Sunday, February 20, 2022

Bab 2 Novel Twilight (NEW MOON) – PESTA - Baca Di Sini


Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 2 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – PESTA Bab 2 

Aku terbangun kaget—kelopak mataku terbuka lebar—dan terkesiap. Cahaya kelabu muram, cahaya matahari yang seperti biasa selalu tersaput mendung, menggantikan cahaya matahari yang terang benderang dalam mimpiku. Hanya mimpi, kataku dalam hati. Itu tadi hanya mimpi. Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian terlonjak lagi waktu alarmku berbunyi. Kalender kecil di sudut permukaan jam menginformasikan padaku hari ini tanggal tiga belas September.

Hanya mimpi, tapi di satu sisi setidaknya mimpi itu cukup meramalkan apa yang bakal terjadi di masa mendatang. Hari ini hari ulang tahunku. Aku genap delapan belas tahun. Berbulan-bulan lamanya aku sangat takut menantikan datangnya hari ini.

Sepanjang musim panas yang sempurna— musim panas paling membahagiakan yang pernah kualami, musim panas paling membahagiakan yang pernah dialami siapa pun di mana pun, sekaligus juga musim panas paling berhujan sepanjang sejarah kawasan Semenanjung Olympic—tanggal muram ini bergentayangan dalam diam, menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Dan kini setelah itu terjadi, ternyata jauh lebih buruk daripada yang kutakutkan bakal terjadi. Aku bisa merasakannya—aku lebih tua. Setiap hari aku bertambah tua, tapi ini lain, lebih parah, pertambahan usiaku diukur sekarang. Aku sudah delapan belas tahun.

Novel Twilight (NEW MOON)


Sementara Edward tidak akan pernah jadi delapan belas tahun.

Ketika sedang menggosok gigi, aku nyaris terkejut karena wajah yang terpantul di cermin tidak berubah. Kupandangi diriku, mencari tandatanda bakal munculnya keriput di kulitku yang seputih gading.

Tapi satu-satunya kerutan yang ada hanya di dahi, dan aku tahu kalau aku bisa rileks, kerutan itu akan hilang. Tapi aku tidak bisa. Alisku tetap terpatri membentuk garis khawatir di atas mata cokelatku yang waswas. Itu hanya mimpi, aku mengingatkan diriku lagi. Hanya mimpi... tapi juga mimpi burukku yang terburuk.

Aku melewatkan sarapan, terburu-buru ingin meninggalkan rumah secepat mungkin. Tapi aku tak sepenuhnya bisa menghindari ayahku, jadi terpaksalah aku meluangkan beberapa menit berlagak riang.

Aku benar-benar berusaha menunjukkan kegembiraan mendapat kado-kado yang sudah kuminta untuk tidak usah dibelikan, tapi setiap kali tersenyum, rasanya seakan-akan tangisku hendak pecah.

Aku bersusah-payah menahan diri saat mengendarai truk menuju sekolah. Sosok Gran tadi–aku tidak mau berpikir itu aku–sulit dienyahkan dari kepalaku. Aku tak bisa merasakan perasaan lain selain putus asa saat berbelok memasuki lapangan parkir di belakang gedung Forks High School dan melihat Edward bersandar tanpa bergerak di Volvo-nya yang mengkilat, bagaikan patung marmer dewa berhala keindahan

yang telah lama dilupakan orang. Ia bahkan lebih tampan daripada dalam mimpiku tadi. Dan ia di sana menungguku, seperti biasa setiap hari. Perasaan putus asa itu sesaat lenyap; digantikan rasa takjub. Bahkan setelah setengah tahun pacaran dengannya, aku masih belum percaya aku pantas memperoleh keberuntungan sebesar ini. Saudara perempuannya, Alice, berdiri di sebelahnya, menungguku juga.

Tentu saja Edward dan Alice bukan saudara kandung (di Forks ceritanya adalah, semua anak keluarga Cullen diadopsi dr. Carlisle Cullen dan istrinya, Esme, karena keduanya jelas terlalu muda untuk mempunyai anak remaja), tapi mereka sama-sama berkulit putih pucat, mata mereka juga sama-sama memiliki secercah warna keemasan yang aneh, dengan bayangan gelap menyerupai memar di bawahnya.

Wajah Alice sama seperti Edward, juga sangat indah. Bagi orang yang tahu— seperti aku—kemiripan itu menunjukkan siapa mereka sesungguhnya.

Melihat Alice menunggu di sana—mata cokelatnya bersinat-sinar girang, tangannya menggenggam benda segi empat kecil terbungkus kertas warna perak—membuat keningku berkerut. Aku sudah memberi tahu Alice aku tidak menginginkan apa-apa, apa pun, baik itu kado maupun perhatian, untuk hari ulang tahunku.

Jelas, keinginanku ternyata diabaikan. Kubanting pintu Chevy '53 milikku—kepingan kecil karat beterbangan mengotori baju hitamku yang basah—dan berjalan lambat-lambat

menghampiri mereka. Alice berlari cepat menghampiriku, wajah mungilnya berseri-seri di bawah rambut hitamnya yang jabrik.

"Selamat ulang tahun, Bella!"

"Ssstt!" desisku, memandang berkeliling untuk memastikan tak ada yang mendengar perkataannya barusan. Hal terakhir yang kuinginkan adalah perayaan dalam bentuk apa pun untuk memperingati hari muram ini. Alice tak menggubrisku. "Kau mau membuka kadonya sekarang atau nanti saja?" tanyanya penuh semangat sementara kami menghampiri Edward yang masih menunggu.

"Tidak ada kado-kadoan," protesku. Sepertinya Alice akhirnya bisa mencerna suasana hatiku yang buruk. "Oke... nanti saja, kalau begitu. Kau suka album kiriman ibumu? Dan kamera dari Charlie?"

Aku mendesah. Tentu saja ia tahu aku dapat kado apa saja. Bukan hanya Edward satu-satunya anggota keluarga mereka yang memiliki kemampuan istimewa. Alice pasti bisa "melihat" apa yang ingin diberikan kedua orangtuaku begitu mereka memutuskannya sendiri.

"Yeah. Kadonya bagus-bagus."

"Menurutku idenya bagus sekali. Kau kan hanya satu kali jadi murid senior seumur hidupmu. Jadi ada baiknya pengalaman itu didokumentasikan " "Kau sendiri, sudah berapa kali jadi murid senior?"

"Itu lain."

Saat itu kami sudah sampai di tempat Edward, dan ia mengulurkan tangan padaku. Aku menyambutnya dengan penuh semangat, sejenak melupakan suasana hariku yang muram.

Kulit Edwatd, seperti biasa. licin, keras, dan sangat dingin.

Dengan lembut diremasnya jarijariku. Kutatap mata topaz-nya yang berkilauan, dan hatiku bagai diremas keras-keras. Mendengar detak jantungku yang kencang, Edward tersenyum lagi.

Ia mengangkat tangannya yang bebas dan menelusuri bagian luar bibirku dengan ujung jarinya yang dingin sambil bicara

"Jadi, sesuai hasil pembicaraan, aku tak boleh mengucapkan selamat ulang tahun padamu, benar begitu?"

"Ya. Itu benar," Aku tidak pernah bisa menirukan cara bicaranya yang mengalun serta artikulasinya yang sempurna dan formal. Kemampuan yang hanya bisa dipelajari pada abad lalu.

 

Penutup Novel Twilight (New Moon)PESTA Bab 2

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port PESTA Bab 2 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.


Selanjutnya
Sebelumnya