat kesan sebenarnya kau lebih dari itu." aku mengaku, memandangi meja.

"Well, aku tidak tahu apakah kita perlu memberitahunya semua detail mengerikan itu." Ia meraih ke seberang meja, mengangkat daguku dengan jarinya yang dingin dan lembut.

"Tapi dia akan memerlukan penjelasan mengapa aku sering kemah. Aku tak ingin Kepala Polisi Swan menetapkan larangan untukku."

"Benarkah?" aku sekonyong-konyong waswas.

"Benarkah kau akan berada di sini?"

"Selama yang kauinginkan," ia meyakinkanku. “Aku akan selalu menginginkanmu," aku mengingatkannya. "Selamanya."

Perlahan ia mengelilingi meja, setelah beberapa senti dariku ia menghentikan langkah, mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku. Ekspresinya penuh makna.

“Apa itu membuatmu sedih?" tanyaku. Ia tak menyahut. Lama sekali ia menatap ke dalam mataku.

"Kau sudah selesai?" ia akhirnya bertanya.

Aku melompat berdiri. "Ya."

"Berpakaianlah—aku akan menunggu di sini." Sulit memutuskan apa yang harus kukenakan.

Aku ragu ada buku etika yang menjelaskan bagaimana seharusnya berpakaian ketika kekasih vampirmu hendak memperkenalkanmu kepada keluarga vampirnya. Lega rasanya bisa berpikir begitu. Aku tahu aku sengaja tak mau memikirkannya.

Akhirnya aku mengenakan satu-satunya rok yang kumiliki – rok panjang, berwarna khaki, masih kasual. Aku mengenakan blus biru tua yang pernah dipujinya. Lirikan singkat di cermin memberitahu rambutku benar-benar berantakan, jadi aku mengucirnya jadi ekor kuda.

“Oke.” Aku melompat-lompat menuruni tangga.

“Aku sudah pantas bepergian.”

Ia menunggu di ujung tangga, lebih dekat dari yang kukira, dan aku langsung menghambur ke arahnya. Ia memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku lebih dekat.

"Kau salah lagi," gumamnya di telingaku.

"Kau sangat tidak pantas—tak seorang pun boleh terlihat begitu menggoda, itu tidak adil."

"Menggoda bagaimana?" tanyaku. "Aku bias mengganti...”

Ia mendesah, menggeleng-gelengkan kepala.

"Kau sangat konyol." Dengan lembut ia menempelkan bibirnya yang sejuk di dahiku, dan ruangan pun berputar. Aroma napasnya membuatku mustahil bisa berpikir.

"Haruskah aku menjelaskan bagaimana kau membuatku tergoda?" katanya.

Jelas itu pertanyaan retoris. Jemarinya perlahan menelusuri tulang belakangku, napasnya semakin menderu di permukaan kulitku. Tanganku membeku di dadanya, dan aku kembali melayang. Ia memiringkan kepala perlahan, dan menyentuhkan bibir dinginnya ke bibirku untuk kedua kalinya, dengan sangat hati-hati membukanya.

Kemudian aku tak sadarkan diri.

“Bella?" suaranya terdengar kaget ketika ia menangkap dan memegangiku.

“Kau... membuatku... jatuh pingsan," aku meracau.

"Apa yang akan kulakukan denganmu!" ia menggerutu, putus asa.

"Kemarin aku menciummu, dan kau menyerangku! Hari ini kau pingsan di hadapanku!" Aku tertawa lemah, membiarkan lengannya menahanku sementara kepalaku masih berputar-putar.

"Dan katamu aku bisa melakukan segalanya.” ia mendesah.

"Itulah masalahnya" Aku masih pusing,

"Kau terlalu pintar melakukannya. Amat sangat terlalu pintar."

"Kau merasa sakit?" ia bertanya; ia pernah melihatku Seperti ini sebelumnya.

"Tidak – pingsanku kali ini berbeda. Aku tak tahu apa yang terjadi." Aku menggeleng menyesalinya.

"Kurasa aku lupa bernapas."

"Aku tak bisa membawamu ke mana-mana dalam keadaan seperti ini.”

"Aku baik-baik saja,” aku bersikeras. “Lagi pula keluargamu toh bakal menganggapku gila. jadi apa bedanya?"

Ia mengamati ekspresiku beberapa saat. "Aku sangat menyukai warna kulitmu," ujarnya tak disangka-sangka.

Wajahku memerah senang dan berpaling.

"Begini, aku berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan apa yang akan kulakukan, jadi bisakah kita berangkat sekarang?" tanyaku.

"Dan kau khawatir, bukan karena kau akan pergi ke rumah yang isinya vampir semua, tapi karena kaupikir vampir-vampir itu tak akan menerimamu, betul?"

"Betul," aku langsung menjawabnya, menyembunyikan keterkejutanku pada kata-katanya yang terdengar wajar.

Ia menggeleng. "Kau sulit dipercaya."

Aku menyadari, saat ia mengemudikan trukku meninggalkan pusat kota, aku sama sekali tak tahu di mana ia tinggal. Kami melewati jembatan di Sungai Calawah, jalanan membentang ke utara, rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang, dan semakin besar.

Penutup Novel Twilight – Keluarga Cullen Bab 79

Gimana Novel twilight – Port Keluarga Cullen Bab 79 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya