Thursday, February 24, 2022

Bab 33 Novel Twilight (NEW MOON) – TEMAN-TEMAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 33 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – TEMAN-TEMAN Bab 33

6. TEMAN-TEMAN

KEDUA sepeda motor itu tidak perlu disembunyikan di tempat yang jauh, cukup menyimpannya di garasi Jacob. Kursi roda Billy tidak bisa bergerak di tanah tidak rata yang memisahkan pondok dengan rumah.

Jacob mulai membongkar motor pertama—yang berwarna merah, yang akan menjadi milikku— hingga bagian-bagiannya terlepas. Ia membuka pintu Rabbit-nya supaya aku bisa duduk di jok. bukan di lantai. Sambil bekerja Jacob mengobrol dengan gembira, hanya perlu kupancing sedikit untuk meneruskan obrolan. Ia menceritakan sekolahnya, kelas-kelas yang ia ikuti, juga dua sahabatnya.

"Quil dan Embry?" selaku.

"Nama-nama yang tidak lazim.”Jacob terkekeh.

"Quil itu nama turunan, sedang Embry nama bintang sinetron. Pokoknya aku tidak bisa bilang apa-apa soal itu. Mereka bakal ngamuk kalau kau mulai menyinggung nama mereka – mereka bakal mengeroyokmu."

“Itu kausebut teman baik?" Aku mengangkat sebelah alis.

"Mereka memang baik kok. Hanya saja jangan ejek nama mereka."

Saat itulah terdengar seruan di kejauhan.

"Jacob?" teriak seseorang.

"Itu Billy, ya?" tanyaku.

"Bukan," Jacob menunduk, dan kelihatannya wajahnya memerah di balik kulitnya yang cokelat.

"Baru dibicarakan sudah nongol. Itu panjang umur namanya."

"Jake? Kau di sini?" Teriakan itu kini semakin dekat.

"Yeah!" Jacob menyahut, lalu mendesah. Kami menunggu sambil terdiam sebentar sampai dua cowok jangkung berkulit gelap melenggang memasuki garasi.

Yang satu bertubuh ramping, hampir setinggi Jacob. Rambut hitamnya sedagu dan dibelah tengah, sebelah diselipkan di balik telinga kiri sementara yang kanan tergerai bebas. Cowok satunya yang lebih pendek tubuhnya lebih gempal.

Novel Twilight (NEW MOON)


Kaus putihnya ketat menutupi dadanya yang berotot, dan tampaknya ia sadar dan bangga akan hal itu. Rambutnya dipangkas pendek sekali hingga nyaris cepak.

Langkah keduanya langsung terhenti begitu mereka melihatku. Si ceking melirikku dan Jacob bergantian, sementara si gempal menatapku terus, senyum mengembang perlahan di wajahnya. "Hei, Buy," Jacob menyapa mereka setengah hati.

"Hei, Jake," sahut si pendek tanpa mengalihkan tatapannya dariku. Aku terpaksa membalas senyumnya, seringaiannya sangat jail. Melihatku tersenyum, ia mengedipkan mata.

"Halo.”

"Quil, Embry—ini temanku, Bella."

Quil dan Embry, aku masih belum tahu yang mana Quil dan yang mana Embry, bertukar pandang dengan sorot penuh makna.

“Anak Charlie, kan?" tanya si gempal, mengulurkan tangan.

"Benar,” jawabku menjabat tangannya.

Genggamannya mantap; kelihatannya ia seperti sedang melenturkan otot-otot bisepsnya.

“Aku Quil Ateara,” ia memperkenalkan diri dengan gagah sebelum melepaskan tanganku.

“Senang berkenalan denganmu, Quil."

“Hai, Bella. Aku Embry. Embry Call—mungkin kau sudah bisa menebaknya" Embry menyunggingkan senyum malu-malu dan melambai dengan satu tangan, yang kemudian ia jejalkan ke saku jinsnya. Aku mengangguk.

"Senang berkenalan denganmu juga."

"Kalian ngapain?” tanya Quil, masih terus memandangiku.

“Bella dan aku ingin memperbaiki sepeda-sepeda motor ini," Jacob menjelaskan, meski itu tak sepenuhnya tepat.

Tapi sepeda motor sepertinya kata ajaib. Perhatian kedua cowok itu langsung beralih ke proyek Jacob, mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan terpelajar. Banyak dari kata-kata yang mereka gunakan tidak kumengerti, dan kurasa aku harus memiliki kromosom Y untuk benar-benar memahami semangat mereka yang meluap-luap.

Ketiganya masih asyik mengobrol tentang onderdil dan bagian-bagian motor waktu aku memutuskan untuk pulang sebelum Charlie muncul di sini. Sambil mendesah, aku merosot turun dari Rabbit.

Jacob mendongak lagi, ekspresinya seperti meminta maaf.

“Kami membuatmu bosan, ya?"

“Tidak." Dan aku memang tidak bohong. Aku merasa senang–benar-benar aneh.

"Tapi aku harus memasak makan malam untuk Charlie."

"Oh... Well, aku akan selesai membongkar motor ini malam ini dan menentukan apa saja yang kita butuhkan untuk memperbaikinya. Kapan kau ingin kita menggarapnya lagi?"

"Bisakah aku kembali lagi besok?" Hari Minggu sudah menjadi kutukan dalam hidupku. Tak pernah ada cukup PR untuk menyibukkanku. Quil menyenggol lengan Embry dan keduanya nyengir.

Jacob tersenyum senang.

"Wah, pasti asyik!"

"Kalau kau bisa menyusun daftarnya, kita bisa pergi untuk membeli onderdil," aku menyarankan.

Wajah Jacob sedikit berkurang kegembiraannya.

"Aku masih belum yakin apakah aku sebaiknya membiarkanmu membayar semuanya."

Aku menggeleng. "Tidak bisa. Pokoknya aku akan mendanai proyek ini. Kau tinggal menyumbang tenaga dan keahlian saja" Embry memutar bola matanya pada Quil.

"Tetap saja rasanya kurang tepat," Jacob menggeleng.

"Jake, kalau aku membawa sepeda-sepeda motor ini ke bengkel, berapa biaya yang akan diminta montir padaku?" aku beralasan. Jacob tersenyum.

"Oke, kalau begitu setuju."

"Belum lagi kau nanti harus mengajariku mengendarainya, aku menambahkan. Quil nyengir lebar pada Embry dan membisikkan sesuatu yang tak bisa kutangkap. Tangan Jacob melayang untuk menampar bagian belakang kepala Quil.

"Cukup sudah, keluar,” gerutunya.

"Tidak, sungguh, aku harus pulang,” protesku, bergegas ke pintu.

"Sampai ketemu besok, Jacob.”

Bcgiru aku lenyap dari pandangan, kudengar Quil dan Embry berseru berbarengan,

"Wuuuuuuu!"

Diikuti sejurus kemudian dengan suara gradakgruduk, diselingi dengan "Waduh!" dan "Hei!" "Kalau kalian berani-berani menjejakkan kaki lagi ke tanahku besok..." Kudengar Jacob mengancam. Suaranya lenyap waktu aku berjalan melewati pepohonan.

Aku tertawa pelan. Suara itu membuat mataku membelalak heran. Aku tertawa, benar-benar tertawa, padahal tak ada yang memerhatikan. Aku merasa sangat ringan hingga aku tertawa lagi, hanya agar perasaan itu bertahan lebih lama.

Aku lebih dulu sampai di rumah ketimbang Charlie. Waktu ia datang, aku baru saja mengangkat ayam goreng dari wajan dan meletakkannya di atas tumpukan serbet kertas.

"Hai, Dad." Aku nyengir padanya. Wajah ayahku tampak shock sesaat sebelum ia mengubah ekspresinya.

"Hai, Sayang," sapanya, suaranya terdengar tidak yakin.

"Senang bertemu Jacob?"

Aku mulai memindahkan makanan ke meja. "Ya, senang."

"Well, baguslah kalau begitu." Charlie masih berhati-hati.

"Kalian ngapain?' Sekarang giliranku yang berhati-hati. "Aku nongkrong di garasinya dan menontonnya bekerja.

Penutup Novel Twilight (New Moon)TEMAN-TEMAN Bab 33

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port TEMAN-TEMAN Bab 33 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya