Wednesday, February 23, 2022

Bab 27 Novel Twilight (NEW MOON) – TERBANGUN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 27 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – TERBANGUN Bab 27

"Bella, ayolah!

Aku tidak menggubrisnya, melangkah pelanpelan tanpa pernah memutuskan secara sadar untuk menggerakkan kakiku. Aku tidak mengerti mengapa, tapi ancaman samar yang ditunjukkan cowok-cowok itu justru menarikku ke arah mereka. Dorongan hati yang benar-benar tak masuk akal, tapi sudah lama sekali aku tak pernah lagi merasakan dorongan hati apa pun... jadi kuikuti saja.

Sesuatu yang asing berdesir dalam pembuluh darahku. Adrenalin, aku menyadari, yang sudah lama absen dalam diriku, menggenjot denyut nadiku semakin cepat dan berjuang melawan hilangnya sensasi. Aneh—mengapa ada adrenalin kalau aku tidak merasa takut? Rasanya nyaris bagaikan gema masa lalu saat aku berdiri seperti ini, di jalan gelap di Port Angeles, bersama orangorang asing.

Aku tidak melihat alasan untuk takut. Aku tidak bisa membayangkan ada yang perlu kutakuti lagi di dunia ini, setidaknya secara fisik. Itu salah satu keuntungan kalau sudah kehilangan segalanya.

Novel Twilight (NEW MOON)


Aku sudah separo menyeberang ketika Jess menyusul dan menyambar lenganku.

“Bella! Kau tidak boleh masuk ke bar!" desisnya.

"Aku bukannya mau masuk," jawabku asal, menepis tangannya.

"Aku hanya ingin melihat sesuatu..."

"Kau sinting, ya?" bisiknya. "Kepingin bunuh diri?"

Pertanyaan itu menarik perhatianku, dan mataku terfokus padanya.

"Tidak, aku tidak kepingin bunuh diri" Suaraku defensif, tapi itu benar.

Aku tidak bermaksud bunuh diri. Bahkan pada awalnya, saat kematian tak diragukan lagi akan mendatangkan kelegaan, itu tidak pernah terpikir olehku. Aku terlalu banyak berutang budi pada Charlie. Aku merasa bertanggung jawab atas Renee. Aku harus memikirkan mereka.

Dan aku sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang tolol atau ceroboh. Karena semua alasan itu, aku masih bernapas hingga detik ini. Teringat pada janji itu, aku merasakan secercah perasaan bersalah, tapi apa yang kulakukan sekarang tidak tergolong perbuatan tolol dan ceroboh. Aku kan tidak mengiris pergelangan tanganku dengan pisau.

Mata Jess membulat, mulutnya ternganga lebar. Pertanyaannya tentang bunuh diri tadi hanya pertanyaan retoris, dan aku terlambat menyadarinya.

"Pergi makan sana," bujukku padanya, melambaikan tangan ke restoran cepat saji. Aku tidak suka caranya menatapku.

"Sebentar lagi aku menyusul"

Aku berpaling darinya, kembali menatap keempat cowok yang memandangi kami dengan sorot takjub bercampur ingin tahu.

"Bella, hentikan sekarang juga!"

Otot-ototku langsung mengejang, membeku kaku di tempatku berdiri. Karena bukan suara Jessica yang menegurku sekarang. Suara itu bernada marah, suara yang sangat kukenal, suara yang indah—lembut bagai beledu bahkan saat sedang gusar.

Itu suaranya—aku sangat berhati-hati untuk tidak menyebut namanya—dan terkejut karena suara itu tidak membuatku terjengkang, tidak membuatku meringkuk di trotoar karena tersiksa oleh perasaan kehilangan. Tidak ada kepedihan, tidak ada sama sekali.

Detik itu juga, begitu mendengar suaranya, semuanya jadi sangat jelas. Seakan-akan kepalaku mendadak muncul di permukaan kolam berair gelap. Aku jadi lebih menyadari semuanya— pemandangan, suara-suara, hawa dingin yang tidak kusadari berembus tajam menerpa wajahku, aroma yang menyeruak dari pintu bar yang terbuka.

Aku memandang berkeliling dengan shock.

"Kembali ke Jessica," suara indah itu memerintahkan, masih bernada marah.

"Kau sudah berjanji—tidak akan melakukan perbuatan tolol."

Aku sendirian. Jessica berdiri beberapa meter dariku, menatapku dengan sorot ngeri. Bersandar di dinding, orang-orang asing itu menonton dengan bingung, mempertanyakan sikapku yang berdiri mematung di tengah jalan.

Aku menggeleng, berusaha memahami. Aku tahu ia tidak ada di sana, namun tetap saja ia terasa begitu dekat, dekat untuk pertama kalinya sejak...

sejak yang terakhir itu. Nada marah dalam suaranya merupakan ungkapan keprihatinan amarah sama yang dulu pernah sangat familier— sesuatu yang sudah lama tak pernah kudengar lagi, sepertinya sudah selamanya.

"Tepati janjimu." Suara itu mulai menghilang, seperti suara radio yang volumenya dikecilkan. Aku mulai curiga jangan-jangan sedang berhalusinasi. Dipicu, tak diragukan lagi, oleh kenangan itu—deja vu itu, perasaan familier aneh bahwa aku pernah mengalami situasi yang sama. Dengan cepat aku menelaah berbagai kemungkinan dalam pikiranku.

Opsi pertama: aku sudah sinting. Itu istilah orang awam bagi mereka yang mendengar suarasuara dalam pikiran mereka.

Mungkin.

Opsi kedua: Pikiran bawah sadarku memberiku apa yang memang kuinginkan. Ini pemenuhan keinginan—kelegaan sementara dari rasa sakit dengan merangkul pemikiran yang keliru bahwa ia peduli apakah aku hidup atau mati. Memproyeksikan apa yang akan ia katakana seandainya A) ia ada di sini, dan B) ia takut sesuatu yang buruk bakal terjadi padaku. Kemungkinan.

Aku tak bisa melihat opsi ketiga, jadi aku berharap pilihannya adalah yang kedua dan ini hanya pikiran bawah sadarku yang tak terkendali, bukannya sesuatu yang mengharuskan aku dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Namun reaksiku tak bisa dibilang waras—aku justru bersyukur Selama ini aku memang takut kehilangan suaranya, dan dengan demikian, lebih dari yang lain, aku sangat bersyukur pikiran bawah sadarku bisa mengenang suara itu lebih jelas daripada pikiran sadarku.

Aku tak boleh memikirkan dia. Itu sesuatu yang selama ini kuhindari. Tentu saja sesekali terpeleset itu wajar; aku hanya manusia biasa. Tapi keadaanku semakin baik, jadi sekarang ini kepedihan itu bisa kuhindari selama beberapa hari berturut-turut.

Gantinya adalah perasaan kebas yang tak pernah berakhir. Antara merasa pedih dan tidak merasa apa-apa, aku memilih tidak merasa apa-apa.

Aku menunggu datangnya kepedihan itu sekarang. Aku tidak lumpuh—pancaindraku terasa luar biasa intens setelah sekian bulan diliputi kabut—tapi kepedihan normal itu tak kunjung datang.

Satu-satunya kesakitan hanya perasaan kecewa karena suaranya menghilang. Aku punya waktu sedetik untuk memilih.

Penutup Novel Twilight (New Moon)TERBANGUN Bab 27

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port TERBANGUN Bab 27 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini. 

Selanjutnya
Sebelumnya