Wednesday, February 23, 2022

Bab 26 Novel Twilight (NEW MOON) – TERBANGUN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 26 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – TERBANGUN Bab 26

Sisa film itu dipenuhi adegan serangan zombie serta jeritan tanpa henti segelintir orang yang masih hidup, jumlah mereka menyusut cepat. Awalnya aku menyangka tak ada adegan yang bakal membuatku terusik. Tapi aku merasa gelisah, dan awalnya aku tak tahu kenapa.

Baru setelah menjelang akhir cerita, saat memandangi wajah si zombie yang kurus cekung, terseok-seok menghampiri manusia terakhir yang menjerit-jerit ketakutan, aku menyadari apa masalahnya.

Adegannya berganti-ganti antara wajah ketakutan si tokoh wanita, dengan wajah mati tanpa ekspresi makhluk yang mengejarnya, berganti-ganti, semakin lama makin dekat. Dan sadarlah aku sosok mana yang paling menyerupai aku.

Novel Twilight (NEW MOON)


Aku berdiri.

"Mau ke mana kau? Kira-kira dua menit lagi filmnya habis," desis Jess.

"Aku perlu minum," gumamku sambil lari ke pintu keluar.

Aku duduk di bangku di luar pintu teater dan berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan keironisannya. Tapi memang ironis, kalau dipikirpikir, bahwa, pada akhirnya, justru akulah yang berubah jadi zombie. Sungguh tak terduga sama sekali.

Bukan berarti aku dulu tak pernah bermimpi menjadi monster mistis—hanya saja itu bukan mayat hidup menyeramkan. Kugelengkan kepalaku kuat-kuat untuk mengenyahkan pikiran itu, merasa panik. Aku tak boleh memikirkan apa yang pernah kuimpikan dulu.

Sungguh menyedihkan menyadari diriku bukan lagi tokoh utama, bahwa kisahku sudah berakhir. Jessica keluar dari pintu teater, sejenak tampak ragu, mungkin bertanya-tanya ke mana harus mulai mencariku. Begitu melihatku ia tampak lega, tapi hanya sesaat. Kemudian ia kelihatan kesal. “Apakah filmnya terlalu seram bagimu?" tanyanya.

"Yeah," jawabku.

"Kurasa aku ini penakut."

"Lucu juga." Keningnya berkerut.

"Aku tidak mengira kau ketakutan—aku menjerit terus, tapi tak pernah mendengarmu menjerit sekali pun. Jadi aku tidak mengerti kenapa kau malah keluar." Aku mengangkat bahu.

"Aku cuma ketakutan." Jessica rileks sedikit.

"Rasa-rasanya itu tadi memang film paling seram yang pernah kutonton. Berani taruhan, malam ini kita pasti bakal bermimpi buruk."

"Tak diragukan lagi," sahutku, berusaha menjaga suaraku tetap normal.

Aku tahu aku pasti bakal bermimpi buruk, tapi tidak ada zombie dalam mimpiku. Mata Jessica menatap wajahku sekilas, lalu membuang muka. Mungkin aku tak berhasil membuat suaraku terdengar normal.

"Kau mau makan di mana?" tanya Jess.

"Terserah."

"Oke."

Jess mulai mengoceh tentang aktor utama film tadi sementara kami berjalan beriringan. Aku mengangguk-angguk saat ia mencerocos penuh semangat, memuji-muji ketampanan si aktor. Aku sendiri tak ingat pernah melihat lelaki yang bukan zombie dalam film itu.

Aku tidak memerhatikan ke mana Jessica mengajakku. Aku hanya samar-samar menyadari di luar sudah gelap dan suasananya lebih sepi. Agak lama baru aku tersadar mengapa suasana sepi. Jessica sudah berhenti mengoceh. Kupandangi dia dengan sikap meminta maaf, berharap aku tidak membuatnya tersinggung.

Jessica tidak sedang melihat ke arahku. Wajahnya tegang; ia menatap lurus ke depan dan berjalan cepat. Kulihat matanya jelalatan ke kanan, ke seberang jalan, lalu melihat ke arah depan lagi, berulang kali.

Saat itulah baru aku memerhatikan keadaan sekelilingku.

Kami berada di trotoar yang tidak diterangi lampu jalan. Toko-toko kecil yang berjajar di sepanjang jalan sudah tutup semua, etalaseetalasenya gelap gulita. Setengah blok di depan, lampu-lampu jalan kembali menyala, dan tampak olehku di sana, lengkungan kuning cemerlang McDonald's yang hendak didatanginya.

Di seberang jalan ada saru toko yang masih buka. Etalasenya diberi penutup di bagian dalam dan tampak reklame-reklame neon menyala, iklan berbagai merek bir, bersinar di depannya. Reklame terbesar berwarna hijau cerah, bertuliskan nama barnya—One-Eyed Pete’s.

Dalam hati aku bertanya-tanya apakah bar itu mengusung tema bajak laut yang tidak terlihat dari luar. Pintu besinya dibiarkan terbuka; bagian dalamnya remang-remang, dan dengungan pelan suara-suara pengunjung dan denting es batu membentur gelas terbawa hingga ke seberang jalan. Tampak empat cowok bersandar di dinding sebelah pintu. Kulirik lagi Jessica.

Matanya terpaku pada jalan di depannya dan ia berjalan cepat. Ia tidak tampak ketakutan—hanya waswas, berusaha untuk tidak menarik perhatian.

Aku berhenti tanpa berpikir, memandangi keempat cowok itu dengan perasaan deja vu yang sangat kuat. Jalan yang berbeda, malam yang berbeda, tapi adegannya kurang-lebih sama.

Salah seorang di antara mereka bahkan pendek dan berambut gelap. Saat aku berhenti dan berpaling ke arah mereka, cowok itu mendongak dengan sikap tertarik.

Aku balas menatapnya, membeku di trotoar.

"Bella?" Jess berbisik.

"Apa yang kaulakukan?" Aku menggeleng, aku sendiri tidak tahu.

"Kurasa aku kenal mereka...," gumamku.

Apa yang kulakukan? Seharusnya aku lari dari kenangan ini secepat aku bisa, menghalau bayangan empat cowok yang berdiri itu dari pikiranku, melindungi diriku dengan perasaan kebas yang membuatku bisa berfungsi selama ini. Kenapa aku malah melangkah, dengan linglung, ke jalan?

Rasanya terlalu kebetulan aku bisa berada di Port Angeles bersama Jessica, bahkan dijalan yang gelap. Mataku tertuju pada si cowok pendek, berusaha mencocokkannya dengan ingatanku tentang cowok yang mengancamku malam itu hampir satu tahun yang lalu.

Aku penasaran apakah aku bisa mengenali cowok itu, bila itu benar-benar dia. Bagian tertentu dari malam tertentu itu kabur bagiku. Tubuhku lebih bisa mengingatnya daripada pikiranku; kakiku mengejang saat aku mencoba memutuskan akan lari atau tetap berdiri tegak, tenggorokanku kering saat aku berusaha menjerit keras-keras, kulitku menegang di bagian buku-buku jari saat aku mengepalkan tinju, bulu kudukku meremang saat si cowok berambut gelap memanggilku "Manis..." Ada semacam kesan mengancam yang ditunjukkan cowok-cowok itu, yang tidak ada hubungannya dengan peristiwa malam itu.

Kesan itu muncul dari fakta bahwa mereka orang asing, bahwa suasana di sini gelap, dan jumlah mereka lebih banyak daripada kami—tidak ada yang lebih spesifik daripada itu. Tapi cukup membuat suara Jessica terdengar panik saat ia berseru memanggilku.

Penutup Novel Twilight (New Moon)TERBANGUN Bab 26

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port TERBANGUN Bab 26 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya