Wednesday, February 23, 2022

Bab 22 Novel Twilight (NEW MOON) – TAMAT - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 22 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – TAMAT Bab 22

"Yeah, kami sudah menemukannya. Dia tidak apa-apa. Tersesat. Sekarang dia baik-baik saja," begitu kata Charlie berkali-kali. Aku mendengar per-per kursi berderit saat ia duduk di sana untuk menjagaku. Beberapa menit kemudian telepon kembali berdering.

Charlie mengerang saat bangkit dari kursinya dengan susah payah, kemudian menghambur, tersaruk-saruk, menuju dapur. Kubenamkan kepalaku lebih dalam ke bawah selimut, tak ingin mendengarkan pembicaraan yang sama lagi.

"Yeah," jawab Charlie, menguap. Suaranya berubah, terdengar jauh lebih waspada saat ia bicara lagi.

"Di mana?" Sejenak ia terdiam.

"Kau yakin itu di luar reservasi?" Terdiam lagi.

"Tapi apa yang bisa terbakar di sana?" Suaranya terdengar waswas bercampur bingung.

"Dengar, aku akan ke sana dan mengeceknya."

Aku mendengarkan, semakin tertarik, sementara Charlie menekan serangkaian nomor di telepon. "Hei, Billy, ini Charlie—maaf menelepon sedini ini... tidak, dia baik-baik saja. Sekarang dia tidur... Trims, tapi bukan itu alasanku menelepon.

Novel Twilight (NEW MOON)


Aku baru saja ditelepon Mrs. Stanley, dan katanya dari jendela tingkat dua rumahnya, dia bisa melihat api berkobar di tebing-tebing laut, tapi aku tidak benar-benar... Oh!" Mendadak suaranya berubah— nadanya terdengar jengkel... atau marah.

"Dan mengapa mereka berbuat begitu? He eh. Benarkah?" Charlie mengucapkannya dengan nada sarkastis. "Well, jangan meminta maaf padaku. Yeah, yeah. Pastikan apinya tidak menjalar ke mana-mana... Aku tahu, aku tahu, aku hanya

heran mereka bisa menyalakannya di cuaca seperti ini."

Charlie ragu-ragu sejenak, lalu dengan enggan menambahkan,

"Terima kasih sudah mengirim Sam dan anak-anak lain ke sini. Kau benar— mereka memang lebih mengenal kondisi hutan daripada kami. Sam-lah yang menemukannya, jadi aku berutang budi padamu... Yeah, kita bicara lagi nanti," Charlie menyanggupi, nadanya masih masam, sebelum menutup telepon.

Charlie menggerutu, kata-katanya tidak jelas, ia berjalan tersaruk-saruk kembali ke ruang duduk.

"Ada apa?" tanyaku.

Charlie bergegas menghampiriku. “Maaf membuatmu terbangun. Sayang"

“Ada yang terbakar, ya?"

“Tidak ada apa-apa," Charlie meyakinkan aku.

"Hanya api unggun di tebing-tebing sana."

“Api unggun?” tanyaku. Suaraku tidak terdengar ingin tahu. Nadanya mati. Charlie mengerutkan kening.

"Beberapa anak dari reservasi berulah aneh-aneh.” ia menjelaskan.

"Mengapa?" tanyaku muram.

Kentara sekali Charlie tidak ingin menjawab. Ia menunduk memandangi lantai di bawah lututnya. "Mereka merayakan kabar itu." Nadanya getir.

Hanya ada satu kabar yang terpikir olehku, meski aku berusaha untuk tidak memikirkannya. Kemudian potongan-potongan informasi itu mulai menyatu.

"Karena keluarga Cullen pergi," bisikku.

"Mereka tidak suka ada keluarga Cullen di La

Push—aku sudah lupa soal itu."

Suku Quileute percaya takhayul tentang "yang berdarah dingin" peminum darah yang merupakan musuh suku mereka, sama halnya dengan legenda mereka tentang air bah dan leluhur berwujud werewolf.

Hanya cerita, cerita rakyat, bagi sebagian besar mereka. Tapi ada segelintir yang percaya. Teman baik Charlie, Billy Black, termasuk yang percaya, walaupun Jacob, putranya, menganggapnya tolol karena percaya pada takhayul. Billy pernah mengingatkanku agar menjauhi keluarga Cullen...

Nama itu menggerakkan sesuatu dalam diriku, sesuatu yang mulai mencakar-cakar, berusaha muncul ke permukaan, sesuatu yang aku tahu tidak ingin kuhadapi.

"Konyol," gerutu Charlie

Sesaat kami hanya duduk berdiam diri. Langit tak lagi gelap di luar jendela. Di suatu tempat di balik hujan, matahari mulai terbit.

"Bella?" Charlie bertanya. Kupandangi ia dengan gelisah.

"Dia meninggalkanmu sendirian di hutan?” tanya Charlie.

Aku berkelit dari pertanyaannya. "Bagaimana Dad tahu ke mana harus mencariku?" Pikiranku mengelak dari kesadaran yang mau tak mau mulai datang, datang dengan cepat sekarang.

 "Pesanmu,” jawab Charlie, terkejut.

Ia merogoh saku belakang jinsnya dan mengeluarkan kertas kumal. Kertas itu kotor dan basah, dengan bekas lipatan silang-menyilang yang menandakan kertas itu sudah dibuka dan dilipat lagi berulang kali. Charlie membukanya lagi, mengangkatnya sebagai bukti. Tulisan cakar ayam di sana sangat mirip tulisanku sendiri.

Pergi jalan-jalan dengan Edward, menyusuri jalan setapak, begitu bunyi tulisannya. Sebentar lagi pulang, B.

"Waktu kau tidak pulang-pulang, aku menelepon

ke rumah keluarga Cullen, tapi tak ada yang mengangkat," cerita Charlie pelan.

"Lalu aku menelepon rumah sakit, dan dr. Gerandy memberi tahu Carlisle sudah pindah."

"Mereka pindah ke mana?" gumamku.

Charlie menatapku. "Edward tidak memberi tahu?"

Aku menggeleng, hatiku ciut. Mendengar namanya disebut seakan melepaskan sesuatu yang sejak tadi mencakari hatiku—rasa sakit yang membuatku tak bisa bernapas, terperangah oleh kekuatannya yang luar biasa.

Charlie memandangiku dengan sikap ragu saat menjawab.

“Carlisle menerima pekerjaan di rumah sakit besar di Los Angeles. Kurasa gajinya pasti sangat besar."

LA kota yang panas terik. Mustahil mereka benar-benar pindah ke sana. Aku teringat mimpi burukku dengan cermin itu... cahaya matahari berpendar-pendar dari kulitnya— Kepedihan mengoyak hariku saat aku teringat wajahnya.

"Aku ingin tahu apakah Edward meninggalkanmu sendirian di tengah hutan sana," desak Charlie.

Mendengar nama Edward membuatku sangat tersiksa. Aku menggeleng kalut, putus asa ingin lepas dari cengkeraman kepedihan itu. "Akulah yang salah. Dia meninggalkanku di jalan setapak, aku masih bisa melihat rumah ini... tapi aku mencoba mengikutinya.”

Charlie hendak mengatakan sesuatu; dengan sikap kekanak-kanakan aku menutup kedua telingaku.

"Aku tidak bisa membicarakan ini, Dad. Aku ingin ke kamarku."

Sebelum ayahku bisa menjawab, aku sudah menghambur turun dari sofa dan tersaruk-saruk menaiki tangga ke atas.

Seseorang datang ke rumah untuk meninggalkan pesan bagi Charlie. pesan yang menuntunnya untuk menemukanku. Sejak menyadari hal itu, kecurigaan sudah timbul di benakku. Aku menghambur ke kamarku, menutup pintu, dan menguncinya sebelum berlari ke CD player di samping tempat tidurku.

Semua masih tampak persis seperti sebelum aku meninggalkannya. Kutekan bagian atas CD player. Kaitannya terlepas, dan tutupnya perlahan mengayun terbuka.

Kosong.

Album yang diberikan Renee untukku tergeletak di lantai di samping tempat tidur, persis di tempat aku terakhir kali meletakkannya. Kubuka sampulnya dengan tangan gemetar. Aku hanya perlu melihat halaman pertama. Sudut-sudut logam kecil di dalamnya tak lagi menjepit foto.

Halamannya kosong, yang tertinggal hanya tulisan tanganku sendiri di bagian bawah: Edward Cullen, dapur Charlie, 13 September. Aku berhenti di sana. Sudah kuduga ia akan sangat cermat menghapus semua jejaknya. Nantinya akan terasa seolah-olah aku tak pernah ada.

Aku merasakan lantai kayu halus di bawah lututku, lalu telapak tanganku, kemudian menempel di kulit pipiku. Aku berharap bakal pingsan tapi sayangnya, ternyata aku tidak kehilangan kesadaran. Gelombang kepedihan yang tadi hanya menerpaku kini menerjang tinggi, menggulung kepalaku menyeretku ke bawah.

Aku tak muncul lagi di permukaan.

- OKTOBER

- NOVEMBER

- DESEMBER

- JANUARI

Penutup Novel Twilight (New Moon)TAMAT Bab 22

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port TAMAT Bab 22 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya