Wednesday, February 23, 2022

Bab 25 Novel Twilight (NEW MOON) – TERBANGUN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 25 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – TERBANGUN Bab 25

"Kedengarannya sempurna." Aku lebih suka berurusan dengan zombie daripada nonton film cinta-cintaan.

"Oke." Kelihatannya Jessica terkejut melihat responsku.

Aku berusaha mengingat-ingat apakah dulu aku suka nonton film horor, tapi tidak bisa memastikan. "Bagaimana kalau aku menjemputmu sepulang sekolah nanti?" Jessica menawarkan diri.

“Tentu.”

Jessica menyunggingkan senyum bersahabat yang masih terlihat sedikit ragu sebelum beranjak pergi. Aku agak terlambat membalas senyumnya, tapi kupikir ia masih sempat melihatnya. Sisa hari itu lewat dengan cepat, pikiranku terfokus pada acara malam ini.

Dari pengalaman sebelumnya aku tahu, begitu berhasil membuat Jessica ngobrol. aku hanya perlu bergumam pelan di saat yang tepat sebagai balasan. Hanya diperlukan interaksi minimal.

Kabut tebal yang mengaburkan hari-hariku kini terkadang membingungkan. Aku terkejut saat mendapati diriku sudah di kamar, tidak begitu mengingat perjalanan pulang ke rumah dan sekolah atau bahkan membuka pintu depan. Tapi itu bukan masalah. Aku justru bersyukur bila waktu berjalan tanpa terasa.

Aku tidak melawan kabut yang menyelubungi pikiranku saat berpaling menghadap lemari. Ada tempat-tempat tertentu di mana perasaan kebas itu lebih dibutuhkan. Aku nyaris tidak memerhatikan apa-apa saat menggeser pintu

lemari, menyingkapkan tumpukan sampah di sisi kiri, tersuruk di bawah baju-baju yang tak pernah kupakai.

Mataku tidak melirik kantong plastik hitam besar berisi hadiah-hadiah ulang tahun terakhirku, tidak melihat bentuk stereo yang menonjol di balik plastik hitam; aku juga tidak berpikir tentang jarijariku yang berdarah setelah aku merenggutkan benda itu secara paksa dari dasbor. Kusentakkan tas lama yang jarang kupakai dari gantungannya, lalu kudorong pintu lemari hingga tertutup.

Saat itulah aku mendengar suara klakson. Cepat-cepat kukeluarkan dompetku dari tas sekolah dan kumasukkan ke tas. Aku bergegas, seolah-olah dengan bergegas aku bisa membuat malam ini berlalu lebih cepat.

Novel Twilight (NEW MOON)


Kulirik diriku di cermin ruang depan sebelum membuka pintu, hati-hati mengatur ekspresiku dengan menyunggingkan senyum dan berusaha mempertahankannya.

“Terima kasih sudah mau pergi denganku malam ini," kataku pada Jess sambil naik ke kursi penumpang, berusaha memperdengarkan nada berterima kasih.

Sudah cukup lama aku tak pernah lagi memikirkan apa yang akan kukatakan pada orang lain selain Charlie. Jess lebih sulit. Aku tak yakin harus berpura-pura menunjukkan emosi yang bagaimana.

"Tentu. Omong-omong, mengapa tahu-tahu kepingin?" tanya Jess sambil menjalankan mobilnya.

"Tahu-tahu kepingin apa?"

"Mengapa kau tiba-tiba memutuskan... untuk keluar?" Kedengarannya ia mengubah pertanyaannya di tengah-tengah. Aku mengangkat bahu.

"Sekali-sekali boleh, kan?"

Saat itulah aku mengenali lagu yang diputar di radio, lalu cepat-cepat mengulurkan tangan ke tombol pemutar.

"Keberatan, nggak?" tanyaku.

"Tidak, silakan saja."

Aku memutar-mutar tombol ke beberapa stasiun sampai menemukan satu yang tidak

"berbahaya". Kulirik ekspresi Jess saat musik yang baru kutemukan itu mengalun mengisi mobil. Mata Jess langsung menyipit.

"Sejak kapan kau mendengarkan musik rap?"

"Entahlah," jawabku.

"Sudah lumayan lama."

"Kau suka lagu ini?" tanyanya ragu.

"Jelas."

Akan sangat sulit berinteraksi dengan Jessica secara normal bila aku harus berusaha keras mengabaikan suara musiknya pula.

Maka aku pun mengangguk-anggukkan kepala, berharap gerakanku seirama dengan ketukan.

"Oke..." Jessica memandang ke luar kaca depan dengan mata melotot.

"Bagaimana hubunganmu dengan Mike belakangan ini?" aku buru-buru bertanya.

“Kau lebih sering ketemu dia daripada aku." Pertanyaanku tadi tidak membuatnya mulai mengoceh seperti yang kuharapkan bakal terjadi.

“Sulit ngobrol di tempat kerja," gumamku, lalu mencoba lagi–

"Ada cowok lain yang kencan denganmu belakangan ini?"

"Tidak juga. Kadang-kadang aku kencan dengan Conner Aku kencan dengan Eric dua minggu lalu." Jessica memutar bola matanya dan aku bisa merasakan adanya cerita yang panjang.

Kusambar kesempatan baik itu.

"Eric Yorkie? Siapa yang mengajak siapa?" Jessica mengerang, semakin bersemangat.

"Ya, dia dong tentu saja! Aku tidak tahu bagaimana menolak ajakannya dengan halus."

"Dia mengajakmu ke mana?" desakku, tahu ia akan menerjemahkan semangatku sebagai ketertarikan.

"Ceritakan semuanya." Jessica langsung nyerocos, dan aku duduk bersandar di kursiku, merasa lebih nyaman sekarang.

Aku menyimak ceritanya dengan saksama, sesekali menggumam bersimpati dan terkesiap ngeri bila diperlukan. Setelah selesai dengan cerita tentang Eric, ia melanjutkan dengan membandingkannya dengan Conner tanpa perlu diminta lagi.

Filmnya main lebih awal, jadi Jess mengusulkan supaya kami nonton pertunjukan sore dan sesudah itu baru makan. Aku senang-senang saja mengikuti semua kemauannya; bagaimanapun, aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan— menghindar dari Charlie.

Kubiarkan saja Jess terus mengoceh selama preview film-film baru, supaya aku bisa lebih mudah mengabaikannya. Tapi aku gugup waktu filmnya dimulai.

Sepasang kekasih berjalan menyusuri tepi pantai, bergandengan tangan dan mendiskusikan perasaan mereka dengan ekspresi penuh cinta yang memuakkan dan palsu. Kutahan diriku untuk tidak menutup telinga dan mulai berdendang. Aku kan tidak berniat nonton film cinta-cintaan

"Katanya film zombie," desisku pada Jessica

"Memang film zombie kok."

"Lantas, kenapa belum ada orang yang dimakan?" tanyaku putus asa.

Jessica memandangiku dengan mata membelalak lebar yang nyaris tampak ngeri.

"Aku yakin bagian itu pasti muncul sebentar lagi,” bisiknya.

"Aku mau beli popcorn dulu. Kau mau juga?"

"Tidak, terima kasih."

Seseorang di belakang kami ber-"sssttt". Aku sengaja berlama-lama di konter makanan, memandangi jam sambil berdebat dalam hati berapa persen dari film berdurasi sembilan puluh menit yang bisa dihabiskan untuk adegan cinta. Kuputuskan sepuluh menit sudah lebih dari cukup, itu pun aku menyempatkan diri berhenti sebentar di depan pintu teater untuk memastikan.

Terdengar suara jeritan membahana dari speaker, jadi tahulah aku, bahwa aku sudah cukup lama menunggu.

"Kau ketinggalan semuanya," gumam Jess waktu aku menyusup ke kursiku.

"Hampir semua orang sudah jadi zombie sekarang."

"Antreannya panjang." Kusodorkan popcorn-ku.

Ia mengambil segenggam.

Penutup Novel Twilight (New Moon)TERBANGUN Bab 25

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port TERBANGUN Bab 25 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya