Thursday, February 24, 2022

Bab 36 Novel Twilight (NEW MOON) – TEMAN-TEMAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 36 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – TEMAN-TEMAN Bab 36

Charlie berdiri di teras belakang yang kecil, bersama Billy yang duduk di ambang pintu di belakangnya.

"Hai, Dad," sapa kami berbarengan, dan itu membuat kami tertawa lagi.

Charlie memandangiku dengan mata terbelalak lebar, lalu melirik sekilas ke bawah, melihat tangan Jacob yang menggandeng tanganku.

"Billy mengundang kita makan malam," kata Charlie dengan nada biasa-biasa saja.

"Resep spageti super rahasiaku. Diwariskan turun-temurun ke beberapa generasi," kata Billy dengan suara serak.

Jacob mendengus. "Kurasa Ragu belum ada selama itu."

Di dalam rumah penuh orang. Ada Harry Clearwater bersama keluarganya—istrinya, Sue, yang samar-samar masih kuingat dari liburan musim panas di Forks waktu aku masih kecil dulu, dan kedua anaknya.

Novel Twilight (NEW MOON)


Leah murid senior seperti aku, tapi usianya setahun lebih tua. Kecantikannya eksotis—kulit tembaga indah, rambut hitam mengilat, bulu mata tebal seperti bulu ayam—dan ia sibuk sendiri. Sejak kami datang, ia terus asyik mengobrol di telepon rumah Billy, dan tidak kunjung berhenti.

Seth berumur empat belas tahun; ia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Jacob dengan sorot mata mengidolakan. Karena tidak semua orang bisa ditampung di meja dapur, Charlie dan Harry mengeluarkan kursi-kursi ke halaman, dan kami makan spageti

dari piring yang diletakkan di pangkuan, di keremangan cahaya lampu yang menyorot dari balik pintu rumah Charlie yang terbuka. Kaum lelaki mengobrolkan pertandingan, lalu Harry dan Charlie menyusun rencana untuk memancing bersama-sama. Sue menyindir suaminya tentang kolesterolnya dan berusaha, meski gagal, membuatnya malu dan makan sesuatu yang berdaun dan berwarna hijau. Jacob mengobrol denganku dan Seth, yang sesekali menyela dengan penuh semangat setiap kali Jacob terlihat seperti mau melupakannya. Charlie menatapku, berusaha agar tidak kentara, dengan sorot mata senang namun waspada.

Berisik dan terkadang membingungkan rasanya saat semua orang berlomba-lomba mengungguli yang lain dalam bercerita, dan tawa dari satu lelucon diinterupsi dengan cerita tentang lelucon lain. Aku tak perlu sering-sering bicara, tapi aku banyak tersenyum, dan itu hanya karena aku merasa ingin. Rasanya aku tak ingin pulang. Tapi, ini Washington, dan akhirnya hujan

membubarkan pertemuan kami; ruang tamu Billy

kelewat sempit untuk melanjutkan acara kumpul kumpul kami. Charlie tadi naik mobil Harry, jadi kami pulang naik trukku. Charlie bertanya tentang

kegiatanku hari ini, dan sebagian besar yang kuceritakan benar—bahwa aku pergi dengan Jacob mencari onderdil kemudian menontonnya bekerja di garasi.

"Menurutmu, kau akan mengunjunginya lagi nanti?” tanya Charlie, berusaha menunjukkan sikap biasa-biasa saja.

"Besok sepulang sekolah,” aku mengakui.

"Aku akan membawa PR-ku, jangan khawatir."

"Pastikan kau melakukannya," perintah Charlie, berusaha menutupi perasaan puasnya.

Aku merasa gelisah sesampai di rumah. Aku tidak ingin naik ke lantai atas. Hangatnya kehadiran Jacob berangsur-angsur lenyap, dan sebagai gantinya, perasaan resah semakin menjadijadi. Aku yakin aku tak mungkin tidur tenang dua malam berturut-turut.

Untuk menunda tidur aku mengecek e-mail; ada pesan baru dari Renee.

Ia menulis tentang kegiatannya hari itu, tentang klub buku yang mengisi waktu luang karena ia keluar dari kelas meditasi, tentang pengalamannya minggu ini menjadi guru pengganti di kelas dua, membuatnya merindukan murid-murid TK-nya.

Ia juga menulis tentang Phil yang menikmati pekerjaan barunya sebagai pelatih, dan bahwa mereka berencana berbulan madu kedua ke Disney World.

Dan aku membaca semuanya seperti membaca buku harian, bukan surat yang ditujukan untuk orang lain. Hatiku dilanda perasaan menyesal, membuat perasaanku tertusuk. Aku ini bukan anak baik.

Aku membalas e-mail-nya dengan cepat, mengomentari setiap bagian suratnya, dan

menceritakan aktivitasku juga—kuceritakan tentang pesta spageti di rumah Billy dan apa yang kurasakan saat menonton Jacob membuat sesuatu yang berguna dari potongan-potongan kecil logam—kagum dan sedikit iri.

Aku sama sekali tidak mengungkit tentang perubahan nyata dalam surat ini dibandingkan surat-surat lain yang diterima ibuku dalam beberapa bulan terakhir. Aku bahkan nyaris tak ingat apa yang kutulis seminggu yang lalu, tapi aku yakin isinya pasti sangat tidak responsif. Semakin dipikir, semakin aku merasa bersalah; aku pasti benar-benar membuat ibuku khawatir.

Aku masih bertahan sampai jauh malam sesudah itu, menyelesaikan PR lebih banyak daripada yang seharusnya kukerjakan. Tapi meski kurang tidur dan sudah menghabiskan hampir seharian bersama Jacob—merasa nyaris bahagia— ternyata itu tetap tak bisa menjauhkan mimpi buruk dari tidurku selama dua malam berturutturut. Saat bangun aku gemetaran, teriakanku teredam bantal.

Ketika cahaya pagi yang samar masuk melalui jendelaku, aku diam tak bergerak di tempat tidur dan mencoba mengenyahkan mimpi buruk itu. Tapi ada sedikit perbedaan dalam mimpi tadi malam, dan aku berkonsentrasi mengingatnya.

Semalam aku tidak sendirian di hutan. Sam Uley—lelaki yang menemukanku di hutan pada malam yang tidak sanggup kupikirkan dalam keadaan sadar itu—ada di sana. Perubahan yang aneh dan tak terduga-duga. Yang mengejutkan,

mata gelapnya memancarkan sorot tidak ramah, sarat rahasia yang sepertinya tak ingin ia bagikan padaku. Kupandangi dia sesering yang bisa dilakukan mataku yang jelalatan mencari-cari; aku jadi gelisah, selain perasaan panik yang biasa, karena ia ada di sana.

Mungkin itu karena, bila aku tidak sedang menatap langsung ke arahnya, bentuk badannya seolah menggeletar dan berubah dalam tatapanku. Tapi ia tidak melakukan apa-apa kecuali berdiri dan memandangiku. Tidak seperti waktu kami bertemu di dunia nyata, ia tidak menawarkan bantuan.

Penutup Novel Twilight (New Moon)TEMAN-TEMAN Bab 36

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port TEMAN-TEMAN Bab 36 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya