Thursday, February 24, 2022

Bab 31 Novel Twilight (NEW MOON) – CURANG - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 31 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – CURANG Bab 31

Jadi mungkin itu bukan takdir. Mungkin ada banyak cara untuk bertindak ceroboh, dan baru sekarang mataku terbuka.

Ceroboh dan tolol. Itu dua kata favorit Charlie sehubungan dengan sepeda motor. Pekerjaan Charlie tidak sebanyak pekerjaan polisi di kota-kota besar, tapi ia sering mendapat panggilan dalam kasus-kasus kecelakaan lalu

lintas. Dengan jalan bebas hambatan yang panjang dan basah, berkelok-kelok dan berbelok menembus hutan, tikungan buta demi tikungan buta, mudah saja melakukan aksi semacam itu. Tapi bahkan dengan adanya truk-truk tronton yang melaju lambat mengangkut kayu, sebagian besar orang memilih tak melakukannya.

Kecuali mereka yang mengendarai sepeda motor, dan Charlie sudah terlalu sering melihat korban-korban berjatuhan, hampir selalu anak-anak, tergeletak di jalan raya. Ia pernah menyuruhku berjanji sebelum aku berumur sepuluh tahun, untuk tidak pernah naik motor.

Novel Twilight (NEW MOON)


Bahkan di usia semuda itu, aku tak perlu berpikir dua kali sebelum berjanji. Siapa yang mau naik motor di sini? Rasanya seperti mandi dalam kecepatan sembilan puluh kilo meter per jam.

Begitu banyak janji yang kutepati... Saat itulah sebuah ide muncul di kepalaku. Aku ingin melakukan hal yang tolol dan ceroboh, dan aku ingin melanggar janji. Mengapa harus berhenti pada satu hal saja?

Hanya sampai sejauh itu aku memikirkannya. Kuterobos genangan air hujan menuju pintu depan rumah keluarga Marks dan menekan bel.

Salah seorang anak lelaki keluarga Marks, yang lebih muda, yang baru masuk SMA membukakan pintu. Aku tak ingat namanya. Rambut pirang pasirnya hanya sebahuku.

Anak itu mengenaliku. "Bella Swan?" serunya kaget.

“Berapi harga motor itu?" tanyaku, napasku terengah-engah, menyentakkan ibu jariku ke balik bahu ke arah benda yang dipajang di halaman “Kau serius?” tanyanya.

"Tentu saja."

“Sepeda-sepeda motor itu sudah tidak bisa jalan."

Aku mendesah tak sabaran—itu sudah bisa kusimpulkan dan tulisan di pengumuman.

"Berapa?"

“Kalau kau benar-benar menginginkannya, ambil saja. Ibuku menyuruh ayahku memindahkan sepeda-sepeda motor itu ke jalan supaya diangkut truk sampah."

Kulirik lagi sepeda-sepeda motor itu dan menyadari keduanya bertengger di atas tumpukan rumput kering dan ranting-ranting mau.

"Kau yakin?”

"Tentu, mau tanya sendiri pada ibuku?” Mungkin lebih baik tidak melibatkan orang dewasa, siapa tahu ia akan menyampaikannya pada Charlie.

"Tidak, aku percaya padamu."

“Kau mau aku membantumu?” cowok itu menawarkan diri.

"Motor itu tidak enteng lho."

"Oke, trims. Tapi aku hanya butuh satu."

"Sebaiknya ambil saja dua-duanya," kata cowok itu.

"Mungkin kau bisa menggunakan onderdilnya."

Cowok itu mengikutiku keluar ke tengah curahan hujan dan membantuku menaikkan kedua motor yang berat itu ke bak belakang trukku. Sepertinya ia bersemangat sekali ingin menyingkirkannya, jadi aku tidak membantah.

"Memangnya apa yang mau kaulakukan dengan sepeda-sepeda motor itu?" tanyanya.

"Sudah bertahun-tahun tidak bisa jalan"

"Sudah kuduga," kataku, mengangkat bahu. Karena ide ini muncul mendadak, aku belum sempat menyusun rencana apa pun.

"Mungkin aku akan membawanya ke bengkel Dowling." Cowok itu mendengus.

"Dowling akan meminta ongkos perbaikan lebih mahal daripada harga motornya sendiri."

Itu benar. John Dowling terkenal sering memasang tarif mahal; tak ada yang mau membetulkan mobil di bengkelnya kecuali terpaksa. Kebanyakan lebih suka pergi ke bengkel di Port Angeles, kalau mobilnya masih bisa jalan. Dalam hal itu, aku sangat beruntung—awalnya aku sempat khawatir, waktu Charlie menghadiahiku truk antik ini, bahwa aku takkan bisa merawatnya.

Tapi ternyata aku tak pernah mengalami masalah apa pun, kecuali suara mesinnya yang berisik dan batas maksimal kecepatannya yang hanya 88 kilometer per jam. Jacob Black telaten merawatnya sejak mobil ini masih menjadi milik ayahnya, Billy... Ilham menyambarku bagai sambaran petir— bukan hal yang tidak masuk akal, mengingat saat ini sedang hujan badai. "Kau tahu nggak? Itu bukan masalah. Aku kenal orang yang jago mengutak-atik mobil"

"Oh. Baguslah kalau begitu," Cowok itu tersenyum lega.

Cowok itu melambaikan tangan waktu aku menjalankan trukku, masih terus tersenyum.

Ramah juga dia.

Sekarang aku ngebut dan memiliki tujuan, ingin cepat-cepat sampai di rumah sebelum Charlie pulang, siapa tahu ia pulang lebih cepat, walaupun kecil sekali kemungkinan itu bakal terjadi. Aku menghambur ke dalam rumah menuju pesawat telepon, masih sambil menggenggam kunci mobil.

"Kepala Polisi Swan, please," kataku waktu teleponku dijawab seorang deputi.

"Ini Bella.”

"Oh, hai, Bella," sahut Deputi Steve ramah.

"Akan kupanggilkan dia" Aku menunggu.

"Ada apa, Bella?" tuntut Charlie begitu mengangkat telepon.

"Apa aku tidak boleh menelepon Dad kalau tidak ada masalah gawat?"

Charlie terdiam sebentar. "Kau tidak pernah menelepon sebelumnya. Apakah ada masalah?"

"Tidak. Aku hanya ingin menanyakan arah jalan ke rumah keluarga Black—sepertinya aku sudah tidak ingat lagi. Aku ingin mengunjungi Jacob. Sudah berbulan-bulan aku tidak bertemu dengannya."

Ketika Charlie berbicara lagi, suaranya terdengar jauh lebih gembira.

"Ide yang bagus sekali, Bells. Ada bolpoin?"

Arahan yang ia berikan sangat sederhana. Aku berjanji akan pulang saat makan malam, walaupun Charlie mencoba mengatakan tak perlu terburuburu. Ia ingin bergabung denganku di La Push, tapi aku menolak keras.

Jadi dengan niat pulang tepat waktu aku mengendarai truk ku terlalu cepat menyusuri jalan-jalan ke luar kota yang gelap oleh hujan badai. Harapanku, aku bisa menemui Jacob sendirian. Billy mungkin akan mengadukanku kalau ia mengetahui rencanaku.

Sembari menyetir, aku agak waswas memikirkan reaksi Billy nanti bila bertemu denganku. Ia pasti girang sekali. Dalam benak Billy tak diragukan lagi, ini semua berakhir jauh lebih baik daripada yang berani ia harapkan.

Kegembiraan dan kelegaannya hanya akan mengingatkanku pada satu hal yang tak sanggup kuingat. Hari ini jangan lagi, aku memohon dalam hati. Aku sudah lelah.

Penutup Novel Twilight (New Moon)CURANG Bab 31

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port CURANG Bab 31 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya