Sunday, February 20, 2022

Bab 4 Novel Twilight (NEW MOON) – PESTA - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 4 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PESTA Bab 4

Edward punya banyak uang—aku bahkan tidak ingin membayangkan jumlahnya. Uang hampir tak ada artinya bagi Edward atau anggota keluarga Cullen lainnya. Itu hanya sesuatu yang semakin bertambah karena mereka memiliki waktu tak terbatas dan saudara perempuan dengan kemampuan ajaib memprediksi tren pasar modal.

Edward sepertinya tidak mengerti mengapa aku tidak ingin ia menghabiskan uangnya untukku— mengapa aku justru merasa tidak enak bila diajak makan di restoran mahal di Seattle, mengapa ia tidak diizinkan membelikan aku mobil yang bisa melaju di atas kecepatan 88 kilometer per jam, atau mengapa aku tidak membiarkan ia membayar uang kuliahku (konyolnya, ia sangat antusias terhadap Rencana B). Edward menganggapku senang bersikap sulit padahal sebenarnya tidak perlu.

Novel Twilight (NEW MOON)


Tapi bagaimana aku bisa membiarkannya memberiku banyak hal sementara aku tidak bisa membalasnya? Ia, entah untuk alasan apa, ingin bersamaku. Jika ia memberiku hal lain lagi, itu hanya akan membuat kami makin tidak seimbang.

Waktu terus berjalan, baik Edward maupun Alice tak lagi mengungkit masalah hari ulang tahunku, jadi aku mulai merasa sedikit rileks. Kami duduk di meja kami yang biasa saat makan siang.

Ada semacam gencatan senjata aneh di meja kami. Kami bertiga—Edward, Alice, dan aku— duduk di sisi meja paling selatan. Karena sekarang anggota keluarga Cullen lain yang "lebih tua" dan lebih mengerikan (dalam kasus Emmett, jelas) sudah lulus, Alice dan Edward tidak terlihat terlalu mengancam, jadi bukan hanya kami yang duduk di meja ini.

Teman-temanku yang lain, Mike dan Jessica (yang sedang dalam fase canggung sehabis putus), Angela dan Ben (yang hubungannya berhasil melewati musim panas dengan selamat), Eric, Conner, Tyler, dan Lauren (walaupun yang terakhir itu tidak termasuk kategori teman) semua duduk di meja yang sama, di seberang garis pemisah yang tak kasatmata. Garis itu lenyap di

hari-hari cerah saat Edward dan Alice bolos sekolah, dan pada hari seperti itu, obrolan bisa berlangsung sangat lancar dan melibatkan aku. Edward dan Alice tidak menganggap sikap teman-temanku yang agak mengasingkan mereka itu aneh atau menyinggung perasaan, seperti yang pasti bakal kurasakan kalau itu terjadi padaku.

Mereka nyaris tidak memerhatikannya. Orangorang selalu merasa agak canggung berdekatan dengan keluarga Cullen, malah bisa dibilang nyaris takut, untuk alasan yang mereka sendiri tak bisa jelaskan. Aku pengecualian yang jarang dalam hal itu. Terkadang justru Edward yang merasa terganggu melihat betapa nyaman aku di dekatnya.

Menurutnya itu berbahaya bagi kesehatanku— pendapat yang selalu kutolak mentah-mentah setiap kali ia mengutarakannya. Siang berlalu dengan cepat. Sekolah usai, dan seperti biasa, Edward mengantarku ke truk. Tapi kali ini, ia membukakan pintu penumpang. Alice pasti membawa mobilnya pulang supaya Edward bisa memastikan aku tidak kabur.

Aku bersedekap dan tidak menunjukkan tandatanda bakal segera berteduh dari hujan yang menderas.

"Sekarang kan hari ulang tahunku, jadi boleh dong aku yang menyetir?"

"Aku berpura-pura hari ini bukan hari ulang tahunmu, seperti yang kauinginkan.”

"Kalau ini bukan hari ulang tahunku, berarti aku tidak harus pergi ke rumahmu malam ini...”

"Baiklah," Edward menutup pintu dan berjalan melewatiku untuk membuka pintu pengemudi.

"Selamat ulang tahun."

"Ssst," desahku setengah hati.

Aku naik melewati pintu yang sudah terbuka, dalam hati berharap Edward menerima tawaranku yang lain. Edward mengotak-atik radio sementara aku menyetir, menggeleng sebal.

"Sinyal radiomu jelek sekali." Keningku berkerut. Aku tidak suka Edward menjelek-jelekkan trukku. Trukku bagus kok— punya kepribadian.

"Kepingin stereo yang bagus? Naik mobilmu saja." Aku begitu gugup menghadapi rencana Alice,

ditambah suasana hatiku yang memang sudah muram, jadi kata-kata yang keluar dari mulutku terdengar lebih tajam daripada yang sebenarnya kumaksudkan. Aku jarang marah kepada Edward, dan nadaku yang ketus membuat Edward mengatupkan bibir rapat-rapat menahan senyum. Setelah aku memarkir trukku di depan rumah Charlie, Edward merengkuh wajahku dengan kedua tangan.

Ia memegangku sangat hati-hati, hanya ujung-ujung jarinya yang menempel lembut di pelipis, tulang pipi, dan daguku. Seolah-olah aku gampang pecah. Dan itu benar—bila dibandingkan dengan dia, paling tidak.

“Seharusnya hari ini suasana hatimu lebih baik dibanding kan hari-hari lain" bisiknya.

Aroma napasnya yang manis membelai wajahku.

"Dan kalau suasana hatiku jelek?" tanyaku, napasku tidak teratur.

Bola mata Edward yang keemasan menyalanyala.

"Sayang sekali."

Kepalaku sudah berputar-putar saat Edward mendekatkan kepalanya ke wajahku dan menempelkan bibirnya yang sedingin es ke bibirku. Tepat seperti yang ia inginkan, sudah pasti, aku langsung melupakan semua kekhawatiranku dan berkonsentrasi untuk ingat menghirup napas dan mengeluarkannya.

Bibir Edward terus menempel di bibirku, dingin, licin, dan lembut, sampai aku merangkulkan kedua tanganku ke lehernya dan membiarkan diriku hanyut dalam ciumannya, agak terlalu antusias malah. Aku bisa merasakan bibirnya tertekuk ke atas saat ia melepaskan wajahku dan melepaskan tanganku yang mendekap tengkuknya erat-erat.

Edward sangat berhati-hati dalam utusan hubungan fisik, karena ia ingin aku tetap hidup. Meski tahu aku harus memberi jarak aman antara kulitku dengan gigi Edward yang setajam silet dan berlapis racun itu, aku cenderung melupakan halhal remeh semacam itu saat ia menciumku.

"Jangan nakal," desahnya di pipiku.

Edward menempelkan bibirnya sekali lagi dengan lembut ke bibirku, kemudian melepaskan pelukannya, melipat kedua lenganku di perut.

Denyut nadi menggemuruh di telingaku.

Kutempelkan sebelah tanganku ke dada.

Penutup Novel Twilight (New Moon)PESTA Bab 4

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port PESTA Bab 4 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya