Wednesday, February 23, 2022

Bab 29 Novel Twilight (NEW MOON) – TERBANGUN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 29 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – TERBANGUN Bab 29

Tapi kelegaan masih merupakan emosi terkuat dalam diriku—kelegaan yang berasal dari lubuk hatiku yang terdalam.

Meski berjuang keras untuk tidak memikirkan dia, aku tidak berjuang untuk melupakan. Aku khawatir—di larut malam saat kelelahan karena

kurang tidur mematahkan pertahananku—semua itu berangsur-angsur lenyap. Bahwa pikiranku berlubang-lubang seperti saringan, dan bahwa suatu saat nanti aku tak lagi bisa mengingat warna matanya dengan tepat, sentuhan kulitnya yang dingin, serta tekstur suaranya. Aku tidak bisa memikirkannya, tapi aku harus mengingatnya.

Karena tinggal satu hal yang perlu kuyakini agar aku bisahidup–aku harus tahu dia ada. Itu saja. Yang lain-lain masih bisa kutahan. Pokoknya asal dia ada.

Itulah sebabnya aku merasa lebih terperangkap di Forks daripada sebelumnya, mengapa aku bertengkar dengan Charlie waktu ayahku mengusulkan perubahan. Sejujurnya, seharusnya itu bukan masalah; tidak ada yang akan kembali lagi ke sini.

Novel Twilight (NEW MOON)


Tapi kalau aku pindah ke Jacksonville, atau ke tempat lain yang terang benderang dan tidak familier, bagaimana aku bisa yakin ia nyata? Di tempat aku tidak akan pernah bisa membayangkan dia, keyakinan itu akan memudar... dan itu tidak bisa kuterima.

Terlarang untuk diingat, takut untuk dilupakan; sungguh sulit menjalaninya. Aku terkejut waktu Jessica menghentikan mobilnya di depan rumahku. Perjalanan pulang tidak memakan waktu lama, tapi, meski terasa sebentar, aku tidak mengira Jessica bakal membisu sepanjang jalan.

"Terima kasih sudah mau pergi denganku, Jess," kataku sambil membuka pintu. "Acara kita tadi... asyik." Aku berharap asyik istilah yang tepat.

“Tentu," gumamnya.

“Aku minta maaf tentang... kejadian sehabis film tadi."

“Terserahlah, Bella" Jessica memandang lurus ke kaca depan, tidak memandangku. Sepertinya semakin malam ia semakin marah, bukan malah melupakannya.

“Sampai ketemu lagi hari Senin?"

"Yeah. Bye."

Aku menyerah dan menutup pintu. Jessica menderu pergi, masih tak mau melihatku. Aku sudah lupa pada Jessica sesampainya di dalam rumah.

Charlie menungguku di tengah ruang depan, kedua lengannya terlipat rapi di dada dengan telapak tangan mengepal. "Hai, Dad," sapaku acuh tak acuh sambil merunduk melewati Charlie, berjalan menuju tangga. Aku sudah terlalu lama memikirkan dia, dan aku ingin berada di atas sebelum semua itu mengejarku.

"Dari mana saja kau?" tuntut Charlie. Kupandangi ayahku, terkejut.

"Aku pergi nonton film di Port Angeles bersama Jessica. Seperti yang kubilang tadi pagi."

"Hahhh," gerutu ayahku.

"Tidak apa-apa, kan?”

Charlie mengamati wajahku, matanya melebar ketika melihat sesuatu yang tak terduga. "Yeah, tidak apa-apa. Kau senang?"

"Tentu," jawabku.

"Kami nonton zombie memangsa orang-orang. Bagus sekali." Mata Charlie menyipit.

"Malam, Dad."

Charlie membiarkanku lewat. Aku bergegas masuk ke kamarku.

Aku berbaring di tempat tidur beberapa menit kemudian, menyerah saat kepedihan itu akhirnya muncul.

Hal ini benar-benar melumpuhkan, sensasi bahwa sebuah lubang besar menganga di dadaku, merenggut semua organ vitalku dan meninggalkan bekas luka yang masih basah dan berdarah di sekelilingnya, yang masih tetap berdenyut nyeri dan mengeluarkan darah meski waktu terus berjalan.

Secara rasional aku tahu paru-paruku pasti masih utuh, namun a megap-megap menghirup udara dan kepalaku berputar seolaholah segenap usahaku sia-sia. Jantungku pasti juga masih berdetak, tapi aku tak bisa mendengar detaknya di telingaku; tanganku terasa biru kedinginan. Aku meringkuk seperti bayi, memeluk dada seperti memegangi diriku agar tidak hancur berantakan. Aku berusaha menggapai perasaan kelu dan lumpuh, penyangkalanku, tapi perasaan itu meninggalkanku.

Meski begitu, kudapati bahwa ternyata aku bisa bertahan. Aku sadar, aku merasakan kepedihan itu—perasaan kehilangan yang terpancar keluar dari dadaku, mengirimkan gelombang kesakitan yang menghancurkan ke kaki—tangan dan kepalaku—tapi semua itu masih bisa kutahan.

Aku bisa melewatinya. Walaupun rasanya kepedihan itu tidak melemah seiring berjalannya waktu, tapi aku jadi semakin kuat menahannya. Apa pun yang terjadi malam ini—dan apakah penyebabnya zombie, adrenalin, atau halusinasi— itu telah membangunkan aku.

Untuk pertama kali dalam kurun waktu lama, aku tidak tahu harus mengharapkan apa esok pagi.

Penutup Novel Twilight (New Moon)TERBANGUN Bab 29

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port TERBANGUN Bab 29 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya