Tuesday, February 22, 2022

Bab 13 Novel Twilight (NEW MOON) – JAHITAN - Baca Di Sini

Novel Twilight (New Moon), ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight (New Moon) Bab 13 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight – JAHITAN Bab 13

"Tidak apa-apa," Kudekap kado-kado itu dengan kikuk di bawah lenganku yang tidak terluka, lalu membanting pintu mobil. Kurang dari satu detik Edward sudah keluar dari mobil dan berdiri di sampingku.

"Biar kubawakan paling tidak," katanya sambil mengambil kado-kado itu dari pelukanku.

"Aku akan menemuimu di kamarmu."Aku tersenyum.

"Trims."

"Selamat ulang tahun," bisik Edward, lalu membungkuk untuk menempelkan bibirnya ke bibirku.

Aku berjinjit agar bisa berciuman lebih lama, tapi Edward melepaskan bibirnya. Ia menyunggingkan senyum separonya yang sangat kusukai itu, lalu menghilang di balik kegelapan. Pertandingan masih berlangsung; begitu berjalan memasuki pintu depan, aku langsung bisa mendengar suara komentator meningkahi soraksorai penonton di televisi.

"Bell?" seru Charlie.

"Hai, Dad," balasku, muncul dari sudut ruangan. Kurapatkan lenganku ke sisi tubuh. Tekanan itu membuat lukaku berdenyut-denyut, dan aku mengerutkan hidung. Anestesinya mulai kehilangan pengaruhnya ternyata.

Novel Twilight (NEW MOON)


"Bagaimana pestanya?" Charlie tidur-tiduran di sofa dengan kaki ditumpangkan di lengan sofa. Rambut cokelat keritingnya kempis di satu sisi.

"Alice merajalela. Bunga, kue tart, lilin, kado— pokoknya komplet."

"Mereka memberimu kado apa?"

"Stereo untuk trukku." Dan beberapa kado lain yang belum diketahui isinya.

"Wow"

"Yeah," aku sependapat.

"Well, aku mau tidur dulu."

"Sampai besok pagi." Aku melambaikan tangan.

"Sampai besok."

"Lenganmu kenapa?" Wajahku kontan memerah dan mulutku memaki

"Aku tadi tersandung. Nggak apa-apa kok"

"Bella," Charlie mendesah, menggelenggelengkan kepala.

"Selamat malam, Dad."

Aku bergegas masuk ke kamar mandi, tempatku menyimpan piamaku sebagai persiapan untuk malam-malam seperti ini. Aku memakai tank top dan celana katun sebagai ganti sweter bolongbolong yang biasa kupakai tidur, meringis saat gerakanku membuat jahitan di lenganku tertarik. Dengan satu tangan aku mencuci muka, menyikat gigi, lalu cepat-cepat masuk ke kamar.

Ia sudah duduk di tengah-tengah tempat tidur, malas-malasan mempermainkan salah satu kado perakku.

"Hai," sapanya. Suaranya sedih. Ia masih menyalahkan dirinya sendiri.

Aku naik ke tempat tidur, menyingkirkan kadokado itu dan tangan Edward, lalu naik ke pangkuannya.

"Hai," Aku meringkuk di dadanya yang sekeras batu.

"Boleh kubuka kadoku sekarang?"

"Mengapa tahu-tahu kau antusias begini?" tanyanya.

"Kau membuatku ingin tahu."

Kuambil kotak persegi panjang tipis yang pasti kado dari Carlisle dan Esme.

"Biar aku saja," saran Edward.

Diambilnya kado itu dan tanganku dan dirobeknya kertas perak pembungkusnya dengan satu gerakan luwes. Lalu ia menyodorkan kotak putih persegi empat itu padaku.

"Kau yakin aku bisa mengangkat tutup kotaknya?" sindirku, tapi Edward tak mengacuhkan sindiranku.

Kotak itu berisi selembar kertas panjang dan tebal, penuh berisi tulisan. Butuh waktu semenit baru aku bisa mencerna informasi yang tertulis di sana.

"Kita akan pergi ke Jacksonville?" Aku girang

bukan main, meski sebenarnya tidak ingin. Kadonya berupa voucher tiket pesawat, untukku dan Edward.

"Begitulah idenya."

"Aku tak percaya. Renee bakal girang setengah mati! Tapi kau tidak keberatan, kan? Di sana

panas terik, jadi kau harus berada di dalam rumah seharian"

"Kurasa itu bisa diatasi," kata Edward, tapi keningnya berkerut.

"Seandainya aku tahu kau akan bereaksi seperti ini, aku akan menyuruhmu membukanya di depan Carlisle dan Esme. Kusangka kau bakal protes."

"Well, tentu saja ini berlebihan. Tapi aku bisa pergi bersamamu!"

Edward tertawa kecil. "Tahu begitu, aku akan mengeluarkan uang untuk membeli kadomu. Ternyata kau masih bisa berpikir sehat." Aku menyingkirkan tiket-tiket itu dan meraih kado dari Edward, rasa ingin tahuku muncul lagi.

Edward mengambilnya dariku dan membuka bungkusnya seperti kado pertama tadi. Ia menyerahkan padaku kotak CD bening, dengan CD kosong di dalamnya.

"Apa ini?" tanyaku, heran.

Edward tidak berkata apa-apa; dikeluarkannya CD itu lalu dimasukkannya ke CD player di atas nakas.

Tangannya menekan tombol play dan kami menunggu dalam kesunyian. Lalu musik mulai mengalun.

Aku mendengarkan, tak mampu berkata apaapa, mataku terbelalak lebar. Aku tahu ia menunggu reaksiku, tapi aku tak sanggup bicara. Air mataku menggenang, dan aku mengangkat tangan untuk menyekanya sebelum jatuh menetes di pipi.

“Lenganmu sakit?” tanya Edward waswas.

"Tidak, ini bukan karena lenganku. Indah sekali, Edward. Tak ada kado lain yang bisa kauberikan yang lebih kusukai daripada ini. Aku tak percaya." Lalu aku diam, supaya bisa mendengarkan.

CD itu berisi rekaman musiknya, komposisinya.

Musik pertama di CD itu adalah lagu ninaboboku.

“Kupikir kau tidak akan membiarkanku membelikanmu piano supaya aku bisa memainkannya untukmu di sini," Edward menjelaskan.

"Kau benar"

"Lenganmu bagaimana?"

"Baik-baik saja," Sebenarnya, lukaku mulai terasa panas di balik perban. Aku ingin mengompresnya dengan es batu. Sebenarnya aku bisa menggunakan tangan Edward, tapi itu bakal membuatnya tahu aku kesakitan.

"Aku akan mengambilkan Tylenol untukmu."

"Aku tidak butuh apa-apa," protesku, tapi Edward sudah menurunkan aku dari pangkuannya dan berjalan ke pintu.

"Charlie," desisku. Charlie tidak tahu Edward sering menginap di kamarku.

Sebenarnya, bisabisa ia terserang stroke bila aku memberi tahunya. Tapi aku tidak merasa terlalu bersalah telah memperdaya ayahku. Soalnya, kami toh tidak melakukan apa-apa yang dilarang olehnya. Edward dan aturan-aturannya...

“Dia tidak akan menangkap basah aku," janji Edward sebelum lenyap tanpa suara di balik pintu... dan kembali sejurus kemudian, memegangi pintu sebelum sempat menutup kembali.

Ia memegang gelas kumur yang diambilnya dari kamar mandi serta sebotol pil di satu tangan. Aku menerima pil-pil yang disodorkannya tanpa membantah—aku tahu paling-paling aku bakal kalah berdebat dengannya. Dan lenganku mulai benar-benar nyeri.

 

Penutup Novel Twilight (New Moon)JAHITAN Bab 13

Gimana Novel twilight (New Moon) – Port JAHITAN Bab 13 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol navigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya