Thursday, February 24, 2022

Bab 39 Novel Twilight (NEW MOON) – PENGULANGAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 39 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PENGULANGAN Bab 39

7. PENGULANGAN

ENTAH apa yang kulakukan di sini. Apakah aku berusaha mendorong diriku kembali ke keadaan seperti zombie? Apakah aku sudah berubah menjadi masokis—senang disiksa? Seharusnya aku langsung ke La Push.

Aku merasa jauh. jauh lebih sehat bila bersama Jacob, Ini bukan hal yang sehat untuk dilakukan. Tapi aku terus saja mengendarai trukku pelanpelan menembus jalan yang ditumbuhi semaksemak liar di kiri-kanan-nya, meliuk-liuk menerobos pepohonan yang melengkung di atas kepala bagai terowongan hijau yang hidup.

Kedua tanganku gemetar, dan aku mempererat cengkeramanku pada setir.

Aku tahu sebagian alasanku melakukan ini karena mimpi buruk itu; sekarang setelah aku benar-benar terbangun, kehampaan mimpi itu menggerogoti saraf-sarafku, seperti anjing mengkhawatirkan di mana tulangnya dikubur.

Novel Twilight (NEW MOON)


Ada sesuatu yang harus dicari. Tak bisa diraih dan mustahil, tidak peduli dan tidak perhatian... tapi dia ada di luar sana, di suatu tempat. Aku harus memercayai hal itu.

Sebagian yang lain adalah sensasi pengulangan aneh seperti yang kurasakan di sekolah tadi,

tanggal yang kebetulan itu. perasaan bahwa aku memulai dari awal lagi—mungkin akan begitulah hari pertamaku jadinya bila aku sungguh-sungguh menjadi orang yang paling tidak biasa di kafeteria siang itu.

Kata-kata itu memenuhi kepalaku, tanpa nada, seolah-olah aku membaca dan bukan mendengarnya langsung:

Nantinya akan terasa seolah-olah aku tak pernah ada.

Aku membohongi diri sendiri dengan membagi alasan kedatanganku ke sini menjadi hanya dua bagian. Aku tak mau mengakui motivasi terbesar.

Karena secara mental itu tidak waras. Sebenarnya, aku ingin mendengar suaranya lagi, seperti delusi aneh yang kualami Jumat malam lalu.

Untuk waktu yang singkat itu, ketika suaranya datang dari bagian lain selain ingatan sadarku, ketika suaranya terdengar sempurna dan semanis madu, bukan gaung lemah seperti yang biasa dimunculkan kenanganku, aku bisa mengingatnya tanpa merasa sedih. Itu tidak bertahan lama; kepedihan itu kembali menyerangku, sesuatu yang aku yakin pasti akan terjadi setelah aku melakukan tindakan ceroboh ini.

Tapi momen-momen berharga saat aku bisa mendengarnya lagi bagaikan rayuan yang tak bisa ditolak. Aku harus mencari cara untuk mengulangi pengalaman itu... atau mungkin istilah yang lebih tepat adalah episode.

Aku berharap deja vu adalah kuncinya. Itu sebabnya aku akan pergi ke rumahnya, yang tak

pernah kuinjak lagi sejak pesta ulang tahunku yang sial itu, beberapa bulan silam. Tumbuh-tumbuhan lebat dan nyaris menyerupai hutan belantara merayap lamban di samping jendela trukku, meluncur dan meluncur terus. Kupercepat laju trukku, mulai gelisah.

Sudah berapa lama aku menyetir? Bukankah seharusnya aku sudah sampai di rumah itu? Tetumbuhan begitu menyemak hingga jalan yang kulalui tampak asing.

Bagaimana kalau aku tak bisa menemukannya?

Aku bergidik. Bagaimana kalau tidak ada bukti nyata sama sekali?

Kemudian kelebatan pepohonan mulai merenggang, persis seperti yang kucari, hanya saja sekarang tidak terlalu kentara. Flora di sini tidak menunggu lama untuk mengklaim kembali tanah yang dibiarkan tak dijaga.

Pakis-pakisan tinggi sudah menyusup ke padang rumput di sekeliling rumah, mengimpit batang-batang pohon cedar, bahkan sampai ke teras yang lebar. Seolah-olah halaman dibanjiri—setinggi pinggang—dengan gelombang hijau berombak-ombak.

Dan rumah itu ada di sana, tapi tidak sama. Meski tidak ada yang berubah di bagian luar, namun kekosongan berteriak dari jendelajendelanya yang melompong. Mengerikan. Untuk pertama kali semenjak melihat rumah indah ini, aku merasa ini tempat yang tepat untuk kediaman vampir.

Kuinjak rem dalam-dalam, berpaling. Aku tak berani maju lebih jauh lagi.

Tapi tak ada yang terjadi. Tidak ada suara apaapa dalam benakku.

Aku membiarkan mesin truk tetap menyala dan melompat ke dalam lautan pakis. Mungkin, seperti Jumat malam lalu, kalau aku melangkah maju... Pelan-pelan aku berjalan menghampiri bagian depan rumah yang sepi dan kosong, mesin trukku menggemuruh menenangkan di belakangku.

Aku berhenti sesampainya di tangga teras, karena tidak ada apa-apa di sini. Tidak tersisa sedikit pun kesan bahwa mereka pernah di sini... bahwa ia pernah di sini. Rumah itu memang masih berdiri kokoh, tapi itu tidak banyak berarti. Realita konkretnya tidak akan mengenyahkan kehampaan mimpi burukku. Aku tidak berjalan lebih dekat lagi. Aku tidak ingin melongok ke dalam jendela. Entah mana yang lebih berat dilihat.

Bila ruangan-ruangan di dalamnya melompong, bergaung kosong dari lantai ke langit-langit, itu pasti akan sangat menyakitkan. Seperti waktu nenekku meninggal, saat ibuku berkeras menyuruhku tetap di luar sebelum Beliau dimakamkan. Alasannya, aku tidak perlu melihat Gran seperti itu, mengingatnya seperti itu, lebih baik mengingatnya seperti waktu ia masih hidup.

Tapi apakah tidak lebih buruk bila semuanya tetap sama? Bila sofa-sofa itu masih berada di tempat aku terakhir kali melihatnya, lukisanlukisan masih terpajang di dinding—dan lebih parah lagi, piano itu masih bertengger di panggungnya yang rendah? Itu hanya bisa ditandingi dengan rumah ini lenyap tanpa bekas, melihat benda-benda itu teronggok begitu saja.

Bahwa semua masih sama, tak disentuh dan dilupakan, ditinggalkan pemiliknya.

Sama seperti aku.

Aku berbalik memunggungi kekosongan yang menyayat hati itu dan bergegas kembali ke truk. Hampir saja aku berlari. Aku ingin secepatnya pergi dari sini, kembali ke dunia manusia. Aku merasa diriku hampa, dan aku ingin bertemu Jacob.

Mungkin ada penyakit lain yang berkembang dalam diriku, kecanduan lain, seperti kekebasan yang kurasakan sebelumnya. Aku tak peduli. Kuinjak pedal gas dalam-dalam, memacu trukku secepat mungkin, menggelinding menuju "obat" yang dapat memuaskan kecanduanku. Jacob sudah menungguku. Dadaku seakan merileks begitu melihatnya, membuatku mudah bernapas.

Penutup Novel Twilight (New Moon)PENGULANGAN Bab 39

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port PENGULANGAN Bab 39 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya